Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NDESO KOEN!(Mudik Lebaran, Belajar Menjadi Indah)


Halimi Zuhdy
"Ndeso Koen"! Kata-kata ini serasa aneh di telinga, kasar, menggertak, membentak dan mencaci.
"Sesuatu yang kuno", menjadi jelek, kaku, tidak gaul, gaptek, bodoh, dan lainnya, selalu dinisbatkan pada kata "wong deso," "kampungan", "qurawi".
Sepertinya orang desa adalah kegelapan yang cercah cahaya tak bersinar, terangnya redup, tingkahnya kurang baik, bisa dibohongi, bloon. Lihatlah bagaimana sinetron berlagak, dengarlah percakapan orang-orang sok kota, selalu terselib bahasa "pantas orang desa".
Benarkah demikian?, mengapa Nabi Muhammad "dikampungkan" oleh Allah, dibawa Halimah Sa'diyah menuju paling desa, belajar mengembala, bermain riang bersama orang desa. Yang akhirnya; bahasa tuturnya menyerap yang baik, perilakunya dita'dib, pergaulannya lembut, makanannya alami dan bersih, bersimpul udara berseri, langitnya bening, sumber airnya jernih, sungguh seperti air mata yang mengalir dari kemurnian cinta. (Sirah nabawiyah).
Para Aimmah (imam), orang-orang besar (udhama'), bukankah kebanyakan mereka dari desa, parapemimpin dunia juga banyak dari desa-desa terpencil, bahkan alamat rumah mereka pun kadang tidak dikenal.
Menjadi orang desa, bukan sesuatu yang aib, ia adalah keindahan, kebahagiaan dan keelokan.
Mengapa harus menghindar menjadi "wong desa" bangga "wong kota". Orang desa dikenal kesederhanannya, kekuatan silaturahimnya, keakrabannya, kepeduliaannya, tolong menolongnya, kebaikannya, ketawaduannya, kemurniaannya dalam memberi, kemurahannya, guyupnya,  dan bahasanya yang santun.

Orang desa yang menetap di kota, karakter desanya kadang masih terbawa; pekerja keras, sederhana, dan sifat lainnya. Namun, ada pula yang tergerus dengan cepat, karena persaingan yang ketat, demi sebuah nama "orang kota" dan takut menjadi "orang desa". Sehingga, generasinya berbeda jauh, ia lebih dimanja, fasilitas serba ada, hidup berpagar kawat, tembok menjulang, jarang kenal tetangga, apalagi harus sederhana. Akhirnya tak punya karakter bangsa.
Orang kota pun tidak semua penuh kedirian, kesendirian, keegoisan, dan kemewahan. Semuanya tergantung bagaimana ia mengendalikan. Orang kota adalah "Madinah" dalam kelilmuan, akademik, pula dalam banyak hal. Sekali lagi, bagaimana ia mrmbawa diri.
Maka, disinilah pentingnya orang desa sekali-kali menjadi orang kota,  dan orang kota menjdesa desa atau kembali ke desa (Sesekali, Mudik Lebaran), walau hanya sejenak henak.  Tuk, Mentadabburi diri,  antara tradisionalitas dan modernitas.
Mari kita mudik, tuk melihat cinta yang pernah tumbuh pada sawah-sawah yang membentang, pada kambing-kambing yang mengembek, pada tetangga yang mencurah senyum, agar tumbuh kemurnian rindu, rindu pada: kesederhanaan, kemurnian, kesejukan, dan keindahan. 
Mari kita mudik,  belajar cara berujar dan berbahasa yang baik, belajar sopan santun yang mulai memantul, dan belajar pada mereka akan "air tanah tumpah darah" yang seaungguhnya.
Mudik Itu Indah
Madura Kau Rinduku
Share on Google Plus

About halimizuhdy.com

1 komentar: