Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BIJAK DENGAN TANGAN KITA

Oleh : rizal

Dengan berkembangnya zaman, akan membawa perubahan di hampir semua lini kehidupan yang kita jalani. Terutama pada dua dasa warsa terakhir, perubahan dan perkembangan sangat sekali terasa. Tampaknya, tiada pilihan lain bagi kita untuk tidak mengikuti perkembangan yang ada, walau pun semakin kesini dampak negatif yang tercipta juga semakin terasa. Nah, dari sinilah peran kita sebagai pengendali perubahan sangat diperlukan. 
Sebut saja perubahan  yang paling santer saat ini adalah teknologi, bahkan teknologi inilah yang diupayakan untuk bisa  masuk ke setiap lini kehidupan, diantaranya bidang transportasi,  infrastruktur, bidang kesehatan, pendidikani dan sebagainya, tetapi  pada bidang komunikasilah yang cukup menyita perhatian kita saat ini, terutama pada media sosial yang semakin eksis. 

Penulis pernah membaca suatu tulisan disalah satu akun media sosial, yang kurang lebih  seperti ini, “Untuk membuat sebaris twit jenaka orang bisa berpikir lama. Tapi untuk melempar rentetan twit makian, orang bisa sambil senderan. Tak perlu capek pakai pikiran”. Terkadang sangking banyaknya media sosial yang ada, tulisan-tulisan seperti ini hanyalah lewat begitu saja, tenpa kita hiraukan makna  yang dituju.

Tulisan-tulisan seperti inilah yang seharusnya sedikit mendapat perhatian, karena memang saat ini dengan mudahnya orang membuat tulisan-tulisan berbau ujaran kebencian, melemparkan komentar-komentar yang kurang tepat. Sehingga muncul pepatah baru, “Jarimu adalah Harimaumu”, dan sesuai dengan kutipan media sosial diatas, seakan jauh lebih mudah bagi kita untuk menuliskan keburukan dari pada hal yang jauh lebih positif. Tanpa kita ketahui dampak yang akan muncul dari tulisan tersebut.

Sekarang ini banyak orang yang menjadi viral karena tulisannya di media sosial, bukan karena prestasi ataupun hal positif lain, melainkan karena tulisannya yang dirasa kurang tepat disampaikan di media sosial, yakni media umum yang semua orang dapat mengakses, walaupun maksud sebenarnya adalah becanda ataupun yang lain. Sebab bahasa tulisan yang kita sampaikan sedemikian rupa akan mendapatkan  berbagai penafsiran atasya, dibandingkan bahasa lisan yang kita sampaikan secara langsung. 

Nah, sebenarnya bukan masalah teknologi atau media sosial yang semakin berkembang yang membawa dampak negatif, tetap saja kembali kepada kita sebagai pengendalinya. Maka dari pada itu kedewasaan serta kebijaksanaan saat menggunakannyalah yang harus tetap tertanam dalam diri kita. Karena jika kita bisa berpikir jernih sejenak, akan jauh lebih bermanfaat jika  jari-jari kita dipergunakan untuk menuliskan hal-hal positif yang barang kali suatu saat akan membawa manfaat kepada orang lain.
Terimakasih. 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: