Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tersesat di Jalan yang Benar



oleh: Evin Isnaini


"جَرِّبْ وَلَاحِظْ تَكُنْ عَارِفًا"
Cobalah dan perhatikan, niscaya kau jadi orang yang tahu.

Sedari kecil, saat aku ditanya “nanti kalo kuliah mau kemana?”, dan selalu aku jawab “Malang”, saat jawabanku dipertanyakan oleh mereka “kenapa kok malang?” dan kujawab kembali “karena aku ingin mengunjungi kanjuruhan untuk melihat tim sepakbola kesukaanku bertanding”. Spontan mereka selalu tertawa akan hal itu dan sekaligus mengaminkannya dalam hati.

Ya tempat ini memang benar tempat yang kuinginkan sejak masa MI, entah kenapa cita-cita itu muncul. Dan alhamdulillah benar, sekarang aku ada di sini. Tapi sebentar, itu hanya sekilas saja. Sebenarnya banyak kisah dibaliknya. Kumulai saja, di akhir masa Aliyah adalah masa kegalauan dimana harus pergi kemana lagi. Dengan tekad orangtua yang selalu menginginkanku lanjut perguruan tinggi untuk meneruskan cita-cita, dan aku ingin mewujudkan keinginan itu.

Saat MI aku punya cita-cita konyol yaitu ingin jadi dokter, kenapa konyol? Karena aku hanya ingin jadi dokter aja gak usah belajar dulu. Lalu saat beranjak MTs aku sangat menyukai pelajaran fisika, mungkin sampai saat ini juga. Saat itu juga aku ingin menjadi ahli fisika ataupun teknisi. Berlanjut saat Aliyah pun juga begitu, aku mengambil mata pelajaran fisika untuk diujikan pada saat UN. Dan aku satu-satunya yang memilih mapel itu. Karena ambisiku kuliah dengan jurusan fisika. Jalur demi jalur aku tempuh, cara demi cara aku lakukan untuk bisa mengambil jurusan itu. Ternyata jalur pertama yang aku lewati gagal. Sempat putus harapan, tapi mereka orang sekelilingku tetap memberi harapan untuk aku bisa menggapainya. Akhirnya aku menempuh tes tulis yang sangat rumit, aku tidak berharap lebih lagi. Karena memang soal-soal waktu itu sangat jauh dari yang telah kupelajari.

Aku kembali lagi mencoba cara lain. Akhirnya satu jalur yang hanya untuk jurusan agama saja aku lewati, dengan pemilihan jurusan yang katakanlah ‘manut bu nyai’. Sebenarnya aku tak mengingnkan jurusan itu, dengan ambisi tetap ingin fisika ataupun yang masih berhubungan dengan fisika. Tiba saat pengumuman itu ditiba, aku ingat betul itu saat bulan puasa romadhon. Siang-siang aku iseng-iseng buka web pengumuman antara berharap dan tidak. Loading pun tak terhindar karena banyak yang mengakses mungkin. Tiba jam 2 kubuka lagi web itu, dan ternyata hasil yang tak pernah kuduga dan terlintas selama itu. Namaku dinyatakan lolos di jurusan agama itu. Jangan dibayangkan bagaimana perasaanku saat itu, antara sedih dan bahagia. Bahagia karena aku sudah bisa lolos masuk perguruan tinggi, dan tentu saja sedih sebab itu bukan jurusan yang aku inginkan. Lagi-lagi mereka tetap menyupportku, dengan pertimbangan yang lama dan keikhlasan yang juga tidak sepenuhnya aku terima hasil itu dan kulakukan daftar ulang.

Langsung saja saat dimana perkuliahan itu dimulai, pertama kali aku belajar tanpa memakai seragam dan memakai pakaian bebas. Suasana yang berbeda. Okelah teman memang gampang dicari, tapi tidak dengan semua mata kuliah yang kupelajari. Jujur saat awal-awal aku hanya setengah hati menjalani perkuliahan itu, tak ada yang menarik untuk ku lalui. Sempat aku menangis dan berkata bahwa “aku tersesat. Aku salah jurusan”. Hingga 2 semester aku melalui suasana hati yang selalu begitu, niatku saat itu hanya buat menyenangkan orangtua saja dan selalu aku menggerutu “opo jere gusti Allah”.

Dan aku tersadar pada awal-awal semester 3, saat aku sudah tidak berada di asrama kampus. Aku merindukan teman-teman sekamarku dulu selama satu tahun pertama di kota ini, di asrama itu aku belajar mendisiplinkan dan mengatur waktu yang begitu cepat mengejar aktifitasku. Lalu aku berfikir “iya ya, kalo aku tak diterima saat pengumuman itu pasti aku gak bertemu sama orang-orang hebat”. Dan perkataan ibuku yang selalu menasehati “dijaga dirinya sendiri, untung ketrimanya di kampus Islam, nah kalo di kampus itu udah tak jamin gak tau kaya gimana lagi, apalagi tinggal di kos pasti bebas gak ada yang ngatur”.

Iya bu Alhamdulillah aku sudah menyadari sekarang. Jurusanku yang membawaku menerjuni bahasa Arab lebih dalam, dulu bahasa itu memang sangat aku sukai saat MI. Namun dia terlupakan saat aku mengenal ilmu sains yang lain. Dan di tempat ini aku kembali menekuninya lagi dengan giat. Yaa aku sekarang menerima dan mencintai jurusanku. Karena memang benar ketersesatan ini berada di jalan yang benar. Dan pegangan itu akan menjadi bekal di masa depanku.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar