Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AKU DAN DAUN JATUH


Oleh : Nety

             Semilir angin menyapaku kali ini, merangkulku begitu erat dengan hembusannya yang syahdu. Sungai mengalir deras seolah bertasbih kepada sang ilahi, menjadikan setiap insan jatuh hati dengan pemandangan seperti ini. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku berwarna putih di sebuah taman kecil dekat sungai, dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun tinggi semampai. Menilik pagar diujung sana, kuharap dia lewat dengan gagahnya. “Ah, siapa yang peduli akan hadirnya? Siapa aku baginya?” (gumamku).
            Selagi aku bergumam tentangnya, sehelai daun jatuh tepat di atas buku yang tersingkap. Ada beberapa kalimat tertulis amat menyesak di dalamnya, tak lain adalah curahan hatiku tentangnya. 

Apa kau tahu?
Aku seakan dibelenggu oleh rindu,
Tiap hari merindu,
Ruang pikiranpun terisi penuh oleh dirimu,
Ntahlah? Aku malu pada rabbku,
Seringkali dadaku sesak dibuatmu,
Padahal kau jelas belum halal untukku,
Namanya juga rindu,
Ada, namun waktu enggan menjamu.

            Tatkala menulis itu, aku begitu tertekan. Jantungku berdetak amat cepat. Bisa dikatakan keadaan jantungku sedang tidak normal. Kurasa memori otak yang ada di kepalaku penuh dengan angan-angan agar selalu bisa bersamanya. Terngiang bagaimana setiap hari ia menyapaku lewat kecanggihan teknologi sekarang. Tak ada habisnya pembahasan kami lewat media itu, tak pernah membahas cinta tapi saling menaruh perhatian, bahkan tak jarang kami berdiskusi tentang apapun yang sedang hangat diperbincangkan.
            Aneh, padahal dulu pernah sedekat matahari dengan merkurius, tapi sekarang seperti jarak matahari dengan neptunus, tak terjangkau lagi. “Mungkinkah ia menyukai orang lain? Atau mungkin...?” pikiran buruk tentangnya mulai meronta-ronta. Ditambah lagi, hingar-bingar kota sangat mempengaruhi pikiran buruk itu hingga tak dapat diredam lagi. Aku malu kepada sang pencipta, cintaku pada manusia membuat lupa bahwa sejatinya cinta hanyalah untuk sang maha kuasa. “Jika tidak ingin terluka, maka jangan pernah menaruh harapan yang begitu dalam kepada seorang manusia”. Kalimat yang dikutip itu setidaknya bisa meminimalisir piluku.
            Daun yang jatuh tadi, seolah-olah mengetahui bagaimana rasaku sekarang. Ia menghampiriku seolah hendak memberi isyarat, semua akan terpisah. Terpisah jauh dari apa yang kita suka. Daun rela diterpa angin, walau ia harus terhempas pergi jauh dari sebuah pohon yang selama ini ia tumpangi. Setidaknya ia tetap bisa memberikan manfaat untuk bumi, menguraikan daunnya lewat bantuan bakteri, hingga akhirnya wujud daun berubah menjadi tanah subur untuk mensejahterakan petani.
            Sekarang aku mengerti, aku boleh mengagumi seseorang, namun hati ini hanya boleh ku serahkan untukNya. Dzat yang memahami segala isi hati. Jika aku menaruh harapan untuk manusia, maka aku harus siap menyediakan ruang untuk sakit hati. Cinta tak perlu diungkapkan, cukup mencintai dalam bisu dan berjuang dalam dahsyatnya sebuah doa. Percayalah, suatu saat kita akan dipertemukan dengan seseorang yang telah Allah takdirkan .
“wafa?” seketika ada yang menyapa.
“ah, iya ca”
“kamu ngapain sendirian disini?” herannya.
“ah, ngga kok. Cuma cari udara seger. Ayo ke fakultas, sebentar lagi seminarnya akan dimulai” ajakku untuk mengalihkan perhatian.

_Selesai_
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar