Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ora Usah Khusu’ Khusu’ Seng Penting Ora Maksiat


Oleh : Inayatul Maghfiroh


(Tidak usah khusu’ Khusu’ yang penting tidak maksiat)
 Malam yang selalu menawarkan candu untuk menunggu kedatangan seorang guru, menjadi agenda harian sebagai seorang santri. Sebut saja ustadz Iib, guru kami ketika menjadi santri di pondok pesantren Alhikmah Assunniyah, seorang guru yang setiap kalimatnya mengandung makna, yang setiap gerakannya menjadi teladan, juga setiap ceritanya yang menjadi pelajaran. Pernah suatu hari setelah mengaji kitab beliau menyempatkan diri untuk bercerita, berawal dari teknologi yang semakin canggih, dan beliau menyadari bahwa media dakwah sudah sangat tersedia, sehingga beliau beinsiatif untuk menulis dan mencetak buku. Beliau bercerita demikian “ alhamdulillah mbak saya sudah mencetak beberapa buku, ada tentang nahwu dan lain sebagainya, bisa dibeli di SAS ( koperasi milik pondok pesantren Assunniyyah) juga sudah ada. Tapi disini saya akan menceritakan satu hal yang saya rasa sangat penting untuk saya ceritakan, semenjak saya mengajukan diri dalam dunia literasi ini, saya sering sekali mbak atau bahkan setiap hari harus berhadapan dengan laptop, mencari informasi dari web satu ke yang lainnya, nah untuk membuka web itu kan butuh koneksi ke internet ya, wifi juga belum punya dan biayanya juga cukup mahal, saya memutuskan untuk membeli modem sehingga saya bisa membuka web untuk menggali informasi terkini. Hanya berjarak beberapa hari, saya putuskan untuk membuang modem yang baru saya beli itu, bayangkan mbak ketika saya membuka web satu ke web lainnya itu tidak luput dari iklan iklan yang tidak pantas untuk dilihat, ( dan tidak mungkin saya sebutkan ).  Disini titik permasalahnnya mbak, seketika itu saya berfikir saya tidak pernah tahu mana kemaksiatan saya yang menjadi murka Allah, karena sekecil apapun kemaksiatan itulah adalah bagian dari murkaNya.  Saya tahu menulis akan memberikan manfaat kepada pembaca, dan bahkan saya menyadari media sosial yang tersedia merupakan salah satu media yang mampu menyebarkan manfaat secara luas dan cukup cepat. Tapi saya tetap berfikir mbak, tidak kenapa-kenapa tulisan saya belum bisa tersebar secara publik, tapi saya akan tetap menulis minimal santri-santri saya tetap membaca, saya benar-benar khawatir bisa jadi kemaksiatan yang kita anggap kecil atau bahkan kita remehkan menjadi salah satu penyebab murkaNya, bagaiamana jadinya mba? Jika benar-benar demikian?”. Seketika semua terdiam, sesembari merenungi dan mengingat apa apa yang pernah dilakukan, dari sorotan mata dan mimik wajah teman teman semua seakan akan berikrar, mengharuskan diri agar lebih hati-hati dan ustadz memberi salam tanda memohon diri untuk menyudahi ngaji malam itu.

NB: melalui cerita ini, bukan berarti tidak bioleh menyebarkan ilmu secara luas melalu media yang sudah tersedia, ini hanyalah gambaran dari judul yang bersumber dari kejadian nyata. Setiap orang memiliki alasan pribadi untuk memutusakan sesuatu. Namun kalimat “ ora usah khusu’ khusu’ seng penting ora maksiat “ ini sangat bagus dijadikan prinsip untuk melakukan apapun, sekecil apapun amal baikmu akan tetap tercatat demikian pula amal kurang baikmu. Dan kita tidak tau mana yang akan menjadi ridhoNya atau bahkan mana yang menjadi murkaNya. Selamat berusaha memperbaiki diri bagi yang membaca tulisan ini hehe semoga selalu lebih baik kedepannya dan selalu dalam limpahan rahmatNya. Amin

            

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar