Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HARGA SEBUAH WAKTU

Oleh : Hilmi

Pagi yang cerah mengawali hariku, hari pertama aku menduduki kelas 3 SMA, namaku Abdullah atau biasa di panggil Dul oleh teman-temanku, aku bersekolah di salah satu SMA yang ada di kota Malang, sekolahku ini berbasis boarding school atau biasa disebut sekolah asrama, di asrama sekolahku  sangatlah banyak peraturan yang membuatku tidak bisa bebas dan kadang-kadang membuatku sangat jengkel dengan aturan-aturan tersebut, apalagi pada saat di kelas tiga ini yang dikatakan akan di sibukan dengan ujian-ujian yang akan datang.

Di awal kelas tiga ini kegiatanku masih belum sibuk, masih seperti saat aku duduk di kelas dua jadi aku masih santai-santai saja, sampai aku memiliki pikiran untuk tidak masuk kelas dan main-main saja bersama teman-temanku yang memang sudah dari dulu sering bolos sekolah, sampai teman-temanku ini mempunyai jadwal bolos sekolah di kamarnya.
 Akhirnya pada hari senin ada teman sekamarku yang mengajak untuk bolos sekolah. “Dul, temenin aku gak masuk kelas ya!” kata memeng teman sekamarku. “lah ngapain gak masuk coba, mending masuk aja di kamar juga gak ada kerjaan” balasku, “Ya adalah kerjaan” kata Memeng, “Emang kerjaan apa?” tannyaku, “Main hp” katanya sambil tertawa, “lah, aku kan gak bawa hp meng, kamu enak bawa hp” kataku, “Makanya sini dulu, nih aku bawa hp dua kau pakai lah yang satunya” katanya sambil tertawa, “Yaudah sini hp nya, aku temenin gak masuk” balasku, “nah gitu dong, gini kan enak ada temenya” kata memeng. Aku pun mulai memainkan hp yang dipinjamkan oleh memeng sampai tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba. Aku berpikir, enak juga ya bolos, toh nanti pelajaran bisa nyusul, tanya teman-teman yang masuk kelas. Tiba-tiba ada teman yang memaggilku dan membuyarkan pikiranku. “Wah,wah,wah lu kemana tadi gak masuk kelas?” kata temanku, “Ni beh, gua nemenin si memeng” balasku, “wah lu bolos kok gak ajak-ajak gua sih” kata babeh, “lah ngapain bolos ngajak-ngajak” kataku. “oh, iya ya” kata babeh sambil tertawa. “Yaudah lu besok temenin gua ya, kan lu tadi nemenin si memeng” kata babeh, “iya dah gua temenin lu besok” balasku.
Aku pun mulai sering bolos sekolah dan juga main-main, tidak pernah lagi belajar di waktu malam hari, juga mulai menganggap enteng pelajaran-pelajaran yang di ajarkan di kelas .Jadilah hal-hal tersebut merubah sifatku sedikit demi sedikit, hal-hal tersebut akhirnya menjaadi kebiasanku saat ini di kelas tiga semester 1.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, dan ujian tengah semester telah datang, pada hari pertama ujian aku kebingungan ketika akan menjawab soal-soal yang di uji kan oleh sekolah, karena dulu biasanya walaupun aku tidak belajar malam sebelum ujian aku masih bisa menjawab soal-soal tersebut tapi sekarang aku kebingungan. “Biarin dah toh baru hari pertama, ntar malem belajar dikit juga bisa buat besok” pikirku dalam hati. Malam berikutnya aku putuskan belajar sebentar, dan benar esoknya aku bisa menjawab soal-soal ujian yang di sediakan walaupun masih ada beberapa pertanyaan yang tidak kujawab, “toh nilanya udah cukup” pikirku. Akhirnya ujian tengah semester pun berlalu dan aku pun menerima hasil ujianku, aku lihat nilainya, “Wah masih bagus juga nilaiku, walaupun turun sedikit masih di tiga besar, kalau gini bolos juga gak papalah toh enakan bolos, apa aku bikin jadwal bolos aja ya, kayak temen kamarku yang lain” pikirku dalam hati. Alhasil aku membuat jadwal bolos dengan teman sekamarku, dan aku mulai terbisasa dengan hal itu.

Aku sekarang yang sudah sering bolos sekolah pun mulai ada pikiran untuk bolos kegiatan yang telah di jadwalkan oleh asrama juga. Kegiatan-kegiatan diasramaku seperti menghafal Al-Qur’an, mendengarkan tausiyah setelah subuh dan kegiatan-kegiatan yang lain. “gak papalah, bolos sekali-kali buat refreshing” pikirku. Akhirnya kegiatanku pun berubah yang seharusnya setelah shalat subuh mendengarkan tausiyah atau nasehat-nasehat dari ustadz-ustadz, aku malah pergi ke kelas untuk main hp atau nonton, kelas pun menjadi tempat untuk refreshing olehku juga teman-temanku yang sedang tidak ingin mengikuti kegiata-kegiatan asrama. Hari-hari pun berlalu dengan cepat dan aku juga mulai kecanduan atau malas mengikuti kegiatan yang ada di asrama. “Nah, kalo gini kan enak bisa santai” pikirku.

Aku menikmati kegiatanku yang sekarang, yang bisa santai gak banyak beban dari sekolah maupun dari asrama. Hingga pada suatu waktu aku ketika aku berjalan pulang dari masjid aku dipanggil oleh temanku, “Dul, sini bentar” katanya, “Ya, ada apa zan?” tanyaku pada temanku yang satu ini, setauku dia adalah anak yang rajin, karena dulu ketika di kelas dua aku pernah menjadi teman sekamar denganya. Yang keseharianya kalo gak hafalan Al-Qur’an di masjid ya baca-baca buku di kamar. “Sini sima’in hafalanku ya” kata mizan, “Oh, iya mana zan gak banyak kan?” tanyaku, “Iya dikit aja” balasnya. Beberapa menit kemudian setelah selesai aku ngobrol denganya sebentar. “Kenap kamu sering bolos sekarang dul?” tanyanya padaku, “Yah gak papa zan biar santai dan gak terlalu tegang, kan sekarang di kelas tiga banyak banget kegiatanya kayak ujian-ujian gitu zan” balasku, “Ya gak gitu juga dul, kan kalau kepingin santai-santai kan udah ada waktunya pas hari sabtu sama ahad” katanya, “Ya gimana lagi zan bosen sih sama males” jawabku, “Ya dilawan lah malesnya itu, manfaatin waktumu ini sebaik mungkin, mumpung masih sehat, jangan gampangin walupun hal-hal yang sepele, emang bener sekarang gak kerasa efeknya tapi entar di akhir baru kerasa” katanya, “Iya, iya zan, aku balik dulu ya” kataku, setelah itu aku langsung berlari pergi ke teman-temanku yang sering bolos bareng aku. “Lu habis ngapain tadi sama si mizan itu?” Tanya babeh, “Ya biasalah beh di ceramahin” kataku pada babeh, “Di ceramahin apaan lu sama si mizan?” Tanya babeh, “Di ceramahin jangan bolos-bolos gitu beh, yah pokoknya jangan buang-buang waktu sama hal-hal yang gak guna gitu, di suruh manfaatin waktu sebaik mungkin gitu kalo gak salah kata si mizan” balasku pada babeh, “Yaudah lah gak usah dipikirin ayo balik ke kamar” kata babeh.

Hari-hari berlalu dengan cepat hingga tiba waktu unruk ujian akhir sekolah, aku pun masih bersantai-santai dan menganggap ujian itu mudah, “Ah udah ujian akhir sekolah aja cepet banget perasaan” pikirku. Aku pun belajar pada malam sebelum ujian, tapi “Kok susah amat nih pelajaran belom pernah diajarin ini kayaknya” pikirku saat aku melihat latihan-latihan soal untuk ujian akhir sekolah, akhirnya aku bertanya pad teman sekamraku. “Mik ini belom diajarin ya?” tanyaku pada amik, teman sekamarku, “Udah itu dul kamu aja yang jarang masuk kelas” katanya, “Masa udah di ajarin mik, seingetku belom dah” kataku, “Lah gak percaya di kasih tau, nih liat catetanku” kata amik sambil memberikan bukunya padaku, “Oh iya, udah diajarain ya” kataku sambil melihat isi buku catatan amik. Setelah itu aku belajar dengan buku catatan pinjaman itu, tapi waktu tidak sempat untuk menyelesaikan semua materi yang harus aku pelajari. “Sudahlah, bisa-bisa besok” pikirku sambil menyemangati diriku sendiri. Akhirnya ujian akhir sekolah pun berlalu, dan alhasil karena aku tidak sempat memahami semua materi yang tertinggal aku dengan susah payah melewati ujian tersebut.

Setelah ujian akhir sekolah tersebut, aku mulai kembali rajin untuk belajar setiap sore dan juga malam, mengikuti bimbingan-bimbingan belajar untuk menghadpi ujian nasional atau biasa dsingkat menjadi UN. Tapi walupun aku sudah bersusah payah belajar aku masih kebingungan di karenakan materi-materi pelajaran tersebut bersambung atau memiliki kesinambungan dengan materi satu sama lain, sedangkan aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari materi-materi yang tertinggal tersebut. Alhasil ketika aku mengikuti ujian nasioanal aku kebingungan dan tidak bisa menjawab banyak pertanyaan dari soal-soal yang telah di sediakan. Akhirnya setlah ujian nasional tersebut berlalu dan aku menrima hasilnya, aku sangat kecewa karena nilainya sangatlah buruk dan aku mulai mengingat kembali pembicaraanku dngan mizan. “Coba saja aku mendengarkan perkataan mizan waktu itu, pasti hasilnya gak kayak gini” pikirku.

Dan akhirnya penghujung dari kegiatan untuk kelas tiga telah sampai, yaitu acara wisuda dan tasyakuran. Dalam acara tersebut ada juga sesi untuk memberikan penghargaan kepada siswa terbaik, dan terbukti mizan pun mendapatkan penghargaan karena telah menyelesaikan hafalanya. Aku hanya bisa mendesah dan berpikir dalam hati “Andai saja aku mendengarkan kata-katanya untuk menghargai waktu, tidak mustahil untuk mencapai hal-hal tersebut”. Tapi bagaimana lagi waktu tidaklah bisa di putar mundur yang berlalu telah berlalu, biarlah hal tersebut menjadi kenangan juga pengingat untuku, agar menghargai dan memanfaatkan waktu yang telah di berikan kepada kita dengan sebaik mungkin.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar