Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Triman, Kembali Kepada Masa Kecil yang Lebih Dewasa





 Gagang sapu perlahan mulai menelusuri setiap sudut marmer putih, debu – debu mulai berterbangan dan berkumpul pada satu ruas. Hari itu senjanya terasa lebih kering dari biasanya mungkin karena hujan yang sebulan lamanya tak jatuh di desa pasir ini.  Derung knalpot bersautan seiring pulang perginya para buruh pencari uang.  Warung kopi juga sudah mulai ramai dengan para pekerja kampung sebelah, sekedar  istirahat sembari menyesap kopi pahit atau berburu kasbon untuk sebungkus rokok Djarum Super.
Gagang sapu telah kembali pada tempat semula dan marmer putih telah bersih dari noda. Merasa sedikit penat aku mengistirahatkan diri pada sebuah kursi jati  polos tak berukir disudut ruang tamu sambil  memandang langit – langit penuh bekas rambesan air dengan nafas yang kembang kempis. Beberapa saat terdengar suara mobil parkir di depan rumah, dari mobil pick up tersebut keluar  laki – laki paruh baya disusul istrinya dengan balita bergelayutan manja dalam gendongannya.
“Assalamualaikum”, salam lelaki paruh baya tersebut.
“ Wa’alaikumsalam “  aku menjawab dan mencium tangan laki–laki dan sang istri bergantian
“ ibu ada nduk ? “ Tanya sang istri kepadaku .
“ Wonten lek “ jawab ku.
“ Kok dirumah nduk, sudah selesai kuliahnya ?”. Tanya lelaki yang merupakan adik ipar dari  ibu.
“ Belum pak lek, ini masih ngurus skripsi”,  jawab ku.
“ Semester berapa sekarang ?“. Tanya pak lek.
“ Semester delapan pak lek “ aku menjawab 
“ emmm, yaudah segara diselesaikan"  nasihat pak lek
“ injeh, Mohon doanya juga pak lek" jawab ku sembari mohon doa.
 Percakapan berhenti dan teralihkan oleh kedatangan ibu yang baru selesai mandi. Kemudian ibu menginstruksikanku untuk membuatkan minuman. Dari dalam dapur terdengar samar – samar pembicaraan mereka, tidak tahu pasti apa yang dibicarakan sepertinya bukan perkara hal yang teramat serius. Setelah meletakan minuman dimeja tersebut kemudian aku duduk dilantai bermarmer putih. Sambil mendengarkan percakapan antara kaka beradik tersebut.
“ Alahamdulillah rumahnya sudah bagus sekarang, padahal cuma buka warung kopi lo mbak tapi bisa menguliahkan anak dan bangun rumah juga”, ucap pak lek
“ Enggih Alhamdulillah, dulu tidak kepikiran bakal bisa bangun rumah,  Bisa nyekolahin anak sampe lulus SMA aja ketir – ketir  bisa apa enggak “ . Jawab ibu.
“Yowes podo ae Mbak . Saya ini juga sudah jatuh bangun, Pekerjaan apa saja sudah saya kerjakan , dari pedagang sayur, pedagang kerupuk,  ujungnya jatuh juga”,  jawab pak lek setelah menyeruput kopi yang aku hidangkan.
“Alhamdulillah sekarag sudah enak  jadi penjual bunga, walupun perjuangan juga iki mbak, dari bermodalkan motor kulakan bunga dari malang ke bojonegro subuh - subuh  kedinginan, sekalinya punya mobil dicuri orang”. Tutur pak lek.
“ Halah ilang siji Mbalik telu”  Jawab ibu
“ hehehe… , yo Alhamdulillah Mbak, ini juga berkat bantuan jenengan,  yang sering bersedia di utangi”. jawab pak lek
“ Yo jenenge dulur, piye gak piye yo kudu direwangi sak isone”  jawab ibu sembari mengendong keponakanya.
Mendengar percakapan kakak beradik tersebut membawa lamunanku pada kenangan masa lalu dimana ekonomi keluarga sedang susah – susahnya. Ingat sekali disaat semua tetangga kebanyakan sudah punya motor, keluargaku hanya punya sepedah ontel.  Satu  sepada punya bapak  “jengki” tua waran hitam, satu lagi sepadah mini warna pink yang sebernarnya dibelikan untukku sebegai kendaraan untuk sekolah tapi pada akhinya sering digadaikan jika keuangan mulai sangat memburuk karena bapak tidak ada pekerjaan dan ditebus lagi kalau sudah membaik. Setiap hari hanya sarapan tempe dua buah sebelum berangkat sekolah, berangkatnya pun akhirnya nebeng sama temen karena jaraknya cukup jauh untuk dilalui dengan jalan kaki. Dulu mau makan bakso saja harus nunggu sisa dari adikku. Bapak dan ibu tentu saja tidak merasakan bakso tersebut karana hanya  mampu utuk beli satu bungkus saja dengan harga  tiga ribu rupiah saja.
Saat semua teman bapak sering kumpul diwarung kopi, bapak hanya mengurung diri di rumah karena tidak ada uang. jika teman – temanya bisa menghabisakan beberapa bungkus rokok dalam sehari bapak hanya mencukupkannya dengan tiga batang rokok saja dengan harga seribu.  Sedangkan ibu pernah sampai keguguran gara – gara harus berjalan kaki dengan bawaan dagangan yang tidak ringan setiap harinya.
Rumah masih ikut sama Mbah Dok dari bapak. seadanya beralaskan tanah, hujan deras bocor sudah biasa, dapur kebanjiran juga sudah biasa buat kami. musim kemarau kekeringan harus cari air sampai jauh juga biasa bagi kami. Keluarga kami tak memiliki sawah seperti tetangga yang lainya dan juga tidak punya hewan ternak. Walaupun dulu sebelum Mbah Nang almarhum, keluarga punya sawah yang cukup produktif, akan tetapi dijual saat mbah sakit dan membutuhkan pengobatan lebih. Akhirnya setelah Mbah Nang meninggal dunia, bapak hanya bekerja sebagai Kuli bangunan dan ibu jualan dikantin sebuah TK kecil yang ada di desa.
Tapi sungguh tak sekalipun ada keluh kesah dihati meraka. Bahkan akupun tak pernah merasakan kesedihan yang teramat sangat saat temanku yang lain bisa makan enak jalan – jalan ketempat wisata, dan pakai baju bagus pun aku tak terlalu memperdulikanya. Mungkin karena keluargaku memang diajarkan untuk “Triman”  apapun yang ada ya dinikmati, ketidakadaan pun juga harus dinikmati. Tak pernah sekeluarga merasa miskin karana merasa cukup.
Mungkin buah dari kesabaran dari bapak, ibu dan pak lek yang membuat meraka bisa menjadi seperti sekarang. Bukan orang kaya juga sebenernya, masih banyak di desa yang lebih kaya daripada kami. Tapi rasa “Triman” itulah yang membuat orang – orang memandang kami kaya.
“ Sekarang nduk tugas kamu untuk belajar yang pinter.”
“ jangan lupa sama orang tua dan jadi orang yang legowo”.
Nasehat dari pak lek sesaat sebelum pamit untuk pulang membuyarkan lamunanku. Dulu aku sekeluarga bisa menerima dengan lapang dada apapun keadaan yang ada di kelurga kami. Soal makanan pun kami tak pernah rewel. Terus kenapa sekarang aku yang sudah besar ini malah terkesan manja, maunya yang enak dan pasti – pasti aja. Mungkin kedatangan pak lek sore itu sebenarnya peringatan untuk kembali pada masa kecilku yang lebih dewasa dan Triman dengan semua pemberian Tuhan.

Na’aN
Malang, 8 mei 2019
Pondok Pesantren Darun Nun
Ujung kamar nomer 4 dengan lampu padam
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar