Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IKATAN


Oleh : Hilmi

Di pagi hari yang sangat dingin aku terbangun karena mendengar bisingnya suara yang ada di sekitarku, kemudian kulihat jam yang masih menunjukan pukul 02:30 pagi. Dengan mata yang masih sangat berat untuk dibuka kupaksa diriku untuk bangun dan duduk agar menghilangkan kantuk, aku duduk di depan lemari masih dengan mata yang tersayup-sayup. “Kenapa berisik sekali padahal jam masih menunjukan pukul 02:30 dini hari” ,pikirku dalam hati. Kemudian aku mulai sadar asal dari bisingnya suara itu, ternyata suara itu adalah suara para ustadz yang sedang membangunkan para santrinya, “oh ya sekarang aku lagi dipondok” ,pikirku dalam hati.

Aku pun bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan untuk melaksanakan shalat malam, yang memang sudah menjadi kebiasaan para santri di pesantren yang aku tinggali saat ini. Ya, sekarang aku tinggal atau sedang menuntut ilmu di salah satu pesantren yang ada di salah satu kita di provinsi jawa timur. Pesantren yang kutinggali saat ini adalah pesantren dengan basis tahfidzul qur’an atau bisa di sebut pesantren dengan basis untuk menghafal Al-qur’an.

Di pesantren ini sangatlah fokus dengan apa yang memang menjadi basisnya yaitu menghafalkan Al-qur’an, pernah aku mendengar perkataan kyaiku ketika beliau memberikan sambutan untuk para santri baru, belau mengatakan “Kalian mendaftar di pesantren ini dengan tujuan untuk menghafal Al-qur’an, dan disini hal yang paling penting yang harus kalian perhatikan adalah: yang pertama yaitu tahfidzul qur’an, yang kedua tahfidzul qur’an, ketiga tahfidzul qur’an, ke empat pun juga begitu tahfidzul qur’an barulah ntuk yang ke lima belajar”.

Setelah aku melaksanakan shalat malam aku pun langsung menuju masjid untuk mempersiapkan hafalan yang akan aku setorkan kepada ustadzku hari ini juga untuk melaksanakan shalat shubuh berjama’ah. Sekitar pukul  06:00 aku pun muali menyetorkan hafalanku yang tadi telah kupersiapkan, untuk setoran hafalan Al-qur’an di pagi hari sampai  pukul 07:00 itupun hanya untuk para santri yang sukses menyetorkan hafalanya. Karena ada saja santri yang tidak dapat menyetorkan hafalanya karena sebelum ustadz datang bukanya mereka mempersiapkan hafalan ada saja yang mereka lakukan kalo gak tidur ya ngobrol sama teman yang ada di sebelahnya dan alhasil mereka tidak menghafal satu ayat pun, aku pun sama halnya dengan teman-teman yang lain tapi munin hari ini aku hanya beruntung karena aku tidak tidur.

Untuk kegiatan yang ada di pesantren ini dari setelah shubuh menghafalkan Al-qur’an sampai dengan pukul 07:00 pagi dan dilanjutkan pergi ke sekolah sampai pukul 11:45 dan dilanjutkan shalat berjama’ah di masjid dan pada pukul 13:00  di haruskan bagi para santri untuk tidur siang sampai pukul 14:30 kemudian menunaikan ibadah shalat ashar berjama’ah dan di lanjutkan muroja’ah hafalan yang telah di hafal, kemudian setelah shalat maghrib pun memuroja’ah hafalanya kembali sampai pukul 20:00. Setiap hatinya pun seperti itu.
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat seakan hanya sekejap 2 tahun pun berlalu dan sekarang aku menduduki kelas 3 smp, di masa ini adalah masa yang malas-malasnya untuk mematuhi atau mengikuti kegiatan yang sudah di tentukan oleh pesantren, hal tersebut kudengar dari perkataan kakak kelas yang sudah lulus ketika aku menduduiki banku kelas 2 smp.

Terbykti apa perkataan yang di ucapkan oleh kakak kelasku tersebut sekarang aku merasakanya begitu pula teman-temanku. Aku pun mulai jarang atau hampir tidak pernah menghafal dan menyetorkan hafaln Al-qur’an ku lagi, aku malah sering ngobrol, tidur dan main-main bersama teman sekelompok ngajiku.

Hingga pada suatu malam ketika mengaji ba’da maghrib aku mengobrol dengan temanku sampai lelah dan bingung mau membicarakan apa lagi, kemudian kuputuskan untuk tidur saja. “Fah entar bangunin aku ya kalo sudah mau shalat isya’...” kataku pada teman yang aku ajak bicara tadi. “oh, ok entar aku banguni santai aja” katanya, Lalu aku pun tertidur.

Ketika aku tidur tersebut aku pun bermimpi, tiba-tiba aku melihat ayahku mendatangiku dan ia mengatakn “Ayo tangi ojo turu terus le, ngajio sa’aken ibukmu”, aku pun terkaget dan langsung terbangun dari tidurku tersebut, lalu aku berfikir apa maksud dari mimpi tadi, tapi setelah aku berfikir sangat lama aku tidak menemukan jawabanya tapi aku masih merasa kurang enak di dalam benaku, aku pun berfikir pisotif saja ibuku sedang mendo’akan ku agar tidak menjadi malas, dan aku pun mulai melupakan mimpi tersebut.

Hingga pada hari ahad, hari orang tuaku menjenguk pun tiba. Pagi-pagi sekali setalh melaksanakan kegiatan membersihkan pesantren bersama-sama aku pun langsung mandi dan bersiap-siap untuk menemui orang tuaku. Setelah mandi aku pun langsung menuju ke tempat orang tuaku menjenguk, aku memasuki mobil aku bingung kenapa hanya ada ayahku, bulek, dan juga adikku. Aku pun bertanya kepada ayahku,” yah teng pundi ibuk kok mboten nderek kok namung sareng kaleh bulek” kataku, “ ibuk mboten nderek le wonten penggawean teng nggriyo” kata ayah ku. “Oalah ....!”. Tapi aku masih merasa ada sesuatu yang sebenarnya tidak dikatakan oleh ayahku, “Ya sudahlah, mungkin memang ibuk lagi sibuk” pikirku dalam hati.

Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat dan aku lulus dari pesantren tersebut, walaupun dengan hasil yang setengah-setengah dan tidak maksimal, Alhamdulillah aku masih bisa mendapat hafalan yang cukup banyak, walaupun tidak sebanyak teman-temanku yang lain, yang notabenya memang anak-anak yang sangat cerdas sampai-sampai ada dua anak yang di juluki sebagai anak ajaib, karena mereka keseharianya sangatlah banyak bermain-main dan mungkin hampir tidak memuroja’ah hafalanya tapi masih tetap lancar.

Ketika aku sudah sampai di rumah aku bertemu dengan neneku terlebih dahulu, lalu neneku menceritakan kepadaku bahwa beberapa bulan yang lalu bahwa ibuku menderita penyakit yang sangat parah karena ketika akan tidur kepala ibuku terbentur dinding dan setelah beberapa minggu ibuku mengatakan bahwa kepalanya terasa pusing hingga akhirnya di bawa ke rumah sakit oleh ayahku dan setelah di periksa dokter mengatakan bahwa ibuku harus tinggal di rumah sakit untuk dirawat. Beberapa hari di rawat di rumah sakit, ibuku sudah tidak biasa makan sendiri sehingga di suapi oleh ayah juga kakaku dan juga kepala ibuku di penuhi dengan selang-selang yang aku tidak tahu apa kegunaan hal tersebut. Setelah mendengar cerita neneku aku pun langsung bergegas kembali menuju rumah.

Beberapa hari kemudian aku mulai berfikir dan teringat dengan mimpi yang aku dapat ketika masih di pesantren. Apakah itu yang dinamakan ikatan seorang ibu dengan anaknya walaupun jarak memisahkan dengan sangat jauh, ikatan batin masihlah ada, dengan berbagai macam hal atau kejadian yang terjadi dan kita alami yang mengingatkan kita dengan ibu kita begitu pula sebaliknya antara ibu dan anak. Alhamdulillah sesuatu yang tidak kuinginkan tidak terjadi, terima kasih ya Allah karena telah memberi rahmat dan kasih sayangmu kepada ibuku.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar