Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HUBUNGAN ANTARA CINTA DOA DAN KUASA ALLAH (2)


Oleh Ilman Mahbubillah

Lanjutan dari tulisan sebelumnya, tulisan ini juga masih membahas tentang Hubungan cinta, doa, dan kuasa Allah. Dalam tulisan sebelumnya sudah dijelaskan salah satu asror atau rahasia yang terkandung dalam suatu doa hamba pada tuhannya, maka dalam tulisan kali ini akan melanjutkan penjelasan terkait dengan hubungan doa dengan cinta dan kuasa Allah.
Yang pertama adalah cinta, doa, dan kuasa Allah ini mempunyai kaitan erat yang tidak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lain. Tentunya perihal kekuasaan Allah yang sudah barang tentu mencakup seluruh hal yang ada di alam semesta ini. Namun menarik jika melihat perbandingan perbedaan antara kuasa Allah terhadap sesuatu dengan kuasa Allah tehadap doa hambanya.
Bisa dikatakan bahwasannya doa bisa menjadi senjata paling mujarab bagi seorang manusia terkhusus seorang muslim. Bila saat ini sedang musim haji, tentunya banyak orang muslim yang juga menginginkan pergii berhaji. Terkadang kita membayangkan bagaimana kita berhaji sedangkan harta yang kita punya bahkan untuk makan saja kita bercukupan. Dan juga walaupun kita mempunyai cukup harta pun kita harus mengantri beberapa tahun untuk berhaji.
Maka si fulan berdoa Yaa Rabb, di tahun yang akan datang panggil lah aku untuk datang ke Baitullah untuk menunaikan rukun agama-Mu. Maka ketika dalam berdoa hendaknya kita percaya dengan sepenuh hati akan kuasa Allah. Terkadang Allah mengijabahi doa hamba-Nya dengan cara yang istimewa dan tak teduga, bahkan seringkali tak kita sadari dalam hidup kita yang sekarang bahwasannya Allah baru mengijabahi doa-doa kita yang telah lalu.
Seperti kisah Imam Ahmad ibnu Hambal yang sebelumnya, kisah ini dikutip dari perkataan Habib Ahmad Al Habsyi menceritakan ketika dahulu ada seorang dokter yang terkenal di Syiria, ahli dalam bidang syaraf dan pertulangan, ia bernama Hisyam. Setiap orang-orang datang dari negara lain untuk berobat padanya, hingga suatu saat ia diundang seminar di suatu negara. Lalu berangkatlah ia dengan menaiki pesawat, hingga tibalah ketika suatu kuasa Allah yang luar biasa.
Dikarenakan cuaca yang buruk, akhirnya pesawat yang ditunggangi oleh dokter Darwis ini melakukan pendaratan di suatu daerah yang mana daerah itu adalah daerah terpencil. Kebetulan saat itu ia hendak menunaikan sholat Dhuhur sebelum habis waktu, parahnya bahkan setelah mengelilingi bandara ternyata tidak ditemukan tempat sholat. Akhirnya ia memutuskan mencari rumah terdekat dengan bandara untuk sekedar Sholat dan beristirahat sebentar sampai cuaca memungkinkan dan melanjutkan perjalanan.
Tibalah Dokter Darwis di suatu rumah yang reot nan kusam, lalu diketuklah pintunya. Muncul seorang nenek dari dalam lalu dokter menjelaskan tujuannya hanya untuk sekedar Sholat dan beristirahat sejenak dan nenek mempersilahkannya masuk, nenek itu menunjukkan kamar mandi serta menyiapkan sajadah setelah itu nenek kembali duduk dan berdzikir disamping cucunya.
Selepas sholat, dokter penasaran kemudian menanyakan apakah cucu nenek itu sudah meninggal atau bagaimana, sebab memang ia tak bergerak sama sekali, lalu kemanakah orang tuanya, kenapa hanya ada nenek yang ada disini. Namun ketika dokter mendekat, ternyata masih mengedipkan mata seraya mulut yang juga selalu berdzikir.
Nenek itu menjawab, "Orang tuanya sudah meninggal, hanya ada aku yang merawatnya disini, cucuku terkena penyakit kelainan entah itu disyarafnya atau tulangnya yang menjadi sabab ia tak bisa bergerak. Dan menurut para tetangga dan masyarakat disini ada seorang dokter masyhur di daerah Syiria yang dapat mengobati penyakitnya. Aku berfikir bagaimana bisa aku melakukan perjalanan ke negeri Syiria sementara aku miskin, hanya untuk makan sehari-hari aku sudah kekurangan. Namun aku selalu punya Allah, walaupun bukan dengan dokter itu, aku yakin bahwa cucuku bisa sembuh dengan pertolongan Allah." Kemudian bergetar badan dan menangislah Dokter Darwis.
Melihat keadaan ini dokter heran,  bagaimana kuasa Allah menakdirkan cuaca buruk lalu turun di bandara yang tidak terdapat tempat sholat, kemudian mengirimnya ke rumah ini dan dipertemukan dengan seseorang yang sangat sabar, sangat teguh, sangat membutuhkan pertolongan. Kenapa engkau menangis? tanya nenek padanya. Lalu ia menceritakan yang telah terjadi, dan membuka bahwa dia lah yang diceritakan para tetangga dan warga.
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwasannya ketika kita berdoa memohon pada Allah hendaknya menghilangkan rasa memaksa seakan-akan menuntut Allah untuk mengabulkan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun dicontohkan oleh nenek ini dia tidak menuntut Allah agar bisa menyembuhkan cucunya dengan harus menghadirkan dokter itu.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar