Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tulat

Oleh: Dinantari Susilo



Sekuel Saujana

Dayat menebak namaya “Joko?” Ibu mengangguk dan bayangan Dayat langsung mengarah pada laki-laki yang lebih tua tiga tahun darinya namun mengalami keterbelakangan mental. Ia tak pernah keluar pagar halaman rumahnya kecuali sesekali menggoda orang-orang yang lewat di depan rumahnya, terutama gadis-gadis. Matanya berkelakar mirip bapaknya, yang dulu pun sempat ingin memaksa ibu menikah. Namun Ibu menolak sebab bapak masih hidup meskipun terkena stroke dan bilapun tiada Pak Sleman bukan orang baik yang bisa dijadikan pilihan. Lelaki baik macam apa secara terang-terangan melamar istri orang? Begitu pula Dayat. Siapa rela ibunya menjadi tawanan raksasa botak gila. Keinginan Pak Sleman mencoba berbagai cara dan berhenti pada “katanya” berbaik hati memberi uang bulanan pada keluarga Minah sambil sesekali datang dengan niat ditemani bercengkrama. Dengan kondisi yang tidak bisa dipungkiri membutuhkan, akhirnya, Ibu meladeni cakap-cakap dengan Pak Sleman dan menerima uang bulanan. Sejauh ini hanya itu yang Dayat tahu. Ibu tidak pernah bercerita orang tua itu meminta sesuatu yang lebih dari ibunya.
“Billahi ibuk ndak ridho, yat.”
Memang Minah manis menuruni sifat ibunya yang berkulit kuning dan berlesung pipit. Sesiapa yang menyadari, Minah calon kembang desa dan usianya baru empat belas tahun. Namun karena masih belia dengan sikapnya yang masa bodoh, dirinya mungkin tak mengindahkan beberapa selentingan puji atau lirikan abang-abang sebaya kakaknya di warung kopi. “Duh,.. cueknya, awas jauh jodoh!” Kelakar sebuah suara sesekali.
***
            “Minah, mondok nggeh?[1]
            DEG! Kini hati Minah yang tersirap mendengar kata-kata ibu, lepas shalat isya berjamaah. “Tapi buk, kenapa? Apa Minah sangat nakal di mata ibu dan bapak?” Ibu terdiam dan Dayat juga hanya tertunduk. Kini Minah mendekati kakaknya. “Mas,.. kok aku mlebu pondok, mas? Sepurane talah mas, sing awan mau. Sumpah nggak bakal tak baleni![2]” Mata Minah berkaca-kaca. Begitu pula mata ibu, tapi beliau sangat pandai berpura-pura tidak menunjukkan kesedihan.
“Nggak nduk,.. Minah nggak nakal. Justru karena Minah itu pinter. Eman[3] kalo nggak belajar, tapi ibu sama bapak ndak kuat kalau harus biayai di sekolah formal.”
“Tapi Minah nggak mau mondok buk. Jauh dari bapak, ibuk.” Minah memeluk ibunya. Dayat tersentuh ikut mengusap matanya.
“Nggak papa nduk. Mondok itu ndak lama. Ya sama kayak sekolah. Nanti ibu dan Mas Dayat bakal sering jenguk Minah.”
“Tapi buk...” Tangis Minah mulai meleleh. Dayat mencoba menenangkan diri sambil berkata
“Hush! Malu sama tetangga, nangis keras-keras. Kamu bukan bayi lagi ya. Wes, kamu manut kata ibu saja. Mau jadi anak durhaka? Dikutuk jadi batu!”
Emoh.. [4]huhuhu” Tangis Minah pecah. Ibu tersenyum. “Mas ... ndak oleh njarak adike. Wes nggak usah nangis[5].” Ibu menghapus airmata Minah lalu memeluknya erat. “In shaa Allah ini keputusan terbaik, nduk. Disana kamu nggak cuma belajar, ngaji, tapi juga punya banyak teman. Nggak bosen kamu rebutan layangan sama anaknya Pak Sleman ?” Tangis Minah mereda. “Buk, kalau ini cuma gara-gara layangan. Besok layanganya aku kasih si gendut wes. Asal aku nggak usah mondok.”
“Heh,.. ngeyel ae bocah iki!”
Yo ben![6]” Jawab Minah sinis pada kakaknya. “Uwes nggak usah tukaran.[7] Nggak nduk,.. bukan itu. Sudah,.. sekarang kamu harus ridho dulu sama keinginan ibu. Ndak mungkin to nduk, ibu nyuruh mondok kamu itu sebagai hukuman atau biar kamu sengsara. Ibu macam opo iku ?” Suasana hening sesaat, tapi Minah tak mau melepas pelukan ibunya.
Bayangan-bayangan cerita Fatim tentang arak-arakan itu, bangun malam yang diguyur air, hingga dipaksa menghafal Al-Qur’an dan bahasa arab. Itu bukan dunianya, dia akan dikucilkan. Pikiran Minah melang-lang kemana saja ia bisa pikirkan dalam hening itu. Bahkan ia sempat terfikir tentang Bandi. Ia belum mengucapkan terima kasih.
Ng-nggeh pun buk,.. kula ridho mondok.[8]
“Alhamdulillah.” Ibu mengelus kepala putrinya dan mereka berbalas senyum. “Nah,.. senyum ngunu kan ayu, to[9].” Tambah ibu.
            “Wes to Nah, lek awakmu ridho in shaa Allah bojomu sok anak,e kyai. Hehehe..[10].” Ujar kakaknya. Minah tampak terkejut.
           “Gek opo mas-mas![11]
           “Nggak pengen meluk aku ta?[12]
           “Moh! Mambu mbek.[13]
           “Astagfirullah,.. aku wes adus ya.[14]” Ibu tersenyum melihat dua anaknya.
           “Panggah ae.[15]
           “Lho buk,.. anak e njenengan buk. Kelakuane ancene![16]
            “Wee...!” Ibu membiarkan debat singkat itu berlangsung karena siapa tahu, itulah gambaran saudara terindah yang terakhir bagi mereka.
***
            Minah hanya punya waktu tiga hari untuk melepas dunianya sembari Ibu dan Kakaknya mengurus segala keperluan. Meski katanya Minah telah ridho, namun gadis itu tak tampak antusias ketika diajak Ibu membeli beberapa jilbab dan pakaian baru untuk mengaji. Untung didaerah kampungnya tepat di tepi jalan aspal, ada toko baju yang telah banyak dilanggan orang. Hal ini membuat Ibu tidak perlu membayar ongkos karena mereka memilih berjalan kaki. Sepanjang jalan Minah terdiam. Sesekali ibu mengajak Minah bicara tentang warna baju yang ia suka namun ia hanya menjawab lemah.”Iya” “tidak.” “boleh”. Ibu tersenyum dan menghela nafasnya. Ia tahu, putri kesayangannya sedang berdamai dengan badai dalam dadanya. Ibu memegang tangan anaknya erat.
 “Weh, anaknya mau berangkat mondok ya, bu?”
“Nggeh bu, Alhamdulillah.”
“Dimana bu?” Percakapan ibu dan si penjual baju pun berlanjut. Minah yang memang dasarnya tidak senang dibawa ke tempat itu akhirnya memutuskan keluar. Menunggu di dekat pintu tralis sambil memainkan batu atau tanah dihadapnya. Ia tak sadar ada sepasang mata melihat tingkah lakunya. Sepasang mata bola itu mengerjap beberapa kali. Memastikan yang dilihatnya itu Minah. Ia menelan ludah, ada hasrat dalam dirinya untuk mendekati gadis itu tapi ia sangat gugup. Apa yang ada dalam dadanya membuncah tak karuan. “Apa yang harus ku lakukan?” batinnya. Kakinya masih terdiam meski ada alarm dalam hati untuk maju atau lari dari tempat ia berdiri. Pintu rumah dihadapan, namun rasanya itu begitu jauh. Sementara Minah terlihat dekat, nyata dan sebagai sebuah kesempatan.
“Lhoh,.. kamu?” Minah menyadari dirinya dipandangi lalu mendekat pemilik mata. Ia memastikan itu sosok yang ia lihat bersama anak Pak Sleman lusa lalu. Sang pemilik mata benar-benar tak tahu lagi akan bagaimana. “Eh-Eh-hei.. Minah.” “Kok kamu disini?” “Ini-ini rumahku.” “Kamu,.. namanya Bandi kan ya? Yang kemarin main sama gendut?” Sosok yang ditanyai hanya manggut-manggut. Ia tak menyangka gadis itu tahu namanya. “Ah, iya kan. Bener. Aku nggak pernah salah ngenalin orang. Oh,.. iya kok kamu tahu namaku sih? Si Gendut pasti bicara macam-macam ya?” Selidik Minah. Kini Bandi mulai bisa agak santai. “Ah, itu,.. Iya beberapa kali namamu disebutnya.” “Hu-uh. Memang anak itu! Aku kasih tahu ya,.. kamu jangan percaya sama omongan anak itu! Kamu sepertinya anak baik-baik, jadi jangan terpengaruh sama kata-katanya. Aku tahu sih, mungkin aku suka lari-larian, ngejar layangan tapi aku ini tetep anak baik-baik. Buktinya aku mau mondok.” Kata gadis itu bangga. Bandi sama sekali tak menyela kata-kata gadis manis dihadapnya. Semua informasi itu dibagi Minah secara gratis dan Bandi menganguk-angguk. Namun ada satu fakta menarik. “Ha,.. kamu mau mondok?!” “Iya. Kenapa? Kamu nggak percaya?” Bandi terbata “Ah,.. enggak. Bukan. Cuma.. Cuma mau bilang, a-a-aku,.. Aku juga sebenarnya anak pondok, cuma, aku mengambil izin libur seminggu soalnya paman yang bujang di Kalimantan sakit dan meninggal lusa lalu. Kami sekeluarga melawat.” “Oh.. begitu.”
Ada jeda diantara percakapan keduanya.
“Terus.. kamu kembali ke pondok kapan?”
“Kamu mau berangkat mondok kapan?” Tanya mereka berbarengan lalu disusul tawa ringan mereka.
 “Kamu nggak perlu sedih. Pondok itu menyenangkan kok.”
“Iya? Kok bisa?” Astaga! Tanpa sadar Bandi telah berani memulai sebuah percakapan. Ada sedikit kebanggaan dalam hatinya. “B-B-boleh kita ketemu lagi besok? Akan aku ceritakan hal-hal yang menarik.” “Wah dengan senang hati! Sesuk anding Sawah.e masku yo[17]! Habis bantu mas ngarit, kita ketemu.”
***
Begitulah dua hari berlangsung. Bandi menghampiri Minah di dekat sawah dan mengajaknya bercerita banyak hal. Sesekali Bandi menawarkan diri membantu Dayat menyabit. “Lhoh,.. iso to le?[18]” “Saget lah, mas. Pun biasa ken angon wedhus.e yai kula.[19]” “Weh.. hebat!” Dayat tampak senang dengan Bandi dua hari itu. Pekerjaanya menjadi lebih ringan. Bukan perihal fisik, tapi dalam hal menasihati adiknya. Sesekali Dayat juga menyimak cerita dari Bandi. “Gak onok ceritane, sepi wes![20] Di pondok itu selalu ramai dan anaknya kompak-kompak. Sekalipun harus ditakzir.” “Ha? Opo iku? Takir? Oh.. syukuran?” “Hus, ngawur. Dek Kasir. Iku lho sing biasane ngge bayar-bayar belonjo.” Bandi tertawa kecil melihat reaksi kakak beradik itu. “Takzir itu hukuman, mas. Maksudnya. Buat ngajarin disiplin.” Minah dengan matanya yang sesekali mengerjap bertanya. “Lhah berarti bener dong yang selama ini Fatim bilang?” “Iya memang, tapi maksud pondok, takzir itu semata-mata untuk pembiasaan baik santrinya. Tidak bermaksud menyiksa. Sekalipun anak itu malu, malunya hanya dihadapan orang-orang yang sedikit. Coba kalau malunya di akhirat? Saksinya Tuhan dan manusia semesta alam.” Minah matanya membulat, keridhoannya mungkin sedikit bertambah.
Sebelum benar-benar berpisah, senja itu Bandi mengulurkan selembar kertas. “Kita mungkin nggak se pondok, Nah, tapi kalau kamu ada apa-apa atau butuh sesuatu mendesak. Hubungi nomer ini ya dan mengaku kalau kamu saudaraku. In shaa Allah aku bisa membantumu.” Minah menerima kertas itu. Ada perasaan berdesir dalam hatinya namun ia tak ingin lanjutkan. Ia bisa merasakan pipinya menghangat. Minah sadar, dirinya tidak baik-baik saja. “I-Iya.. Makasih, Ban. K-ka-kamu baik-baik di pondok ya. Jaga diri.” Belum Bandi menjawab, Minah berlari menyusul kakaknya menuntun sepeda. Laki-laki itu hanya tersenyum dan ketika ia hendak melangkah lebih jauh. Samar ia mendengar teriakan Minah. “Mas.. Aku isiiiiin...[21] 
***
           Hari ini hari terakhir Minah di rumah. Pagi selepas subuh, ketika jingga fajar bermain lembut, Minah telah berpakaian rapi dan membawa satu tas ransel besar. “Pak,.. kula pamit nggeh.[22]” Minah mencium tangan bapaknya lama lalu memeluk beliau. Air hangat mengalir dari kedua mata bapak dan beliau menganguk meski berpayah. Ada kelegaan, kebanggaan dan harapan dalam hati bapak melihat anaknya pergi meski ia akui itu berat. Ibupun demikian, namun lagi-lagi ibu berhasil menyembunyikan kesedihannya. Ia tak ingin Minah berubah pikiran ketika melihatnya menangis apalagi sekarang pun ia sudah memiliki mata kaca. “Uwes,.. nggak usah nangis, nduk. Niat ingsun golek ilmu sing tenanan yo?[23]” “N-ng-nggeh buk.” Gagal. Tangis Minah pecah. Dayatpun sepertinya ikut-ikut meneteskan airmata namun ia belajar menutupinya seperti ibu. “Lah-lah malah tambah nangis. He,. Uwes he.. ayo selak awan[24].” Kini Minah benar-benar telah mengumpulkan niat dan tak akan mengecewakan kedua orang tuanya. Terlebih semalam ia telah mengetahui alasan sebenarnya dari permintaan ibu yang tiba-tiba ini. Hari ini konon Pak Sleman dan keluarga besarnya akan datang resmi melamar Minah untuk Joko. Meski mungkin pondok hanya sekedar alibi, namun dari kisah-kisah Bandi, membuat gadis ini ingin belajar lebih banyak dan insting mempertahankan dirinya terpaksa berontak dan memilih menjalankan kehendak ibu. Lalu bagaimana dengan hari ini nanti? Bagaimana jika Pak Sleman datang bersama keluarga besar dan ternyata Minah tidak ada? “Biar saja mereka malu dan merasakan jera. Jika tak begitu, mungkin mereka tidak akan melepaskan kita.” Ujar Dayat diantara dinginnya pagi mengantar adik tersayangnya memilih jalan yang benar.


[1] Minah, mondok ya?
[2] Mas kok aku dimasukin pondok, mas? Maafin yang tadi siang. Sumpah aku nggak akan ngulangin.
[3] Sayang
[4] Nggak mau!
[5] Mas,.. nggak boleh menggoda adiknya. Sudah nggak usah nangis.
[6] Ya biarin!
[7] Sudah nggak usah bertengkar
[8] I-Iya buk,.. saya ridho buat mondok
[9] Nah,.. kalau senyum gitu kan cantik ti?
[10] Sudahlah Nah, kalau kamu ridho, In shaa Allah suamimu besok anaknya pak kyai.
[11] Apaan sih mas!
[12] Nggak mau meluk aku?
[13] Nggak mau! Bau kambing.
[14] Astagfirullah,.. aku udah mandi ya.
[15] Tetep aja.
[16] Lhoh buk,.. anaknya ibuk itu liat. Kelakuannya ya memang!
[17] Besok disebelah sawah masku ya!
[18] Lho kamu bisa dek?
[19] Bisalah mas. Sudah biasa mengembalakan kambing pak kyai.
[20] Nggak ada ceritanya sepi deh!
[21] Mas,.. aku maluuu!
[22] Pak,.. saya pamit ya.
[23] Niatkan hanya untuk mencari ilmu sungguh-sungguh ya?
[24] He,. Sudah,. He. Ayo keburu siang.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar