Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH DAWAI AL’OUD RASMUSSEN





Oleh: Dinantari Susilo

“Sholli Wasallimda Iman ’Alamada                        
Sholli Wasallimda Iman ’Alamada                       
Wal Ali Wal Asha Biman Qod Wahhada                
Wal Ali Wal Asha Biman Qod Wahhada                 “

                Begitulah pagi ini lantunan shalawat yang biasa terdengar di kajian Cak Nun sukses membuat saya tertegun, takjub dan merasakan Allah menyentuh hati umat bisa dari mana saja. Pasalnya syiir yang ramah ini dilantunkan oleh seorang perempuan asal Amerika diiringi alat musik gambus (al’oud) yang ia mainkan sendiri. Kemudian otomatis diikuti oleh semua orang satu ruang seminar pagi ini. Berkolaborasi dadakan bersama grup shalawat Banjari UIN Malang membuat elegi pagi mencari ilmu semakin membuncah. Sungguh pembukaan majelis ilmu yang tidak biasa.
                Beliaulah Anne K. Rasmussen, praktisi musik timur tengah asal California, Amerika Serikat yang berkesempatan hadir dalam acara bedah buku terbitan Bentang Pustaka “Merayakan Islam dengan Irama” hasil alih bahasa dari karya asli miliknya yang berjudul “Women, The Recited Qur`an And Islamic Music in Indonesia ” yang telah lebih dulu dicetak oleh University of California Press tahun 2010. Berlokasi di Aula Microteaching, UIN Malang, wanita kelahiran 1959 ini membagikan ilmu, pengalaman dan kisah-kisah menarik dalam penelitiannya hampir selama 15 tahun lebih. Ditemani seorang pembanding, kepala Pusat Studi Islam dan Sains, UIN Malang, Mokhammad Yahya, Ph. D dan seorang moderator, Dosen UIN Malang, Rois Imron Rosi, M. Pd.
                Masih pada bagian pembukaan, sudah banyak hal yang membuat saya merasa terinspirasi dari tiga orang hebat yang tengah berdiri dihadapan para audiens hari ini. Salah satunya adalah fakta bahwa Ustadz Yahya, begitu pembanding bedah buku hari ini disapa, adalah asisten penelitian Bu Anne, sapaan pemateri utama, ketika berada di Filipina. Bahkan ketika Bu Anne konser di Manila, Ustadz Yahya adalah vokalis tunggal di konser tersebut. Oleh sebab itulah dalam bukunya Bu Anne telah secara khusus memberikan terima kasihnya kepada Ustadz Yahya. Mengenang masa-masa tersebut membuat mereka yang telah 13 tahun tidak bertemu kembali bernostalgia.
                Sebelum menyampaikan materi utama, Ustadz Yahya memberikan pendapatnya tentang buku karya Bu Anne. Beliau menyampaikan bahwa inilah contoh penelitian etnografi yang sesungguhnya. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar hingga bertahun-tahun namun sepadan dengan hasilnya yang konkret dan lengkap. Dalam hal ini, kita sebagai civitas akademik hendaknya meniru semangat belajar orang barat dalam hal ini yang total dalam menggali sebuah ilmu. Beliau bahkan menceritakan bahwa Bu Anne memiliki beragam kaset dan CD musik islam. Dari Nasidariyah hingga musik gambus Roma Irama. Jika sebagian besar kita tahu Roma Irama adalah raja dangdut, sebenarnya Roma Irama menjajaki dunia Gambus lebih dulu. Kemudian beliau juga sampaikan salah satu hal yang beliau dapat dari buku Bu Anne adalah, bahwa patriarki tidak bisa kuat menetap di Indonesia sebab Indonesia memiliki Islam yang memberikan wanita ambil porsi dalam kegiatan bermasyarakat dan bersosialisasi. Bahkan lebih banyak kegiatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat yang diprakarsai oleh perempuan.
Selanjutnya Bu Anne mengambil alih sesi bedah buku. Jauh dari prakiraan saya, yang saya sangka hari ini akan lebih banyak mendengar Ibu Anne (sapaan Anne Rasmussen) berbicara dalam bahasa inggris, ternyata tidak terjadi. Beliau sangat lancar berbahasa Indonesia meskipun ada beberapa hal yang masih beliau sampaikan dengan bahasa inggris. Serta merta itu tidak mudah. Demi penelitiannya beliau mengambil kelas belajar bahasa Indonesia untuk beberapa waktu. Bu Anne mengisahkan perjalanan hidup dan penelitian adalah satu kesatuan. Sudah tidak bisa dipisah katanya. Sedikit kilas balik melalui pembukaan yang ia sampaikan, Bu Anne pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1996. Saat itu suaminya mendapat tugas di kementrian lingkungan hidup di Jakarta. Konon selama di Indonesia saat itu, beliau takjub dengan kemeriahan Islam di Indonesia. Dimana-mana didapatinya orang membaca, melantunkan Al-qur’an, menyanyikan syiir arab dan shalawat diberbagai kesempatan. Hal ini mungkin dipengaruhi waktu kedatangan beliau juga bersamaan dengan nuansa ramadhan. Beliau mendapati disekitarnya tahlilan, sholawatan, pujian setelah adzan, tilawatil qu’an oleh qori qoriah dan banyak lagi. Semuanya dibaca dengan nada dan suara yang berbeda. Rasa kagum sekaligus penasaran membuatnya kembali ke Amerika dan menyusun proposal untuk mendapatkan beasiswa melakukan penelitian di Indonesia tentang musik dan etnologinya. Kemudian barulah beliau melakukan penelitian resminya pada tahun 1999. Sejak saat itulah beliau mulai rajin datang dan mengikuti perkembangan lomba-lomba tilawatil qur’an, mushabaqah tilawatil qur’an, lomba banjarian hingga dakwah-dakwah islam yang dibawakan dengan musik seperti grup musik Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Beberapa kali pula Bu Anne juga ikut dalam acara shalawatan bersama Habib Syech. Demi mempelajari pola, ciri khas dan berbagai hal menarik dari segi musik dan cara setiap pelaku seni yang terlibat melokalikasikan budaya arab ke daerah-daerah.
                Bu Anne sungguh mengagumkan dimata saya. Bagaimana tidak, meskipun beliau bukan dari Indonesia, bukan pula seorang muslim namun beliau belajar budaya timur tengah hingga ke Arab dan menemukan bahwa konon musik dan Islam tidak pernah cocok. Apalagi dibawakan oleh perempuan. Beberapa hasil perjalanan dan observasinya, beliau menemukan data bahwa musik menurut sebagian tokoh Arab bukanlah hal yang baik karena membawa manusia bisa lupa dan gila terhadap irama dan syair yang melenakan. Disampaikan oleh salah satu tokoh universitas Al-Azhar yang Bu Anne tunjukkan videonya, orang itu menambahkan pula selain musik tidak baik, perempuan tidak diperbolehkan menggunakan suaranya untuk diperdengarkan untuk orang lain. Karena suara adalah bagian dari aurat dan mampu melenakan pula. Meskipun wanita-wanita di Al-Azhar diajarkan pula menghafal dan membaca Al-Qur’an namun tidak untuk diperdengarkan kepada orang lain apalagi dipertunjukkan untuk hiburan. Bu Anne mendapati hal ini sungguh terbalik dengan yang terjadi di Indonesia. Islam memunculkan coraknya sendiri melalui musik.
Karena sudah tertarik dengan Indonesia, maka mulailah beliau menelaah musik arab di Indonesia. Yang secara otomatis membuat Bu Anne turun juga ke sejarah masuknya Islam. Sebagaimana Islam didakwahkan Nabi ratusan tahun yang lalu di Arab namun akhirnya tiba juga di pelosok Indonesia melalui jalur sutra. Bu Anne meneliti sejarah dan perkembangan musik di daerah-daerah jalur sutra (jalur perdagangan samudra hindia) hingga sampailah kepadanya kisah dakwah sembilan wali Allah di Indonesia. Wali Songo atau Sembilan Wali (The Nine Saint) banyak sampaikan dakwah lewat tembang, dan lagu-lagu hingga mudah diterima baik oleh orang Indonesia. Dan sangat boleh dilantunkan oleh siapapun.
Bagi Bu Anne kehadiran Islam telah dirayakan dengan damai melalui musik di Indonesia. Budaya arab yang dibawa oleh para wali juga oleh orang Indonesia di-pribumi-kan dengan cara yang kreatif dan beragam. Berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Namun yang membuat Bu Anne kagum dan takjub adalah bahwa tidak ada perbedaan berarti dalam musik dan permainan nada dan irama dalam islam. Wanita Amerika itu sepakat bahwa Al-Qur’an dibaca, diubah menjadi seni tilawatil qur’an bukanlah musik. Namun ia memiliki irama dan ciri khas yang menarik. Al-Qur’an boleh dibaca dengan sebuah standar namun tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan juara MTQ yang beliau kenal adalah seorang perempuan, Hj. Maria Ulfah yang kemudian mengajarkan ilmunya kepada qori’ qoriah dengan metode serupa. Tidak ada metode yang berbeda untuk tilawahnya laki-laki maupun perempuan. Bu Anne bahkan menunjukkan bukti dengan sebuah video singkat bagaimana Hj. Maria Ulfah mengajarkan murid-muridnya seni tilawatil qur’an di satu tempat yang sama. Baik laki-laki maupun perempuan.
Tidak ada diskriminasi atau pembeda dari seni baca Al-Qur’an dan tidak seperti musik yang selama ini jika dibahas selalu mengaitkan diri dengan gender. “Men play, women sing.” Entah mengapa pula dalam batin Bu Anne, musik memiliki gender padahal semua orang bisa sama-sama bernyanyi dan memainkan alat musik. Bahkan konon alat musik pun memiliki gender. Gitar, saxophone hanya boleh dimainkan laki-laki, sementara perempuan hanya boleh menyanyi. Bu Anne melihat Indonesia begitu ramah, terbuka terhadap seni musik.
Bu Anne merasa bersyukur pada keramahan orang Indonesia terhadap antusiasnya mencari ilmu. Jika beberapa orang peneliti seperti dirinya pernah di depak pulang ke negaranya karena tidak memiliki izin, beliau tidak merasa khawatir sebab Bu Anne telah resmi dibiayai beasiswa dan beliau sendiri pun tidak serta merta menulis apa yang ia lihat dan rasakan. Kebiasaanya meminta dikoreksi, mengklarifikasi hingga beberapa kali kepada banyak pihak yang memiliki ilmunya membuat Bu Anne selalu disambut hangat oleh banyak pesantren besar di Indonesia perguruan tinggi islam, diundang ke berbagai acara konsultan penelitiannya dan banyak lagi. Menurut beliau inilah sebenarnya kehidupan dan penelitian yang ia tekuni bahwa tidak bisa kajian ilmu hanya sekedar dari buku maupun internet. Kita harus terjun langsung dan ikut bersama mereka. Orang-orang yang terkait dalam penelitiannya telah menjadi kawan dekat bahkan saudara untuk beliau.

                Begitulah acara hari ini berlangsung sekitar dua jam ditambah sesi pertanyaan. Berlangsung lancar dan penuh kehangatan karena Bu Anne, Ustadz Yahya dan Pak Rois adalah orang-orang besar yang mampu membawa kekakuan akademik menjadi luwes dipahami dan dimaknai pribadi masing-masing. Namun ada sedikit kesedihan bagi saya sebab kesempatan saya bertanya harus tertunda. Lima kesempatan bertanya harus direlakan milik orang lain. Namun tidak juga terlalu sedih sebab mendapat ilmu yang sedemikian banyak tak membuat saya pulang dengan hampa hati. Mulai dari sikap totalitas dalam mencari ilmu, merasakan toleransi, bertoleransi, berfikir kritis dan yang terpenting menjadi rendah hati dengan berapapun ilmu yang sudah kita dapat dan seberapa jauh dunia telah dijelajahi. Kesan yang terakhir saya dapati dari bagaimana Bu Anne menanggapi berbagai pertanyaan yang datang dan beliau mengapresiasi setiap pertanyaan dan memberikan harapan terbaik untuk penanya. Sesi bedah buku harus berakhir karena pemetik dawai al’oud ini harus naik pesawat pukul satu siang.  

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar