Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Harus Tetap atau Berhenti Menulis?

Oleh: Dihyat Haniful Fawad
Pemandangan yang gelap, aku kira ketidak bebasan tersebut adalah hal yang paling dan sangat gelap di dunia. Tidak sebagai pra syarat, tidak juga sebagai pasca syarat. Kebebasan dan ekspresi manusia itu tidak akan pernah dilepaskan oleh satu manusia pun yang hidup di dalam dunianya sendiri.
Terus terang aku sedikit agak pesimistis bila harus hidup tanpa adanya kebebasan berekspresi sebagai diri manusia secara utuh. Keterikatan pada hal yang "formal" pada akhirnya, apakah harus aku "kebiri" kebebasan berekspresi ini setiap suara yang butuh aku tulis? Pengahambaan pada keformalan itu, mungkinkah akan abadi dan tidak akan pernah menjadi binasa pada akhirnya, "antara mejalani gaya hidup formal dan syarat dari ekspresi manusia"?

"Dibalik senyum ini aku tertawa, menulis, dan bekerja secara formal, akankah ini membuat terhambat yang menghambat ekspresi diri sendiri? Aku kira, aku memang belum dapat lepas, tentang padangan formal itu? Mungkin aku harus menjadi keduannya, agar terlihat seimbang menjadi manusia".
Tentang pandangan umum yang harus aku jaga, juga tentang pendapatan dari kerja formal sebagai penopang hidup manusia pada umumnya. Tetapi tidakkah semua dapat diselimuri masing-masing penugasannya? Kerja formal yang mekanis, akankah aku menjadi manusia mekanis pula? Itulah pertanyaan dibalik jiwa yang ingin tetap berekspresi.Semua yang mengundang pertanyaan memang harus dijawab, tidak, ini hanya masalah dari passion saja. Tentang orang-orang yang mencintai hobinya, atau orang-orang yang ingin tetap berkibar dengan diri tanpa ia harus takut menjadi manusia formal itu sendiri.

Menjadi, mungkinkah akan tetap me-represi hobi yang dapat membuat aku merasa hidup kembali, dibandingankan harus bekerja secara formal dengan kadar waktu yang full, tanpa aku menggoresi diriku sendiri dengan tinta-tinta keabadian dengan tulisan?

Tentu ini tidak mudah, meskipun menulis hanya sebagai kesenangan membaca diri, tetapi ini sangat penting bagi setiap pribadi yang mencintai kepenulisan itu sendiri. Seberapaun hebat tekanan, doktrin yang diterima untuk tidak melajutkan menulis berdasar keformalan, semua dapat mentah begitu saja.

Lebih baik tidak menjalani hidup secara formal dari pada harus berhenti menulis. Ibaratnya, menulis adalah jiwa bagi sastrawan. Aku memang masih biasa dan belum dianggap sebagai sastrawan oleh masyarakat umum. Tetapi aku masih bergelut dengan seni untuk menjadi karya sastraku sendiri, dari aku dan akan aku nikmati sendiri.

Tetapi apa peduliku dengan sebutan itu "sastrawan", tidak diakui sebagai apapun, aku tetap akan begini saja, baik-baik saja, dan ingin tetap menulis saja. Terpenting tidak ada yang boleh, bahkan dapat menentang akan aktivitas kepenulisanku ini.

Menulis ibarat sudah menjadi roh-ku, hidupku perlu diseimbangakan dengan menulis tentang aku, budaya manusia dan alam sebagai tempat tinggalku. Baik dan tidaknya tulisanku, itu merupakan kisah-kisah anak-anak rohani dari dalam diriku sendiri.

Mungkin ketika aku tidak kuwatir lagi dengan diriku yang begini, terus mengejar rupiah untuk bertahan hidup.  Tetap aku ingin terus menulis, dan jika kebutuhan hidupku sehari-hari sudah terpenuhi, aku juga ingin terus menulis saja.
Bukan aku tidak mau menjadi manusia "formal" secara utuh, lalu menjadi tipikal orang-orang mekanik dan terstruktur di ruang kerja formal, tetapi semua itu bukan aku dan bukan jiwaku.Menjadi terstrukture aku memang bisa mengikuti, tetapi untuk selamanya menjadi manusia tersetruktur jiwaku tidak mampu, sebab ia "jiwaku" juga ingin bebas akan waktu menikmati bait suaranya untuk didengarkan dan ditulis sebagaimana antara aku dan jiwaku berkomunikasi.

Jiwaku masih butuh seni-seni, aku masih ingin hidup dengan cara lain tidak terstruktur dan mekanis seperti robot disana. Sebagai manusia memang harus kerja, aku dapat dan bisa bekerja. Tetapi aku masih tidak bisa, jika aku kerja secara formal condong ke mekanik dan tersetrukture, yang justru menghalangiku untuk tetap menulis. Karena menulis adalah hidupku, bagian jiwaku, dan panggialan dari hidupku.Memang bukan harapan yang indah-indah besumber dari imajinasi kekayaan akan harta di dunia. Menulis dan kaya, mungkin itu adalah nilai plus yang dapat ia "penulis" rasakan ketika keberuntungan tengah ia raih dalam setiap bait tulisannya menjadi bukit-bukit harta kekayaan.

Bukan tidak mau kaya dari menulis, aku mau, dan itu harapan yang setiap penulis inginkan. Tentu kaya bagi seorang "penulis" untuk supaya dia dapat bebas menulis kapan pun waktunya, karena kebutuhan-kebutuhan hidupnya sendiri sudah terpenuhi dengan hasil kepenulisannya.

Tetapi aku tidak berbicara harapan jauh tentang itu, tidak menjadi kaya asal ada waktu untuk menulis saja bagiku sudah "luar biasa hidup in menjadi manusia". Bukan aku mengikatkan diri dengan menulis.

Menulis bagiku ibarat hidup kedua, upaya membaca diri dan membaca situasi yang dapat di baca oleh batin. Tentu karena ditulis dari batin "intuisi" rasio dapat menimbang, lalu dapat dijadikan sebagai bahan merenung kembali, bagaimana terus betah menjadi manusia?

Menulis bagiku adalah diriku yang lain. Tidak peduli apa yang menjadi aktivitas dari tubuhku. Batinku juga perlu untuk di dengarkan, namun bagaimana aku mendengarkan batinku sendiri? Aku menulisnya, dengan menulis, aku sedang berkomunikasi dengan batinku sendiri.

Tidak peduli menjadi manusia dengan atau menjadi pekerja formal kini. Menulis sudah menjadi bagian dari diriku, bahkan harapan untuk tetap melanjutkan setiap dari waktu-waktuku. Sesuatu itu, menulis merupakan terapi penyembuhan jiwa bagiku. Karena aku tidak mungkin hilang, akan terus tertinggal jejak, dari setiap apa-apa yang telah aku tulis di dalam tinta digital ini.

Perenungan ini, mungkin terus akan menjadi saksi bahwa; tidak peduli bagaimana kondisinya kini. Meluangkan waktu kontemplasi, merenung ditulis seperti telah menjadi kebutuhan dasar aku sebagai manusia.Bersama angin malam ini, aku juga ingin bersaksi, apapun setiap kondisi diri ini, menulisnya seperti menjadi terapi hidup yang sejati. Mau menjadi apapun diriku dengan menulis itu bukan soal. Tentang perjalanan jiwa yang perlu dikenali, ia tidak hanya butuh di dengar, juga butuh ditulis sebagaimana aku butuh diriku sendiri di setiap kondisi.

Antara aku dan menulis, tidak bisa dengan mudahnya untuk ditinggalkan, meskipun karya ini hanyalah receh yang sedikit dihargai. Tetapi bukan itu, yang aku hargai dari aktivitas menulisku sendiri adalah diriku sendiri. Dengan menulis aku lebih menikmati hidup, yang mungkin banyak orang kini mempertanyakan bagaimana menikmati hidup itu? Nikmatku dan tulisanku, abadilah engkau bersama lamunanku kini.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Perum Bukit Cemara Tidar F3 no. 4
darunnun.com
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar