Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IMPLEMENTASI SANTRI PADA ERA MILLENIAL

Oleh : Muhammad Hadiyan

Berbicara mengenai Islam dari perspektif ilmu pengetahuan, tentunya tak luput dari  sejarah di masa bani Abbasiyah khususnya ketika khalifah Harun ar Rasyid, di mana pada zaman itu peradaban Islam sangat maju dan menjadi kiblat ilmu pengetahuan dari seluruh dunia khususnya bangsa Eropa. Banyak orang Eropa belajar dan mengajar di Mesir. Para ilmuwan dan cendekiawan dari berbagai daerah asal, semangat dalam melakukan penelitian suatu hal, terlebih lagi ditunjang oleh Khalifah, bagi para ilmuwan dan cendekiawan beserta keluarganya maka hidupnya ditanggung oleh negara. Pasti seorang ilmuwan dan cendekiawan tidak akan miskin.

Mereka menjadi ilmuwan, tidak luput dari perjuangan mati - matian dalam menuntut ilmu. Banyak tantangan, hambatan, dan rintangan yang harus mereka lalui. Rasa bosan, kantuk, dan capek dalam menuntut ilmu merupakan masalah bagi seorang penuntut ilmu. Tetapi para ilmuwan di zaman Khalifah Harun ar Rasyid memiliki semangat yang tinggi dan keuletan dalam menuntut ilmu. Tidak peduli dengan segala halang rintang yang menghadang. Kunci sukses dari seorang penuntut ilmu adalah tirakat (dalam istilah mashur di jawa), dari asal kata tarika - yatruku yang berarti meninggalkan, supaya mendapat kemuliaan. Hal ini lah yang harus diteladani jika sebagai seorang penuntut ilmu.

 Sistem pendidikan islam di negara Indonesia yang biasa dikenal adalah pesantren. Seorang penuntut ilmu tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh kyai. Semua aktivitas sehari-hari apapun dilakukan di sana. Orang yang menuntut ilmu di pesantren biasa dikenal dengan istilah santri. Santri di pesantren diajarkan banyak hal, yang utama dan pertama adalah sikap ta'dzim kepada seorang ustadz. Inilah yang harus diutamakan dalam menuntut ilmu. Islam sangat mengutamakan akhlaq daripada ilmu. Banyak pemuda yang notabenenya seorang sarjana maupun doktor tetapi memiliki akhlaq tidak baik. Justru ini sangat disayangkan. Padahal ilmu mereka dengan kata lain sudah setinggi langit namun akhlaq tidak baik. Di sinilah peran santri dalam menjadi teladan di masyarakat. Mereka harus masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, dan mengingatkan jika melenceng dari syariat.

Santri harus mempersiapkan dirinya untuk terjun di masyarakat. Tak cukup ilmu agama tetapi harus diberangi dengan ilmu-ilmu lain khususnya Akhlaq. Di pesantren pun santri juga diajarkan hidup tidak enak, tidak nyaman seperti dirumah bersama keluarga. Mereka harus hidup mandiri layaknya seorang pemuda yang hidup di tengah-tengah masyarakat heterogen. Masyarakat menilai santri dari segi tindak tanduk bukan dari nilai rapot maupun ijazah bersandang cumlaude.

Di era millenial saat ini, santri harus tetap menjaga eksistensi layaknya seorang santri. Bagaimana tidak, banyak santri tergoda untuk “memijat” gadget. Khususnya ketika nongkrong sembari ngopi bersama kawan serta jaringan WiFi yang setia menemani di warung kopi. Tantangan inilah yang harus dihadapi seorang santri. Bukan fasilitas yang salah melainkan santri harus bersikap merdeka dari segala teknologi. Dengan teknologi santri bisa terlena dan dimanjakan. Tanpa sadar, teknologi bisa membuat santri terbiasa hidup enak, dengan kata lain "surga dunia". Apapun bisa dilakukan santri tanpa usaha yang berarti. Tidak bisa masak bisa pesan makanan secara online, mau pergi bisa dengan ojek online, paling bahaya jika kita ingin tahu jawaban dari suatu masalah, dengan mudahnya bisa merujuk pada internet, tidak pada ustadz yang memiliki ilmu bersanad yang jelas. Di internet, penjelasan mengenai agama Islam khususnya tidak memiliki sumber yang jelas. Tentu saja ilmu yang didapat dari penjelasan internet tidak barokah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Maka dari itu seorang santri harus membentengi diri dengan cara tirakat, meninggalkan sesuatu untuk kemuliaan dan mengharap ridho Allah tanpa tendensi apapun.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar