Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Hubungan antara Cinta Doa dan Kuasa Allah

Oleh : Ilman Mahbubillah

Lanjutan dari tulisan sebelumnya (Hasil Ngaji) tentang 4 perkara yang Allah berikan kepada Bani Adam untuk memudahkan meraih seluruh tempat kebaikan yang ada didalam kehidupan. Yang salah satunya adalah hubungan antara manusia dengan Allah, dalam hal ini adalah perihal doa dan permohonan. Maka dalam tulisan ini penulis akan sedikit mengulas tentang doa.

Jika diartikan secara bahasa doa bermakna seruan atau panggilan, mengucap, memohon. Sedangkan dalam istilah yakni seruan permohonan yang diucapkan atau dihaturkan pada Allah sebagai Tuhan yang maha segala. Terkadang manusia menggunakan doa ini untuk meminta ampun atas dosa, rezeki yang halal nan barokah, maupun meminta pertolongan atas segala kesulitan yang dialami seorang hamba dalam hidupnya.

Dalam hal ini nampak bahwasannya jelas manusia adalah makhluk yang sangat lemah yang tidak patut untuk memiliki sifat sombong. Dijelaskan dalam tulisan yang lalu bahwasannya kadar hubungan seorang hamba dengan Allah dapat diukur dengan seberapa banyak dan seringnya ia dalam berdoa. Semakin banyak ia berdoa dalam tanda kutip seperti menghubungi Allah yakni mengetuk pintu Allah melalui doa , maka Allah akan semakin cinta akan hamba tersebut.

Sepenggal kisah yang sering kita dengar tentang Imam Ahmad Ibnu Hambal ketika bangun dari tidur tiba tiba merasa sangat resah dalam hal ini seperti beliau tiba-tiba ingin mengunjungi suatu tempat yang dalam hal ini beliau tidak tahu mengapa hatinya ingin sekali yang akhirnya beliau memutuskan untuk benar benar pergi. Sesampai di tempat itu beliau kebingungan untuk melakukan apa, karena memang yang membuat beliau sampai kesana hanyalah hatinya.

Sampai tiba waktu sholat lalu beliau ikut sholat dalam suatu masjid. Beliau sholat seperti biasanya, dan tentunya tidak meninggalkan dzikir yang memang beliau selalu memulazamahkannya. Selesai dari itu, karena keadaan yang sudah malam yang tidak memungkinkannya untuk kembali pulang, maka Beliau memutuskan untuk sementara beristirahat dan tidur dimasjid itu setidaknya sampai besok pagi dan kembali pulang.

Ketika beliau sudah hendak tidur, sontak ada seorang takmir masjid yang memarahinya tanpa mengetahui siapa beliau sebenarnya dengan melarang untuk tidur dalam masjid yang kodratnya adalah tempat untuk beribadah pada Allah. Dalam keadaan ini menunjukan bahwasannya beliau adalah seorang yang tawadhu’ nya luar biasa. Dalam hal ini ditunjukkan ketika selepas dimarahi, lantas beliau memohon pada takmir itu untuk diizinkan setidaknya satu malam saja.

Dengan menghilangkan rasa bahwasannya beliau adalah Ulama’ besar, beliau turun dan memohon kepada takmir masjid itu untuk mengizinkannya tidur satu malam karena keadaanya sebagai musafir yang tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan ketika malam hari. Namun menyedihkan, dari permohonan itu takmir masjid yang memang tegas ini malah mengusirnya.

Kejadian ini dilihat oleh seorang Khabbaz atau pembuat roti yang berada disitu dan kemudian simpati karena melihat kejadian itu. Kemudian dia menuju Imam Ahmad seraya menawarkan untuk tinggal bersamanya. Dia menjelaskan rumah dan tempat tidurnya memang seadanya, kebetulan malam itu dia harus begadang menyelesaikan roti pesanan yang paginya harus segera dikirim. Lalu Imam Ahmad juga dengan ketawadhu’an nya menerima serta sangat berterima kasih.

Sesampai dirumah Imam Ahmad menaruh barang-barangnya dan bergegas mengambil wudhu’ dan segera beristirahat dan tidur. Ketika Imam Ahmad beristirahat beliau selalu mendengarkan Khabbaz ini seraya membuat roti dia juga mendawamkan  dzikir nya “Subhanallah Walhamdulillah Wala Ilaaha Illallah Allahu Akbar, Laa Haula Wala Kuwwata Illa Billah, Astaghfirullah”. Yang sampai tengah malam terus diucapkan olehnya.

Akhirnya dengan rasa penasaran Imam Ahmad bangun dari tempatnya, kemudian keluar kamar guna menemuinya. Imam Ahmad bertanya padanya, Apakah engkau asli penduduk daerah ini? Sudah berapa lama engkau mendawamkan hal ini? Dan apa yang engkau dapati dari keistiqamahan bekerja sambil berdzikir ini wahai Khabbaz?. Lalu Khabbaz ini menghentikan adonannya.

Dia mejawab bahwasannya benar ia adalah asli penduduk daerah ini. Ia jua mendawamkan hal ini sudah dari awal ia bekerja bahkan bukan hanya saat bekerja ia sangat berusaha agar selalu ingat. Ia tidak ingin dalam hari-harinya dan upaya nya dalam bekerja membuat ia lupa akan sang pencipta. Lalu mengatakan bahwasannya dari istiqamah ini, dia mendapati tidak satupun doa atau permohonannya yang tidak diijabah atau dikabulkan oleh Allah.

Tetapi ada satu doa yang sejak lama dipanjatkannya dan sampai saat ini ia tunggu, dia selalu berhusnudzan pada Allah. Lalu Imam Ahmad sangat penasaran, dan meminta jikalau diizinkan untuk diberitahu apakah doa yang sampai saat ini masih belum Allah berikan dari keistiqamahan seperti ini. Beliau berkaca pada diri sendiri, jika seorang Khabbaz ini bisa untuk seperti itu, lantas mengapa beliau tidak menirunya.

Khabbaz ini mengatakan bahwasannya ia memohon pada Allah agar dipertemukan dengan seorang Ulama’ yang bernama Imam Ahmad Ibnu Hambal. Sudah sejak lama ia mendengar kebaikan hati, keluasan ilmu, serta ketawadhu’an nya. Tetapi ia terhalang oleh kewajibannya dalam bekerja, sehingga hanya bisa mendengar hasil kajian ilmu oleh orang-orang yang mengikuti langsung majlis ilmu yang diadakan Imam Ahmad.

Serentak Imam Ahmad bergetar hatinya, lalu sadar bahwasannya ini adalah penyebab rasa resah yang dirasa, inilah penyebab Allah memberikan taufiq yang lalu membuat hatinya mantap untuk melakukan perjalanan, inilah juga penyebab beliau dimarahi oleh seorang takmir masjid. Tepat sekali, tidak lain semua ini Allah taqdirkan hanya untuk supaya Imam Ahmad bertemu Khabbaz ini guna mengijabahi doanya.

Subhanallah, ungkapan Imam Ahmad. Lalu ia mengatakan pada Khabbaz ini bahwasannya permintaan itu sekarang sudah Allah ijabahi dan sekali lagi Allah memperlihatkan kekuasaannya dalam segala hal. Khabbaz ini kebingungan, lalu Imam Ahmad kembali menjelaskan. Yah benar, inilah aku, jawaban dari doa mu, inilah aku Ahmad Ibnu Hambal, inilah aku yang Allah kirim untuk mu, inilah aku sebagai bukti kecintaan Allah padamu wahai Khabbaz.

Dari kisah ini tersingkap sebuah asror bahwasannya terdapat perbedaan ketika seorang hamba apabila ia memohon pada manusia dengan memohon hanya kepada Allah. Jelas ketika Imam Ahmad memohon pada seorang takmir masjid agar diperbolehkan untuk menginap satu malam, juga menjelaskan bahwa beliau masih seorang yang musafir. Tetapi Imam Ahmad mendapat penolakan bahkan usiran.

Sedangkan berbeda dengan Khabbaz, ia selalu memohon pada Allah. Kemudian hal itu dibersamai dengan sabar, husnudzannya dan keistiqamahannya dalam berdzikir berusaha mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dalam hal ini dijelaskan bahwa segala bentuk ibadah adalah hakikatnya adalah bedoa pada Allah. Sholat kita, Zakat kita, Puasa Kita, Haji kita, serta apapun itu yang bernilai ibadah.

Kemudian hasil yang Khabbaz dapatkan dari hal ini yakni Allah benar-benar membuktikan “Tidak ada doa yang sia-sia”. Artinya mungkin Allah sengaja tidak menagbulkan permintaannya dulu karena ingim melihat Khabbaz lebih lama memohon, lebih sabar, lebih istiqamah, serta lebih mencintai Allah dengan caranya berdoa, juga agar ia selalu berhubungan dengan Allah.

Mungkin ketika Allah langsung mengabulkan doa-doa serta permohonan kita, kita akan behenti berdoa yang akhirnya juga membuat kita lupa akan Allah karena permintaan sudah didapatkan. Hikmah dari sini adalah tidak sepantasnya kita berputus asa dalam kesulitan hidup karena kita adalah hamba dari Yang Maha Kuasa dan hendaknya kita berhusnudzan pada Allah dalam doa kita, karena mungkin Allah ingin agar kita selalu berhubungan dengan-Nya yang kemudian menambah kecintaan kita pada Allah.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar