Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

" Tiket pulang dan harapan "

Oleh : Neng Sumiyati 




    Bulan Ramadan menjadi bulan yang paling dinanti bagi para perantau, karena ada penantian dan harapan yang sudah dinanti sejak lama, membahas tiket pulang menjadi kebiasaan sehari-hari ketika bulan Ramadan tiba, ada cahaya binar tersendiri ketika memeriksa tiket pulang atau ada yang tertunduk sepi dan bertanya pada diri mengapa harus pulang.

   Pulang bukan hanya sekedar menuntaskan kerinduan, namun juga memperbarui harapan, sering kali kita mendengar pepatah bahwa “ Sang Perantau pantang pulang sebelum sukses”, tentu saja slogan yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bukan hanya sekedar ungkapan namun juga ada tekad didalamnya.

   Menggengam tiket pulang tentu ada pengorbanan, jika hanya melihat kawan yang menggenggam tiket bersimbol garuda itu sudah biasa, namun ketika melihat tiket bersimbol lain atau kereta ekonomi tentu ada alasan tersendiri mengapa memilih untuk menggenggamnya, ini bukan hanya berbicara tentang tiket namun juga ada beribu cerita didalamnya.

    Harapan dan tekad selalu digenggam oleh para Perantau sejak melangkahkan kaki menuju Bandara ataupun Stasiun Kereta, bukan hanya itu saja yang digenggam namun juga sang Perantau selalu menyiapkan jawaban atas ribuan pertanyaan yang dilontarkan oleh orang tua maupun tetangga.Terkadang sang Perantau tertunduk malu saat ditanya bagaimana rasanya hidup di perantauan, atau hanya tersenyum saat ditanya bagaimana kabar  tentang kewajiban, entah yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.

   Karena pulang bukan hanya sekedar menyudahi kerinduan, terlebih banyak kisah dalam perjalanan, jika menggunakan pesawat tentu sang perantau harus bersabar dengan harga yang membuat mata membesar, terkadang juga disertai dengan jadwal keberangkatan yang terlambat.Begitu juga sebaliknya, sang perantau yang menggunakan kereta harus mampu bertahan selama belasan jam dan hanya ditemani dengan riuhnya suara rel ketera api, namun itu semua tidak menyurutkan tekadnya untuk menyudahi kerinduan.

  Tapi semua perantau mempunyai kisah masing-masing dalam pengorbanan untuk menyudahi kerinduannya, terlebih lagi bagi teman-teman yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, yang harus bertahan menunggu kabar pulang, ada yang bisa berlebaran bersama keluarga.Tapi tidak dapat dipungkiri banyak dari teman-teman yang tidak bisa berlebaran bersama keluarga karena jadwal liburan yang tidak sama dengan Indonesia.

   Resiko itulah yang harus dihadapi sang perantau, hal ini juga berkaitan dengan alasan mengapa ketika pulang harus ada harapan entah untuk orang tua, guru maupun sahabat, maka dari itu sang perantau hendaknya menyadari bahwa pulang  bukan hanya peluh lelah yang dibawa pergi namun juga perubahan diri, jika pulang hanya diartikan sebagai obat kerinduan namun tidak membawa perubahan maka itu tidak ada apa-apanya.

   Tapi dibalik banyak perantau yang tidak sabar untuk pulang, ada juga sebagian orang yang hanya menatap kosong saat melihat tanggal liburan, ada perasaan aneh dalam hati, yang tiba-tiba saja membuat mata memerah karena dia tidak ingin pulang untuk melihat pusara kedua orang tuanya.Ada juga yang tertunduk lesu melihat tanggal liburan, karena bingung bagaimana caranya agar bisa pulang.

  Tapi sebenarnya bagaimanapun nantinya, sang perantau harus tetap kembali ke asal, entah bagaimanapun caranya.Karena masih banyak orang yang menantinya, menanti perubahannya, menanti kisah-kisahnya.Alasan tentang keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang jika diimbangi dengan usaha untuk tetap pulang, itu  akan terjadi namun ada prosesnya.


  Tentang Pusara, tentu tidak mudah.Namun bagaimanapun harus disadari bahwa pada akhirnya semua orang itu akan pergi, jangan sampai mengedepankan ego sehingga menyesali yang memang sudah terjadi.Karena yang pergi juga akan ada gantinya, entah kerabat atau sahabat yang masih terus menanti kedatangan sang perantau pulang.Semoga pulang tidak hanya sekedar pulang, namun juga membawa perubahan.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar