Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dan Al-Quran itu Menjagamu



Oleh Dyah Ayu Fitriana

Masih saya ingat betul beberapa tahun yang lalu, dimulai dari Pesantren saya yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Halaqoh-halaqoh kecil setiap usai maghrib digelar dengan pentashih kakak-kakak kelas sendiri. Saat itu di sebuah ruang kamar 4 x 4 m, dengan lampu yang tidak begitu terang, saya dan seorang teman didudukan oleh Ning (sebutan anak perempuan Abah Kyai). Kami disuruh membaca sebuah surat yang sama, aku tahu arahnya, mesti siapa yang baik akan dijadikan pentashih ngaji Quran adik-adik. Jujur saat itu saya juga kepingin, keren aja gitu (Nah ini niat yang salah). Dan karena niat yang salah itu akhirnya teman saya yang terpilih dan saya tidak.

Saya bukanlah orang yang sangat perhatian terhadap Al-Quran, tapi perjalanan hidup seakan menyampaikan kepada saya bahwa Al-Quranlah yang sesungguhnya terus mengikuti dan menjaga kita. Penjelasan di pondok terhadap Al-Quran tidaklah neko-neko yang kemudian membuat kami selalu membawa Al Quran kemana-mana. Tentu saja mungkin juga karena bukan pesantren tahfidz. Tapi kita dididik untuk istiqomah membacanya.

Barangkali karena di pesantren saat SMA saya pernah ditugasi menemani adik-adik untuk ngaji, sifat sombong saya muncul juga. Maka saat seorang pentashih di UIN Malang berkata "Sampean sudah bagus, tapi sepertinya jarang dibaca." saya merasa sangat-sangat kesal. Saat itu saya tidak sadar jika memang jika dihitung-hitung tidak tiap hari saya memperhatikan dan membaca Al-Quran.

Suatu perjalanan unik kemudian menghampiri saya, yang secara tidak sadar membawa dari yang asalnya masih sering terbata-karena jarang baca-menjadi lancar dan mulai belajar mendalam.

Suatu hari, ada sebuah ujian mengikuti sertifikasi sebuah metode pengajaran Al-Quran di masjid. Ustadzah menelepon dengan gupuh karena bingkisan untuk Ustadnya tertinggal. Saya saat itu akhirnya mengantarkan ke masjid. Sampai di sana, belum juga duduk, seorang ustad di sudut masjid sudah memanggil saya dengan isyarat. "Ustadzah langsung ke sini saja." saya mau mengelak, kan saya cuma pengantar bingkisan, tapi tidak bisa. Akhirnya saya maju, dan dengan serta merta ustad tersebut meminta saya membaca Quran dan kemudian mengumumkan bahwa yang sudah dites bisa ikut sertifikasi. Mulai saat itu, secara tidak jelas seorang pengantar bingkisan bisa diangkat menjadi pengajar kelas bawah Alif, ba', ta', dengan murid yang luar biasa aktif-aktifnya.

Sampai di sana bacaan Al-Quran saya masih saja terbata, dan tetap saja ketika adek kelas bilang "samean kurang baca" saya tetap merasa tidak terima-meski itu benar. Dari kelas bawah itu saya sesungguhnya masih diajak untuk belajar momong dan bersabar dalam sulitnya menanamkan akar pertama huruf arab pada anak kecil, yang ternyata di kemudian hari menjadi modal utama dalam kehidupan saya. Kemudian dari kelas bawah itulah saya kemudian diminta untuk menggantikan seorang kakak tingkat, mengajar di kelas yang paling tinggi, tajwid dan ghorib, sangat kontras. Mengajar anak yang menginjak remaja yang sering membuat saya mengeluh bahkan menitikkan air mata.

Sekarang sudah hampir 2 tahun, perlu saya akui bahwa dalam kurun waktu selama itu, seakan anak-anak yang sedang belajar pada saya, padahal sebaliknya. Diam-diam ketika setiap hari harus menyimak mereka membaca Al-Quran tentu sama dengan saya membaca dengan istiqomah. Diam-diam ketika saya mengajak mereka menghafal satu per satu tajwid dan ghorib, aslinya Al-Quran lah yang sedang mengantarkan saya untuk mempelajari dan menghafal poin poinnya terlebih dahulu.

Perjalanan saya sangat panjang, dan sampai sekarang saya masih diajak berjalan. Iya bukan saya sendiri yang berinisiatif, tapi Al-Quranlah bersama doa-doa yang dilangitkan Ibuk Bapak, Abah Kyai dan Ummik, guru-guru yang menjadi pendorongnya. Al-Quran itu menemani kita, barangkali sambil tersenyum. Meski hanya sedikit-sedikit yang masih kita baca, meski sekata dua kata yang baru bisa kita fahami, meski belum sampai taraf mencintai dan menangisi, ia memahami dan mendekap kita dengan lembut. Membawa kita pada ketenangan yang diciptakan Tuhan.

Di sayup sayup tadarus subuh Masjid Baiturrahman


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar