Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kulihat Laki-laki Baik Kita

Oleh : Dinantari Susilo




Pernah kulihat sesekali matanya muram dengan pandangan kosong, namun sering-sering ia terlihat bahagia meski tak ada gairah. Gelak dan tawanya diumbar menunjukkan identitas sebagai laki-laki penuh rasa suka dan ambisi. Siapa tak menyukai itu? Laki-laki dengan segala kebisaan dan perangai ceria. Namun satu hal yang ia mungkin lama lupakan. Ia belum pernah jujur setelah lama bercengkrama dengan akalnya. Apa kabar hatinya? Aku juga penasaran. Lama kami tak bersua. Membuatku rindu sekaligus merasa kasihan. Apa dia benar-benar bersuka cita? Bayangkan begitu banyak kebaikan yang laki-laki itu lewatkan selama ini. Ia lupa ada kabar gembira untuk laki-laki baik sepertinya tidak payah berpura-pura jika ia sadar dan sabar.-Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (Q.S. Insyiqaq: 6)- Mungkin ia hanya lupa. Sebentar. Bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah : 186)
Ia memikirkan nasib banyak orang dalam satu waktu dan wajar sesekali ia berwajah muram. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4). Sesekali ia gelimpungan menambah beban dan sorot muramnya dengan cairan bearoma kuat. Ah tuak lagi. Tak pernah sekalipun kulihat ia bahagia setelah meminum air haram itu meski katanya tuak mengurangi beban pikiran.-“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)- Setelah gelimpungan, yang kulihat matanya kian muram dan esok pagi-pagi sebuah senyum harus terukir kembali. Malang betul laki-laki baik ini. Bekerja keras namun lupa apa yang sebenarnya ia perjuangkan.-“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)
Untuk sekarang, jujur, aku lebih suka wajah muramnya daripada tawa lepasnya. Karena setiap ia muram paling tidak ia akan menatapku lama. Tak apa ia belum berani menyentuhku. Lagi. Ku layangkan cintaku pada masa lalunya saja. Ia yang pernah begitu gembira mengkhatamkan 30 juz sekali lalu menjadi berkali-kali, belajar memahami ayat-ayat, terkesima akan maknanya, bersyukur memiliki hafalan dan melantunkan tartil dengan indahnya. Bahkan ia bertemu sang cinta pertama sebab salah satu hafalan. Surah Al-Insyirah menjadi saksi bisu, jawaban rasa gundah laki-laki baik ini saat datang pertanyaan tentang jodoh.-“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6)- Ketika hatinya gundah akan pendamping dan kami sering bercengkrama. Suatu hari diwaktu dhuha, cinta pertama itu datang menanyakan apakah ia sedang bercakap dengan sang muadzin masjid atau ketua takmir masjid ? Saat itu gadis dengan warna jilbab kelabu itu hendak minta izin mengadakan suatu acara di masjid itu namun ia justru terkesima karena si laki-laki masih berstatus remaja masjid yang diberi tugas meramaikan masjid dengan hafalan juz 30 disela-sela sibuk warga di lingkungannya. Ah jangan ditanya bagaimana wajah laki-laki baik kita saat itu. Warna kepiting rebus pun kalah kurasa. Ia pernah mendekapku berlama-lama agar tak goyah imannya oleh gadis secantik si cinta pertama. Waktu berselang, mereka ta'aruf dan terjalinlah silaturahim antar dua keluarga besar.-“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum : 21).
Bahagia? Tentu saja. Kupandanginya dua insan dipersatukan Allah dengan cara yang indah. Terkenang masa itu, terkenang pula wanita cantik yang selalu menyodorkanku dari sisi kanan untuk laki-laki baik kita selepas solat. Ia mengajarkan suaminya istikomah. Namun.. Kenangan tetap kenangan. Nyatanya, paras itu tak pernah kulihat lagi setelah ia lama masuk rumah sakit dan aku kini hanya berakhir di sudut rak paling atas. Memang tak pernah sekalipun aku mimpi terjatuh dari ketinggian ini, namun debu-debu tetap menjalankan tugasnya. Menutupi apa-apa yang telah lama ditinggalkan. Iya,.. aku dan debu-debu bersahabat sekarang.
Kurasa laki-laki itu mestinya bersabar, seperti sabarnya aku yang tak pernah sekalipun disentuh sejak akal mulai banyak bicara pada laki-laki baik kita. Andai ia mau mengajak hatinya nimbrung, bisa jadi berbeda jalan ceritanya. Sepeninggalan cinta pertama, ia berubah sikap. Pernah kudengar tekadnya untuk terus bekerja keras demi melupakan si cinta pertama. Namun nyatanya ia bukan hanya melupakan pelita hatinya itu, namun juga segala kebaikan Allah atas takdir-Nya. Sempat sesekali merutuk dan menyalahkan Allah, si laki-laki memilih abai pada titah-Nya. Sakit... hatinya. Padahal yang kulihat hati justru merindukan pemilik sahnya. Hatinya merindu Tuhannya hanya saja laki-laki baik kita lebih mendengarkan akal dan begitulah. Kini. Aku masih bersahabat dengan debu.-“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Suatu hari, dimalam aku ke-tujuh belas bulan suci. Aku benar-benar mendamba sebuah keajaiban. Ini hari penuh berkah dan banyak faidah. Tidakkah ia ingin berubah? Kulihat laki-laki itu membuka kamar dan kembali dengan tatapannya muram. Kali ini matanya sudah basah. Aku yakin. Wajah merah, sisa-sisa air berlinang disudut-sudut mata dan suara dari hidung itu menyakinkanku laki-laki baik kita menangis. Apakah ini salah satu puncak emosi lagi? Setelah ia merutuk Tuhan akan meninggalnya si cinta pertama, apakah ini rutukan untuk hal lain? Aku menunggu. Laki-laki berwajah muram itu duduk di sisi ranjangnya dan terdiam, sambil sesekali menyeka matanya. "Astagfirullahaladzim.." Kudengar dari mulutnya. Ah, mengapa kali ini? Baiklah sepertinya aku salah. Maafkan aku sudah su'udzon. Sepertinya ia telah menyadari sesuatu. Kali ini kuharap ia benar-benar melakukan muhasabah.
Samar-samar kudengar suara lantunan ayat.-“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)-.Lirih. Aku tak salah dengarkan? Setelah sekian lama... Suara ini. Ah iya, aku ingat laki-laki ini memiliki anak yang disekolahkan di pesantren tiga tahun lalu. Tepat sebulan meninggalnya cinta pertama laki-laki baik kita. Aku ingat dulu aku pernah diminta menemaninya, namun laki-laki baik kita melarang. Ujarnya aku adalah kenang-kenangan atas ibunya. Saat itu aku masih yakin, ia paham betul takdir Tuhan dan belajar mengikhlaskan meski masih mewujud pada benda. Lalu anak laki-laki itu mengalah.
Eh.. Suara alunan ayat itu terhenti. Hening. Sekarang kulihat laki-laki asing masuk mendekati laki-laki baik kita. Aku yakin itu pasti anaknya. Ia tumbuh sebagai lelaki tampan dengan senyum mirip sang ayah, namun ini berbeda. Aku melihat sinar darinya. Setelah bicara panjang, ayah dan anak itu berpelukan. Lantas... Aku terkejut. anak laki-laki itu ternyata bertambah tinggi dan mampu meraihku. Aku kembali disentuh. Apakah aku bermimpi?
Perlahan anak yang tinggi itu membersihakanku dari debu. Meski tak meninggalkan kesan lama, aku cukup bersih sekarang. Anak laki-laki itu menyodorkanku pada ayahnya.
"Ayah terharu mendengar bacaanmu, nak. Sepertinya Allah sedang mengajak Ayah bicara."
"Kapan ayah terakhir membaca Al-qur'an?" Sang ayah terdiam lama. Pandangan muram itu tertuju padaku. Lama. Sang anak sabar menanti jawaban lalu terbukalah mulut laki-laki itu.
"Ibumu benar, istiqomah itu berat. Padahal hanya sebarang membaca tiga ayat selepas shalat." -Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan (Q.S. Hud:112)
"Ini soal terbiasa atau tidak yah. Ayah masih bisa memulai kebiasaan baru itu."
"Tapi rasanya apapun itu masih belum terbiasa tanpa ibumu."
Melihat ini kuharap yang sesekali matanya muram dengan pandangan kosong itu, lebih sering-sering terlihat bahagia. Senyum dan tawanya bisa diumbar untuk menunjukkan identitasnya sebagai laki-laki yang memiliki ketenangan dan keikhlasan. Siapa yang tak menyukai itu? Laki-laki dengan segala kebisaan dan perilaku yang lebih baik.-“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.S. Al-Baqarah:218)



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar