Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sekelebat Bayangan Tentang Pulang

Oleh: Dinantari Susilo


Pulang tak pernah merdu bagiku. 
Ceramah bukan hal yang inginku dengar setiap menapak kaki di tanah asal. Jika tidak sengaja diputar dengan volume yang keras, aku memilih untuk tidak mendengarnya. Kebaikan itu diseru dengan nada keras, menghentak, bernuansa serius dan memberi rasa bersalah. “Makanya...” adalah satu dari sekian pilihan kata diawal mulaan kalimat yang paling sering terucap. Mungkin seperti ini maksud orang, sebaik-baik niatnya, jika tersampaikan dengan cara yang salah tidak akan sampai ke hati. Aku semakin ingin menutup telinga. Bisakah nanti saja ? Bisakah nasihat-nasihat kebaikan itu nanti saja? Atau setidaknya setelah semua ini. Setelah semua kata-kata jahat yang terucap dari mulut-mulut yang sama bisa aku telan bulat-bulat. Belum habis satu penyesalan, datang lagi yang lain. Bertubi-tubi. Pertanyaannya,... kenapa harus setiap aku pulang?

Baiklah! Mungkin memang akhirnya tak ada jalan lain. Aku mengalah. Mau apalagi ? Aku berjalan menjauh sebisaku, memasang senyum semampuku, mencoba menolak semua hal yang tidak ingin aku dengar dengan cara yang lebih baik dari nasihat -nasihat yang dipaksakan hampir di setiap pagi. Jujur,.. ini melelahkan! Tapi kepahitan ini punya penawar. Allah mengelilingiku dengan kebaikan di luar rumah. Setidaknya aku masih punya pilihan. Kepahitan di rumah membuatku bisa merasakan manisnya dunia luar. Senyum kawan-kawan, guru-guru yang mempercayaiku tumbuh dengan baik setidaknya kabar baik juga bagiku. Ya setidaknya aku belajar. Aku belajar berharap bahwa pulang indah dan baik-baik saja nyatanya tidak demikian. Ia tempat yang baik menempa diri. Diluar melalui banyak hal aku belajar bahwa diam juga termasuk bentuk tawakal. Tunduk bahwa setiap nasihat-nasihat itu benar dan sebagai anak, hanya bisa mendengarkan. Potret yang ku tatap tiap kali menyapu ruang tengah seolah foto perpisahan sebelum semua tahu yang sebenarnya. Sebatas memori.  

Pulang membawa kenangan usang.
Dinding-dinding ini, saksi dimana terjadinya titik balik banyak masa hidup. Pernah ada tangis dari manusia-manusia yang khilaf. Meminta maaf lalu kembali berdusta. Berkasih-kasih lalu memaki-maki. Menyesal lalu berlaku lagi. Semuanya manusia khilaf. Termasuk diriku. Pulang mengingatkanku ada saat aku memilih menjadi orang lain. Memiliki takdir yang lain. Memiliki orang tua yang lain. Aku ingat betul laki-laki dewasa itu menyuruh kami bergegas berangkat sekolah sebab pagi itu harus diwarnai pertengakaran hebat dengan wanitanya. Motor dilaju dengan kecepatan penuh tanpa peduli ketakutan kami. Lalu, dinding-dinding ini pula masih tak berubah warnanya. Masih seperti saat terdengar riang tawa teman-teman masa kecil yang sesekali mampir. Tapi sekarang mereka tak lagi berwajah ramah. Menua. Namun semua itu kembali bukan apa-apa. Sekedar menyapa bagiku itu lebih dari cukup. Setidaknya mereka tidak melupakan hadirnya diri meski hanya datang sesekali pulang, terlihat hidup dan menyempatkan diri mendengarkan anak-anak kecil mereka mengaji. Meski pula tak pernah ada ceritanya mereka bahagia menyambut manusia ini pulang. 

Pulang membuat memasak bukan hal sederhana.
Aku suka makanan enak. Aku suka memasak tapi aku tak pernah suka di dapur. Memasak ketika pulang adalah salah satu kegiatan paling ingin ku hindari, meski aku tahu memasak adalah kewajiban bagi seorang perempuan dalam keluarga ini. Bukan sebab pekerjaannya, tapi soundtrack yang mengikuti dibelakang. Di dapur tak ada keheningan. Topiknya tak pernah berubah. Perempuan paling tua dikeluarga ini, selaku pemilik dapur yang sah berucap apa saja yang ia tahu. Ah,.. beliau tahu semuanya. Masa bodoh orang lain mau tahu atau tidak. Ia yakin, ia sangat tahu dan itu yang terbaik. Begitu pula apa yang terjadi dengan tempatku pulang. “Nih ya,.. yang bener itu....” Masih senada dengan “makanya” membuatku lagi-lagi memilih menjauh. Alasan mengapa luka lama selalu mudah terkoyak. Namun sesekali aku bisa bertahan. Karena aku harus tetap hidup untuk makan lalu memperbaiki hidup. Memperbaiki keluarga ini. Jika aku tak sependapat dengan kokinya, aku masih bisa memasak sesuatu. Meski konsekuensinya itu bukan hal yang menyenangkan.

Namun pulang adalah kesembuhan. 
Dari sekian alasan, wanita yang kucintai adalah jawaban terbaik mengapa aku tetap memilih pulang. Wanita yang pernah bilang ingin memiliki rumah kecil diujung jalan, agar paket atau surat bisa sampai dengan mudah. Wanita yang kucintai sebab ia yang satu-satunya yang memaafkan segala kekhilafanku. Keanggunanya bisa membuatku jujur atas dosa terbesarku. Bahkan setelah itu, ia masih berharap padaku. Ah,... jika bukan karenanya, mana mungkin aku akan pulang. Kembali ke tempat dimana luka terbesar tertoreh, sesekali menganga tapi kemudian,  tak pernah malu aku mengakui luka itu pelajaran berharga. Masih bisa kuharap suatu ketika akan sembuh total. Aku pulang untuk sebuah kehangatan khas saat memeluk luka ini. Rindu kepadanya yang setia mendengarkan setiap beban hati yang bisa kubagi. Kenyamanan saat kupeluk tubuh dan mencium aromanya yang hangat disaat matahari sedang tak ramah, kucium kedua pipi yang lembut meski sudah tak muda untuk kulitku yang kasar sebab sepanjang tahun belajar dan bekerja di dunia luar. Tak lupa kusempatkan memijit dua telapak kakinya yang masih sanggup berjalan meski tak sekuat dulu. Ibu,.. anakmu pulang. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar