Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KELUARGA DAN HARAPAN

Oleh : Nety Novita Hariyani

Bermula dari sebuah rasa, mengakar sedemikian kuatnya. Menjelma layaknya benih-benih cinta yang tumbuh tanpa rasa curiga. Diikat oleh janji suci yang sah. Hadir buah hati yang menjadi pelengkap senyum dan tawa dalam sebuah keluarga setelahnya. Akan selalu ada tawa yang membekas, akan selalu ada tangisan yang keras, tapi tak menjadi penghalang untuk selalu tersenyum bebas.

Sang buah hati akan tumbuh dewasa suatu saat. Bukan malah menjadi suatu beban, melainkan menjadi dorongan bagi orang tua untuk terus bersemangat dalam bekerja keras demi masa depan yang diimpikan. Pemikiran orang tua pada dasarnya sama, dari hal yang paling sederhana dengan membahagiakan, menaruh rasa cinta sepenuhnya, juga rela bercucur keringat untuk pendidikan anaknya. Namun keegoisan akan dunia, sering membuat sebagian orang tua mudah terperangkap oleh kebahagiaan-kebahagiaan semu sehingga lupa akan kewajiban yang sesungguhnya.

Tak jarang di kemudian hari, orang tua menyesal akan kelalaiannya dalam berinvestasi untuk masa tua pun masa depan anaknya. Mubadzir dalam berbagai hal tentunya berdampak buruk untuk kehidupan setiap insan kedepannya. Tapi berlebihan dalam merencanakan untuk masa tua pun tak baik juga, biasa saja atau bisa dikatakan seimbang antara kehidupan di masa sekarang dan planning untuk masa mendatang.

Ayah, kepala keluarga yang rela banting tulang. Meski terkadang berwatak keras, bukan berarti ia tak sayang. Rasa sayangnya dicurahkan lewat kemahirannya dalam memberi nasehat. Nasehat yang akan membekas hingga relung hati yang paling dalam. Seringkali sang anak tak sadar, bahkan yang paling buruk pun pernah menganggap ayah adalah orang yang tak mengerti kemajuan zaman, “Kuno” katanya. Padahal jika ditelik lebih jauh, ayahlah yang paling paham perihal apa yang akan terjadi kedepan, sehingga lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama pada anak perempuan.

Ibu, kehadirannya akan selalu dinantikan, perihalnya tertata rapi di dalam hati. Merinduinya tak diragukan lagi, disetiap detik denyut nadi. Sosok yang tak akan ada habisnya dalam mendeskripsikannya. Dari awal pengorbanannya sudah terlampau besar, hingga merawat sang anak pun penuh sabar. Di setiap masalah, ibu adalah pemecahnya. Bahkan, ibu yang lebih utama untuk diperlakukan dengan baik ketimbang ayah. Namun bukan berarti ayah tak diperlakukan dengan baik, hanya saja itu membuktikan betapa tingginya derajat seorang ibu.

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

Selagi kedua orang tua masih diberi kesempatan, tak terkira harapan yang tercurahkan. Kesempatan untuk memantau sang anak tak disia-siakan, namun tak juga mengekang atas apa yang orang tua inginkan. Menaruh harapan begitu besar dengan percaya akan keberhasilan anak, mandiri atas permintaanya menuju kedewasaan. Kedewasaan berpikir akan menuntun sang anak menuju keberhasilan. Itulah makna harapan sesungguhnya, biarkan sang anak kreatif dalam mengembangkan kemampuan tanpa ada pemaksaan dari siapapun.

9 dzulhijjah 1440 H,






Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar