Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mengatasi hoax dengan cara milenial

Oleh: Syahrul Alfitrah Miolo
Hasil gambar untuk gambar hoax


            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoax adalah berita bohong. Dalam Oxford English Dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Banyak dari masyarakat yang telah menggunakan kata hoax, tapi mereka mengartikan hoax dengan kata yang tidak sesuai dengan arti hoax yang sebenarnya. Contohnya banyak dari masyarakat yang mengartikan hoax sebagai berita yang tidak disukai.
            Hoax atau berita bohong bukan sesuatu yang baru karena sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum zaman internet, hoax bahkan lebih berbahaya dari zaman sekarang karena lebih sulit untuk diverifikasi. Kebanyakan hoax pada era tersebut terbentuk karena spekulasi. Pembaca bebas menentukan validitas berdasarkan pemahaman, kepercayaan/agama, maupun penemuan ilmiah terbaru saat itu. 
             Kemenkominfo mencatat pengguna internet dan media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 132,7 juta orang. Tentu jumlah ini sangatlah besar dan akan menambah jumlah penyebaran hoax. Pengguna internet dan media sosial terdiri dari berbagai kalangan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, sampai lansia. Bahkan bayi dan balita pun dapat dikatakan sebagai pengguna internet dan media sosial karena mereka memiliki akun sendiri yang dibuat oleh orang tua mereka.
            Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa pada akhir tahun 2012 ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoax. Jila pemerintah dan Kemenkominfo tidak mengambil tindakan yang dapat mengurangi dan mencegah penyebaran hoax, maka jumlah 800.000 akan bertambah menjadi jumlah yang sangat besar. Jika jumlahnya sudah sangat besar maka tugas dari Kemenkominfo akan lebih sulit lagi. Hoax itu seperti makhluk hidup dan penyakit yang dapat berkembang biak dan menjangkit, jika situs yang satu telah terindikasi sebagai penyebar hoax, pasti situs yang lainnya akan menjadi anak dari situs itu dan akan menjangkiti situs yang lainnya.
            Pemerintah dan Kemenkominfo harus membuat terobosan-terobosan baru yang dapat mengurangi dan mencegah penyebaran hoax, seperti melakukan sosialisasi atau penyuluhan tentang hoax, membuat aplikasi yang dapat mendeteksi hoax, dan menyeleksi atau menyaring situs-situs yang ada di internet dan di media sosial.
            Pemerintah dan Kemenkominfo harus melakukan sosialisasi atau penyuluhan tentang apa itu hoax dan bagaimana cara untuk menangkalnya. Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat tau apa itu yang dinamakan hoax dan bagaimana cara untuk menangkalnya, karena masih banyak masyarakat yang tidak tau mengenai hal itu. Sosialisasi ini harus disampaikan kepada seluruh kalangan dari anak-anak sampai lansia, akan tetapi bahasa yang digunakan dalam menyampaikan sosialisasi harus disesuaikan dengan kondisi audiens. Dengan begitu, masyarakat akan terbekali pengetahuan tentang hoax dan penyebaran hoax akan berkurang.
            Pada zaman sekarang semua yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari manusia baik itu transportasi, perdagangan, dan lain-lain sudah berbentuk aplikasi yang dapat dijalankan dimana saja dan kapan saja. Manusia zaman sekarang ingin serba canggih, mudah dan cepat. Hal-hal yang berbau jadul, lama, dan lambat itu sudah sangat jarang dijumpai pada zaman ini dan sudah sangat jarang dipakai oleh manusia. Maka dari itu membuat sesuatu yang canggih, mudah, dan cepat merupakan solusi dalam menghadapi hoax pada zaman sekarang berupa aplikasi yang dapat mendeteksi dan memverifikasi hoax.
            Pemerintah dan Kemenkominfo harus membuat aplikasi yang dapat mendeteksi atau memverifikasi hoax. Aplikasi ini dapat dirancang khusus sama seperti aplikasi pendeteksi plagiat yang cara menggunakannya cukup mudah, hanya dengan memasukkan teks berita atau teks kalimat yang ingin diperiksa kejelasannya, kemudian menekan tombol search atau cari, lalu akan langsung muncul persentase apakah ini sebuah plagiatisasi atau hoax. Aplikasi ini harus terlihat menarik dan mudah untuk digunakan. Jadi, sebelum mempercayai suatu berita kita harus mendeteksi atau memverifikasi berita tersebut kedalam aplikasi pendeteksi hoax yang dapat dinamakan dengan hoaxdetector.
            Pemerintah dan Kemenkominfo harus menyeleksi atau menyaring situs-situs yang ada di internet dan di media sosial. Penyeleksian dan penyaringan ini bertujuan agar situs-situs yang ada dapat diketahui dengan jelas mana yang mengandung berita hoax atau tidak. Bagi situs-situs yang terdeteksi mengandung berita hoax dapat diblokir agar situs dan berita hoax itu terhapus dan tidak dapat diakses lagi oleh siapapun. Bagi situs-situs yang belum terdeteksi mengandung berita hoax dapat dilakukan pengawasan agar tidak dapat menyebarkan berita hoax, akan tetapi jumlah situs ini harus dibatasi agar memudahkan pihak yang berkaitan dalam melakukan pengawasan. Bagi situs-situs milik Negara, contohnya situs milik KPK, POLRI, Kemenkominfo, dan lain-lain itu dapat dipatenkan karena tidak mungkin menyebarkan hoax.
              Pemerintah dan Kemenkominfo telah melakukan berbagai cara dalam memerangi hoax. Pada tahun 2017, pemerintah telah menggunakan teknologi kecerdasan buatan yang bernama cyber drone 9 untuk melacak dan melaporkan situs-situs yang diketahui mempublikasikan hoax, dengan menerapkan system pemblokiran untuk menertibkan situs dan akun di media sosial yang menyebarkan hoax. Dalam kasus yang lebih serius, pemerintah menggunakan dasar hukum Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) untuk menggiring para penyebar hoax ke meja hijau. Kemenkominfo juga meluncurkan gerakan masyarakat anti hoax untuk mengajak seluruh elemen masyarakat waspada terhadap hoax.
`           Pada awal tahun 2018, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dibentuk untuk memerangi hoax. Menurut laporan yang dirilis oleh SAFEnet sejumlah perusahaan media seperti Google dan Facebook telah di rangkul pemerintah untuk mengatasi penyebaran konten berbahaya, seperti pornografi, dan hoax. Berbagai cara pemerintah dalam memerangi hoax ini sudah baik, namun sampai sekarang belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Negara Indonesia bukanlah satu-satunya Negara yang menghadapi masalah ini, Negara-negara lain juga menghadapi hal yang sama, tapi yang membedakannya adalah cara menghadapinya.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Perum Bukit Cemara Tidar F3 No. 4
darunnun.com


Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar