Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ensiklopedia Keislaman Bung Karno: Mencari Tuhan Itu Turun ke Hati

Oleh: Dinantari Susilo



Judul                : Ensiklopedi Keislaman Bung Karno
Penulis             : Rahmat Sahid
Penerbit           : Expose Publika
Terbit                : Juni 2018
Tebal                : 352 halaman
Genre               : Motivasi, Religi


Bersama kita menyadari bangsa kita sedang dilanda polemik yang "mungkin" lambat kita sadari kita telah perlahan memisahkan kita sebagai bangsa dan saudara. Munculnya isu-isu sensitif tentang perbedaan sering dijadikan bahas diskusi namun sangat minim pada praktiknya. Mengapa demikian? Ada peluang jawaban, bahwa diskusi saja mungkin tidak cukup, bangsa kita, anak-anak mudanya butuh banyak belajar dan mencontoh tokoh-tokoh pemersatu di masa lalu.

Menjadi tokoh proklamator dan salah satu orang berpengaruh di dunia, membuat julukan "putra sang fajar" bukan hanya sekedar sebutan untuk Soekarno yang memang dilahirkan di subuh hari. Soekarno telah menjadi fajar untuk bangsanya. Bersama ideologi persatuan yang kuat dan pengharapan baru dimasa penjajahan yang kelam, beliau menjadi cahaya yang membawa perubahan (revolusioner) dan mengarahkan (visioner). 

Penulis, Rahmat Sahid, sengaja menggunakan kata "ensiklopedia" untuk menarik minat baca orang. Pertama-tama ia menghimpun pidato-pidato Bung Karno dalam berbagai acara keagamaan seperti perayaan hari besar islam, tahun baru islam, perayaan maulid nabi dan berbagai acara lain, seperti kuliah umum di UI pada 1953. Kemudian penulis juga memperkenalkan isi kepala Bung Karno tentang islam dan seluk beluknya melalui pengalaman spritual beliau.

Sebelumnya penting kita garis bawahi bahwa Bung Karno (sapaan akrab Soekarno) memiliki sifat yang khas dalam memimpin bangsanya karena dari sifat beliau inilah yang mendasari semua sikap dan keputusan beliay. Bung Karno selalu berupaya menjaga persatuan. Baik persatuan bangsanya maupun Indonesia dengan negara-negara lainnya. Namun sayang pada masa lalu namanya sempat di"negatif"kan hingga di asingkan ke Bangka bersama K.H. Agus Salim dan sempat dianggap tidak mempercayai Tuhan sebab beliau berada di pihak netral antara partai komunis dan nasionalis. Padahal beliau hanya ingin menjaga persatuan.

Seperti halnya Bung Karno tidak ingin Indonesia terlibat dalam gerakan Blok Timur atau Blok Barat. Baginya lebih penting menjaga kerukunan sesama negara korban jajahan daripada melihat siapa yg lebih hebat. Lalu beliau mengagas "Konferensi Asia-Afrika." Kemampuanya belajar bahasa dan berkomunikasi juga menunjukkan semangat beliau menyambung silaturahim dan persaudaraan antar bangsa sehingga dikenal sebagai tokoh yang di hormati diberbagai negara. (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Melayu, Belanda, Jerman, Inggris, Arab, Prancis, dan Jepang.)

Jika dalam Islam kita mengenal Nabi Muhammad SAW. sebagai suri tauladan segala aspek kehidupan, di Indonesia, kita memiliki Koesno Sosrodihardjo atau biasa kita kenal sebagai Bung Karno. Ialah role model selanjutnya. Sosok proklamator bangsa yang juga sangat mengagumi Rasulullah dan berupaya meneladani kepemimpinan Rasul pada masanya.

Sebagai seorang presiden Bung Karno mengagumi sosok Nabi Muhammad SAW sebagai manusia agung yang ada di bumi dan berlaku sebagai presiden. Kesuksesannya tergambar pada perjuangannya dakwah beliau di Madinah dan di Mekkah. Bung Karno kemudian mewujudkan kekaguman beliau dengan peraturan yang berlaku selama ia masih menjadi presiden. Peringatan Maulid Nabi dan Isra Mikraj di Istana Negara, Jakarta, harus tetap berlangsung. Walaupun beliau sedang berada di luar negeri.

"Umat Muhammad bukan umat yang hanya menghendaki gorengan ayam terbang ke mulutnya, tidak. Umat Muhammad ialah umat yang bertempur berjuang membanting tulang, mengulur tenaga, memeras ia punya keringat. Itulah umat Muhammad. Itu sebabnya, aku begitu cinta keadaan Muhammad dan mengikuti sunah Muhammad itu tadi," bebernya saat Maulid Nabi di Istana Negara, 1 Juli 1966.

Dalam buku ini, Rahmat Sahid, mengambarkan pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Allah, Al-qur'an, dan Nabi Muhammad dalam perjalanan spiritualnya. Hal ini menjadi menarik karena Bung Karno tidak hanya belajar dari tokoh-tokoh islam namun juga banyak tokoh dari agama lainnya. Beliau sering berdialog dengan banyak pemuka agama dan bahkan tidak malu mengakui sedari kecil beliau memang hanya sedikit mendapat ilmu tentang keislaman. Hal ini juga membawa Bung Karno dikenal sebagai orang yang terbuka (open minded) kepada semua kebaikan agama apapun dan termasuk pembelajar yang progresif. Ditambah beliau bisa berfikir kritis. Ia bahkan menanyakan wujud nyata dari Tuhan. Hingga baru pada usia 28 Bung Karno mulai membaca dam membuka Alquran dengan segala keyakinan yang dirasa kuat.

Konsep Tuhan yang beliau pahami kemudian diungkapkan Bung Karno pada acara Nuzululquran di Istana Negara, Jakarta, 12 Februari 1963. "Tuhan adalah suatu zat Mahazat yang di mana-mana, juga di hadapanku, juga di hadapanmu. Saudara-saudara, juga di belakangmu, juga di atasmu, tetapi satu, esa. Inilah jawaban yang aku dapat dari Alquran. Tentang Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa,"


Salah satu pemikiran Bung Karno dari hasil diskusi dengan banyak tokoh agama, ialah, jikalau seorang manusia ingin menemui Tuhannya maka sebenarnya ia harus turun. Turun kemana? Turun ke hati yg sedalam-dalamnya karena Tuhan selalu bersemayam dalam hati nurani manusia. Oleh karena itu bung karno sedikit kurang setuju jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu tempatnya di atas, maka manusia harus selalu menengadah ke atas meraih angan-angan terlalu tinggi padahal sejatinya manusia harus turun sangat dalam yakni hatinya.

Selain itu kecintaan Bung Karno pada islam juga mewujud dalam masjid. Ada 13 masjid dalam negeri dan sebuah masjid di Rusia yang lekat dengan nama beliau. Dalam buku ini diceritakan pula bagaima a Bung Karno akhirnya memberi nama dan merancang Masjid Istiqlal di Jakarta. Ia menginginkan masjid ini menjadi masjid terbesar di Asia. Istiqlal diambil dari bahasa Arab maknanya merdeka dan digunakan untuk menghormati pejuang muslim yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lalu jika diluar negeri, kita akan mendapati Masjid Agung Biru Soekarno yang letaknya di Sankt Peterbrug. Di kisahkan pada masa pasca Perang Dunia II,  pemerintahan komunis Uni Soviet menjadikan seluruh masjid dan gereja dalam negeri beralih fungsi menjadi gudang dan beragam kegunaan lain. Masjid Biru, salah satunya. Namun setelah kunjungan Soekarno, beliau meminta secara khusus pada Nikita Khrushchev, sang pemimpin Soviet untuk mengaktifkan kembali masjid itu sebagai tempat ibadah.

Kemudian menurut hemat saya, landasan kepercayaam pada Bung Karno adalah sosok yang luar biasa, penting ditanamkan dalam hati lebih dulu. Sebab tanpa itu, mula-mula pembaca bisa saja merasa bosan karena pada bab-bab awal penulis hanya mengutip pidato-pidato Bung Karno. Namun jika berlandas pada keyakinan tadi, dan menyadari bahwa Bung Karno tidak pernah menggunakan teks saat pidato, maka bayangan kita akan berbeda. Apa yang beliau sampaikan adalah hal yang jujur dari hati dan tidak direkayasa. Tapi apabila sejak awal keyakinan itu tidak ada dan pembaca memang membuat distiction, maka sebenarnya tetap buku ini lambat laun akan menarik dan bisa dinikmati hingga pada bagian perjalanan spiritual beliau

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar