Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dua Tengkorak Kepala: Karya Penutup yang Membuka

Oleh: Dinantari Susilo



Judul            : Dua Tengkorak Kepala
Penulis         : Montinggo Busye
Penerbit       : Yayasan Bentang Budaya
Terbit            : Oktober 1999
Tebal            : 150 halaman
Genre           : Kumpulan Cerpen, sos-bud

Salah satu kekuatan cerpen adalah ia mampu menyampaikan ideologi besar dalam kolom yang tidak terlalu panjang seperti novel atau novellete. Inilah yang sering para kritikus sosial gunakan untuk sekedar berpendapat tentang sudut pandang atau penggambaran masalah yang ia lihat. Biasanya dimuat di koran dan apabila telah menjadi langganan pencerita di suatu koran tertentu, cerpen-cerpen tokoh tertentu suka rela dihimpun. Seperti salah satu tokoh sastrawan Indonesia yang menutup usia di tahun 1999 ditahun yang sama karya terakhirnya dimuat di koran kompas dan dihimpun menjadi buku. Beliaulah, Montinggo Busye. Sastrawan Indonesia kelahiran Lampung yang banyak berkarya pada tahun 1958-1999. 

Meskipun kumpulan cerpen lama, namun perlu diakui generasi muda disarankan membaca karya-karya sastra lama karena di dalamnya ada ideologi besar para pendahulu kita yang membuat kita akan semakin mengenal Indonesia. Selain itu dari karya satrawan era 90'an kita pun (generasi saat ini) bisa belajar sejarah berkembangnya tanah air, konflik masa lalu dan pemecahannya, bahkan jika pikiran kita kritis sebenarnya cerpen yang termuat di koran-koran era dulu bisa mengajarkan kita penggunaan tutur bahasa Indonesia yang baik yang belum terkontaminasi budaya luar maupun bahasa asing. Begitupun kmpulan cerpen karya Motinggo Busye yang dihimpun dlm buku berjudul "Dua Tengkorak Kepala." Beberapa hal dari kumpulan cerpen ini kadang dirasa masih sangat relevan dengan keadaan kita sekarang.

"Dua tengkorak kepala" menjadi cerpen utama (headline) dalam buku kumpulan cerpen ini. Sekaligus cerpen inilah karya terakhir beliau sebelum wafat di Jakarta pada Juni 1999 bersama 13 karya lainnya. Cerpen-cerpen ini hanyalah sebagian kecil dari masa hidupnya selain lebih dari 200 karya berupa naskah film, cerpen dan novel yang telah ia sumbangkan kepada Indonesia untuk membuka wawasan dan sudut pandang yg berbeda.

Tema-tema kepenulisan Motinggo Busye tak jauh dari kritik atau membahas masalah sosial. Ada 14 cerpen didalamnya dan hampir semua bernuansa sejarah dan politik. Karena pada tahun-tahun tersebut masih hangat konflik pemberontakan. Isu-isu pemberontakan membuat Montinggo ingin melihat sisi lain sebuah perjuangan. Salah satunya dari pristiwa GAM (gerakan aceh merdeka). Pristiwa atau konflik inilah yg melatar blkangi pembuatan cerpen 2 tengkorak kepala. 

Sedikit sinopsis tentang "Dua Tengkorak Kepala", dikisahkan tokoh "aku" mengalami kegalauan sebab dia harus kembali merasakan/mengingat kehilangan 2 org terkasihnya dengan cara yang sama. Tertembak mati oleh peluru di kepala mereka. "Ada dua tengkorak kepala yang sampai saat ini membuat aku harus menghela napas dalam-dalam."  katanya sebagai pembukaan awal cerpen. Ini disebabkan dia harus pulang ke Aceh dan diminta menjadi panitia pembongkaran kuburan kakeknya yang seorang pejuang melawan jepang. Karena saat itu keluarga telah memiliki dana yang cukup untuk penguburan yang layak. Telah menjadi adat penguburan keluarga menjadi hal yang penting untuk orang Sumtera. Setelah selama ini kakek "Aku" dikubur di area kuburan masal pahlawan. 

Kepulangan "Aku" juga sekaligus silaturahim ke rumah sahabat baiknya, Ali yang konon juga meninggal dan dikubur secara masal dan asal-asalan. "Aku" pun suka rela membantu pihak keluarga Ali mencari kerangka sahabatnya ditimbunan kuburan masal yang sudah lama akibat pembantaian orang besar-besaran di Aceh ketika isu GAM mencuat. Ali salah satu korban yang ditembak di kepala sehigga tengkorak kepalanya berlubang.

Tokoh "aku" dan Ali, mereka berdua mereka lahir dan besar di Aceh. Ali digambarkan sebagai orang yang piawai bersyair. Ia pun hafal semua karya Shakespeare,  jago berbahsa Inggris pula. Ia sosok yang mandiri terbukti dengan ia menjadi guru untuk orang-orang sekitarnya. Ditambah ia sama sekali tidak mau menggunakan julukan bangsawannya meski keluarganya kaya dan termashyur. Gambaran pemuda yang menjadi idaman banyak wanita. Namun takdir berkata lain untuk Ali yang baik dan bersahaja itu. Ali meninggal ditembak tentara yang memfitnahnya sebagai anggota GAM.

Selain menggambarkan kesedihan tokoh "aku" dan kekecewaan besar orang-orang Aceh atas sikap negara, bagian yang menjadi kritik sosial ada di paragraf terakhir.

 "...Mereka menugaskan aku utk meminta pada pemerintah R.I., supaya kakekku diberi penghargaan sebagai pahlawan nasional. "Tidak ada perlunya" Kataku. "Tapi kakekmu korban kekejaman tentara penjajah." Kata pamanku. "Lalu teman saya Ali, bagaimana? Dia malah bukan korban kekejaman tentara penjajah, melainkan korban kekejaman tentara bangsa sendiri." Ujarku. Semua yang hadir terdiam. Diam itu lebih baik, agar mereka bisa merenung."

Dari sini kita belajar sejatinya pejuang-pejuang itu sama-sama mengalami ketidak adilan. Konflik ini bukan khayalan dan sesungguhnya banyak diluar sana yang masih di negara kita, banyak yang meninggal karena ketidakadilan. 

Ada pula ungkapan yg menggelitik dari kisah ini. Ternyata Ali mempunyai seorang adik. Ketika "aku" bertemu adik itu, Ibrahim namanya. Ibrahim datang dengan pakaian jas rapi lengkap meskipun dia tidak sedang dalam acara besar atau bekerja. Bekerja pun Ibrahim adalah pengusaha kelapa yang tidak butuh memakai jas. "Aku" bertanya "Apa tidak panas pakai jas siang-siang ?" Jawabnya Ibrahim, "Jika pakai jas, awak tak dituduh orang ekstrem." Nah dari sini pula kita belajar, konflik tentang pampilan luar ternyata telah menjadi masalah sejak dulu bahkan hingga sekarang. Tampak luar seseorang bisa menjadi pengaruh untuk pola pikir orang lain. 

Inilah sedikit cerpen hasil pemikiran kritis Motinggo Busye. Mengingatkan kita pada sejarah kelam bangsa kita dan mungkin sebenarnya sikap negara hanyalah ketakutan pemerintah belaka yang saat itu Indonesia masih berproses menjadi satu. Selain itu Motinggo Busye juga lihai memasukkan unsur islami dalam cerpen-cerpennya. Tidak terlalu kentara namun pribadi yang disuguhkannya sangat menggambarkan pribadi muslim yang seharusnya. Terbuka pada wawasan luas namun memegang teguh akidah, mandiri dan taat pada orang tua.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar