Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SAUJANA

Oleh: Dinantari Susilo


            Derap langkah tiga bocah kampung di siang menjelang sore itu dipercepat ketika ketiganya menatap satu titik yang sama. “Kejaaar !” Salah seorang bocah berbaju biru memberi aba-aba. “Wooi.. Tunggu!” “Ayayayay! Punyaku!” Dengan semangat memburu, seperti mereka mengabaikan matahari siang itu. Ketiganya berlari mengejar harta karun di angkasa. Mata mereka awas, sesekali melihat ke atas tapi juga memperhatikan jalanan desa yang tidak rata. Tanpa sadar mereka menuju area sawah dan hampir sesekali menabrak para petani yang beranjak pulang, hebatnya mereka tetap bisa menjaga keseimbangan. “Heh! Bocah gemblung!” Gerutu Dayat yang baru saja meletakkan hasil menyabit rumputnya tapi langsung jatuh terduduk di dekat sepeda. Dari balik caping ia melihat satu anak yang pembawa tongkat kayu kecil menjulur lidah. “Wee!” “Woo dasar! Bukannya minta maaf malah ngeledek.” Belum sampai dia berdiri, tampak sekelebat banyangan dari sisinya melesat menuju ke arah bocah-bocah itu. “Ya Allah,.. Minaah! Baleek!!” Suara Dayat hanya angin lalu bagi sosok itu. Beberapa tetangga yang melihat kejadian itu tertawa kecil melihat Dayat tak berdaya dikerjai anak-anak kampung.
“Hahaha... Yat, Dayat! Apes banget. Udah jatuh, ditinggal adikmu lagi.”
“Nggak nolongin mas nya, malah ikut ngejar layang-layang. Hahaha...”
Cah putri kok koyo ngunu, to Yat? Diopeni adik e sing genah ! [1]” Sindir seorang ibu-ibu yang membawa bakul berisi panen jagungnya. Mendengar semua itu Dayat bangkit membersihkan diri sedikit lalu sedikit mendengus, ia menjawab ucapan-ucapan tetangganya dengan santai. “Nggeh pak, bu,.. mantun niki kula pondokne mawon si Minah.[2] Siapa tahu bisa jadi menantunya pak kyai.” “Halah... calon mantune yai kok, senengane nguber layangan.[3] Hahaha” Kelakar salah seorang yang lain lalu mereka perlahan berlalu. Namun Dayat? Jangan kira akan berdiam diri. Menjadi tameng untuk keluarganya menggantikan bapak bukan perkara main-main. Ia merunut kiranya keempat anak itu berlari.
“Pasti bakal sampai area kebun salaknya Pak Sleman ini. Gawat!” Meski ada keyakinan, Dayat berharap keempat bocah itu, terutama adiknya tidak sampai masuk kesana. Tidak pernah menyenangkan berurusan dengan ketua RT wilayahnya. Meski Pak Sleman selalu bermurah senyum pada Dayat dan keluarganya. Dayat tahu lelaki itu hanya menginginkan ibunya. Pernah suatu kali, Dayat mencuri dengar percakapan ibu dan Pak Sleman ketika lelaki paruh baya botak itu datang memegang tangan ibunya yang gemetar, ibu dimohon jadi istri duda botak itu. Untung Dayat segera datang dan berpura mencari pematik api. Ah, Pak Sleman, laki-laki tua yang mungkin sudah gila. Tergila-gila bahkan. Pendiam dihadapan warga lain tapi lemah lembut pada keluarganya. Masih ingat pula Dayat hendak dibelikannya sepeda motor, namun ditolak.
            ***
            Lain mata lain pikiran. Minah tampak menggebu mengikuti harta karun yang melayang sore itu. Tak dipedulikan warna jingga merayap. Setelah lama mengejar, layang-layang itu terbang merendah. “Sikat Pri!”Si kaos biru memberi aba-aba menggapai benang atau badan layang-layang pada anak laki-laki yang memegang tongkat kayu. Hup! Hup! Mencoba beberapa kali namun ia gagal. “Aduuh dikit lagi.” Masih mencoba mengagapai-gapai, setiap orang mencoba. “Hyap! Dapat!” Minah yang mencoba sekian kali meski harus beradu badan dengan tiga bocah laki-laki itulah yang akhirnya mendapat harta karun. “Yee! dapat. La la la, yeye,.. La la la, ye ye!” Selagi anak perempuan itu berjingkrak ria ketiga anak laki-laki sebaya yang menjadi lawannya menatap kesal.
Du-uh! Nggangu... ae cah wedok iki![4]
“Iya! Harusnya layang-layang itu punyaku tahu!” Si kaos biru itu mendorong Minah
“Lah,.. mana bisa? Siapa cepat, dia yang dapat!” mendorong Minah.
“Eh Minah, jangan mentang-mentang badan paling tinggi ya ! Kamu itu cuma perempuan.” Sergah si pembawa tongkat kayu. “Yee.. biarin. Pokoknya layang-layang ini punyaku !” “Woo ngunu ya! Liat aja besok kamu, nggak ada lagi jatah bulanan buat keluargamu dari bapakku.” “Hah? Maksudnya?” Si kaos biru tampak bersungguh-sungguh dengan wajahnya.”Ayo pulang, temen-temen!” Sementara satu dari ketiga anak laki-laki itu terdiam melihat wajah Minah yang ceria. Ia tahu ia masih belia belum juga genap usianya enam belas tapi melihat Minah tersenyum bangga dengan layang-layang itu, ia semakin percaya bahwa ada yang mengatakan keluarga Minah adalah keluarga keturunan kembang desa. Lesung pipit dan mata keciknya berbeda. “Bandi, ayo mulih! Nggak usah bolo karo genter mlaku[5].” Kata si kaos biru dari jauh, lalu laki-laki sebaya Minah yang bernama Bandi itu membuyarkan lamunan dan mengikuti dua kawannya.
            Menyadari tatapan Bandi, sebenarnya Minah ingin bertanya atau sekedar terima kasih karena ia tidak ikut mengoloknya seperti si kaos biru dan si pembawa tongkat kayu. Namun suara menggelegar kakaknya menyadarkan Minah akan sesuatu.
            “Minaah!” Tak ayal sebuah jeweran hinggap di kuping kirinya.
“A-a-a-a sakit! Sakit! Sakit!”
“Hmm.. biar aja! Siapa suruh kamu ngejar layangan?”
 “Aduuh..”
“Jam segini tu ya, kamu harusnya pulang, bantu Ibuk masak, tahu?! Males aku kalau caramu kayak gini, Nah. Ojo sekarepmu dewe. Tak pondok no lho awakmu![6]
Emooh mas![7]” Minah mulai merajuk. Entah mengapa ancaman itu selalu efektif memberi efek jera pada Minah. Ia paling takut dengan pesantren yang konon aturannya ketat sekali dan tidak punya waktu bermain. Gadis mata kecik itu mendapat gambaran pesantren lewat Fatim, kawan SD nya di kampung sebelah yang lanjut SMP pesantren. “Kau tahu, Minah. Disana itu kalau ketahuan dekat sedikit saja dengan lawan jenis, diaraknya kamu keliling pesantren sambil berkerudung paling beda warnanya.” “Kamu pernah, Tim?” Yang ditanyai matanya mencari titik di atas kepalanya. “Eh,.. itu sih.. ya.. enggaklah. Kan aku anak baik.” “Hii,. Gitu ya?” Minah merinding. Membayangkan bagaimana kabarnya jika ia ketahuan suka mengejar layangan dengan banyak anak laki-laki. Sejauh ia memandang Pesantren masih eksklusif, rigid tak menyenangkan. Minah lupa menanyakan pada kawannya itu apa yang menarik dari pesantren yang membuat Fatim betah.
Ojo dibaleni![8]” Kata Dayat sekali lagi sambil menyentil telinga Minah.
“Aw,.. Nggeh, mas.[9]” Suaranya merendah. Mereka masih berjalan beriringan ditemani kemilau senja yang makin memerah. Bisu menghiasi jalan tiba-tiba buyar dengan pertanyaan Minah. “Mas, memangnya keluarganya Pak Sleman ngasih apa sih buat kita setiap bulan?”
            DEG! Mas Dayat tersirap. Apakah Minah mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diketahui? “Maksud si gendut, anaknya Pak Sleman tadi apa ya mas? Bilang jangan harap dapet jatah bulanan lagi ?” Kakak Minah terdiam lalu begitu terlihat atap rumah mereka Dayat terseyum. “Ayo balapan, siapa yang sampai rumah duluan, bakal bebas cuci piring tiga hari.” Dayat mendahului start. “Lhah lhah.. Mas Dayat curaaang!” Larinya diikuti Minah. Meski sesampai di halaman Minah tetap juara karena Dayat masih harus memarkir sepeda.
            “Uwaaa...” Minah terkesima. Di meja makan tersaji makanan yang agak banyak dari biasa. Ditambah ada pula aneka buah. “Ada orang yang hajatan ya buk?” “Iya.” Jawab ibu singkat di balik bilik ayahnya. Minah yang merasa ini mukjizat langsung duduk di depan hamparan aroma sedap dan mengambil buah dari satu keranjang parcel. Dayat yang masuk menyusul Minah ikut terkejut, namun ia tidak banyak berkata. Ia langsung menghampiri ibunya yang menyuapi bapak di kamar. “Buk..” Kini nadanya serius. “Dari pak Sleman?” Ibu mengangguk pelan. Dayat menghela nafas. Ada saatnya ia benar-benar tidak suka menjadi orang miskin yang tidak bisa menolak segala kebaikan orang lain. Terlebih Pak Sleman. Sekuat apapun senyum ibu mengembang, berusaha menutupi kecewa atas kemalangan nasib, menutup telinga dari cibiran banyak orang tentang keluarganya, sejauh Dayat memandang tegar ibunya, ia etaplah sosok wanita yang bisa saja luluh atas kebaikan laki-laki. Namun Pak Sleman harusnya pengecualian, dia harusnya ditolak mentah-mentah setiap kali datang. Namun Dayat tetap mengerti, dipandang bagaimanapun ibu tidak memiliki pilihan. Bapak butuh asupan dan obat agar bisa tetap bersama mereka dan tak ada aturan lain. Dayat dan keluarganya harus rela menerima hutang yang ditawarkan dengan syarat. “Kenapa hari ini berbeda bu?” “Beliau nembung adikmu[10], buat anak sulungnya.”
           


[1] Anak perempuan kok seperti itu sih, yat? Diurus yang benar adiknya.
[2] Iya pak, bu, setelah ini saya masukkan pondok saja.
[3] Halah,.. calon menantunya pak kyai kok sukanya ngejar layang-layang.
[4] Anak perempuan ini menggangu saja!
[5] Bandi, ayo pulang! Nggak usah berteman sama galah berjalan.
[6] Jangan semaumu sendiri, aku masukkan persantren lho!
[7] Nggak mau mas!
[8] Jangan diulangi!
[9] Iya mas.
[10] Beliau melamar adikmu.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar