Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AL-QUR’AN MENJADI SUMBER UTAMA PENENTUAN DI DALAM PEMBAGIAN HARTA WARIS

Oleh : Saldi

            Pewarisan adalah proses perpindahan harta dari orang yang telah meninggal dunia kepada orang yang ditinggalkan, yaitu sanak saudara dan keluarga. Ada beberapa istilah tentang pengertian hukum waris diantaranya dari beberapa tokoh yang dibahas dalam artikel ini sehingga masyarakat dapat mengerti apa itu hukum waris, beberapa masalah dalam pembagian harta waris juga banyak ditemukan di Indonesia diantaranya adalah tentang pembagian harta waris terhadap laki-laki dan perempuan, dikarenakan kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum mengerti dalil pembagian waris padahal didalam al-Qur’an sudah sangat jelas menerangkan dalil-dalil tentang menentukan pembagian harta waris.
Ilmu hukum waris atau yang biasa juga di sebut ilmu Faraaidh dan jamak dari kata fariidhah, yang artinya secara Bahasa adalah: sutera, potongan, perkiraan, menurunkan, atau menjelaskan bagian yang sudah ditentukan disebut mafruudh. Sedangkan menurut istilah adalah ilmu yang mempelajari tentang siapa yang berhak mewarisi dan siapa yang tidak berhak, serta bagian dari setiap ahli waris. Artikel ini akan membahas lebih dalam apa saja istilah dari hukum waris, dan bagimana penerapan al-Qur’an sebagai sumber utama dalam penentuan harta waris.

Sedangkan pengertian dari harta peninggalan terdapat pada pasal 1 huruf d adalah “harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris yang berupa harta benda yang menjadi miliknya manapun hak-haknya.” Fiqih mawaris adalah ilmu yang dengan dia dapat diketahui oleh orang-orang yang mewarisi, orang-orang yang tidak dapat mewarisi, kadar yang diterima oleh masing-masing ahli waris serta cara pengambilanya.
Isitlah lain yang digunakan dalam disiplin ilmu ini adalah dengan menggunakan istilah ilmu faraidh yang sudah dijelaskan diatas. Seroang ilmuan fiqih bernama Ibnu Rusyd mendefinisikan ilmu faraidh adalah ilmu untuk mengetahu cara membagi harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang berkah menerimanya.

Di dalam istilah hukum yang baku digunakan kata kewarisan, dengan mengambil kata waris dengan dibubuhi awalan ke daa dengan akhiran –an, kata waris itu sendiri dapat berarti orang, pewaris sebagai sebagai subjek dan dapat berarti pula proses. Dalam arti yang pertama mengandung makna hal ikhwal orang yang menerima warisan dan dalam arti yang kedua mengandung makna hal ihwal peralihan harta dari yang sudah mati kepada yang masih hidup dan dinyatakan berhak menurut hukum yang diyakini dan diakui berlaku dan mengikat semua orang yang beragama islam.

Adapaun Hukum Waris menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam) pada pasa 171 huruf (a) adalah “Hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan hartapeninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan beberapa bagianya masing-masing.” Jadi Hukum Waris Islam adalah seperangkat aturan tentang proses pembagian harta peninggalan orang yang telah meninggal dunia dan menentukan ahli waris mana saja yang berhak untuk mendapatkan harta warisan tersebut dan juga ilmu ini mempelajari bagian masing-masing dari harta peninggalan tersebut sesuai dengan ketetapan ajaran islam.
Hukum waris islam adalah aturan yang mengatur pengalihan harta dari seorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini berarti menentukan siapa saja yang menjadi ahli waris, porsi buagian masing-masing ahli waris, menentukan harta peninggalan dan harta warisan bagi orang yang meninggal tersebut. Diantara sumber Hukum waris islam salah satunya ada Al-Qur'an meskipun ada beberapa sumber Hukum Waris lainya seperti hadis, pendapat para sahabt rasulullah dan juga para pendapat ahli hukum islam.
Syariat islam tidak mewajibkan kaum wanita unutk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan tetap berlaku sekalipun wanita tersebut itu kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan.

Didalam Al-Qur'an memiliki landasan untuk hukum untuk menentukan ahli waris dan bagianya masing-masing dengan syarat yang sudah dijelaskan didalam Al-Qur'an, seperti bagian perempuan jika seorang diri mendapatkan setengah bagian dan jika lebih dari dua orang maka bagianya adalah dua pertiga. Al-Qur’an juga sudah jelas dalam menerangkan Hukum-Hukum waris, keadaan masing-masing pewaris bersama dengan nilai-nilai yang akan didapatkanya dengan cukup sempurna sesuai dalil dalam al-Qur’an.
Hukum waris islam menuntut umat islam menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan waris, banyak ayat al-Qur’an yang dengan jelas menerangkan hukum waris islam sebagai dalil diantaranya adalah: Surah an-Nisa ayat 7, Surah an-Nisa ayat 8, Surah an-Nisa ayat 9, dan Surah an-Nisa ayat 10 yang menjelaskan hukum-hukum waris secara detail dan sebagai landasan hukum yang tepat sebagai pedoman hukum-hukum waris.

            Dari yang dapat saya dinaikkan Al-Qur’anul karim merupakan mukjizat umat islam yang abadi dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia dturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengeluarkan manusia dari yang gelap menuju yang terang, serta membingbing mereka ke jalan yang lurus. 

            Dalam beberapa literatur hukum islam ditemui beberapa istilah untuk menamakan hukum kewarisan islam, seperti fiqihmawaris, hukum kewarisan, dan ilmu faraid. Pebedaan dalam penamaan ini terjadi karena perbedaan arah yang dijadikan titik utama dalam pembahasan. Kompilasi Hukum Islam membedakan antara harta warisan dan harta peninggalan. Pengertian harta warisan terdapat pada pasa 1 huruf e, yaitu “harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat”. 

             Hukum waris islam adalah aturan yang mengatur pengalihan harta dari seorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini berarti menentukan siapa saja yang menjadi ahli waris, menentukan harta peninggalan dan harta warisan bagi orang yang meninggal dunia tersebut. Dasar hukum waris islam adalah Al-Qur’an an hadis, pendapat para sahabat rasulullah, dan juga pendapat ahli hukum islam.

             Diantara sumber Hukum waris islam salah satunya ada Al-Qur'an meskipun ada beberapa sumber Hukum Waris lainya seperti hadis, pendapat para sahabt rasulullah dan juga para pendapat ahli hukum islam.

             Dengan mengetahui arti dan isi filsafat dapat kita ketahui bahwa semuanya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan seperti contoh filsafat hidup dan filsafat akademik yang keduanya memiliki hubungan anatara ilmu pengetahuan dan agama dan tujuanya adalah sama yaitu untuk mencapai tujuan hidup.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar