Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Santri Santren


Gambar terkait
Tema : “Kisah perjalanan dalam mencari ilmu”
by : Siti Khoirun Niswah
                Berkahi belajarmu dengan selalu mengulang materi yang sudah disampaikan oleh gurumu”. Perkataan yang selalu melekat dalam angan sebab, dikatakan langsung oleh Alm. KH. Munawir (pengasuh pondok pesantren Roudhotul Banat.
            Senin, 03 April teringat saat itu ku semangat sekali berangkat ke pondok pesantren  walaupun jadwal sekolah pada hari senin sangat padat. Berangkat sekolah pukul 06.00 karena kebetulan saat itu ku mendapat tugas MC upacara bendera di sekolah. Ku berangkat tanpa sarapan, namun ibu yang begitu perhatian padaku selalu membawakan bekal untuk dibawa ke sekolah. Setelah kegiatan upacara berakhir, langsung melanjutkan pelajaran di sekolah. Semua kegiatanku pada hari itu berjalan dengan baik mulai dari mempersiapkan upacara bendera sampai berakhirnya pembelajaran di kelas.
            Setelah pulang sekolah pukul 16.00 ku pulang sekolah dan melanjutkan sekolah diniyah di pondok pesantren Roudhotul Banat yang dekat dengan rumah. seperti biasa, kegiatan sebelum muallim datang adalah membaca nadhoman secara bersama-sama atau biasa disebut lalaran nadhom. Hari senin merupakan hari dimana banyak santri yang hadir tanpa ada yang izin. Dikarenakan jadwal pada hari senin  adalah ushul fiqih kesukaan para santri. Entah mengapa para santri setiap hari senin ini selalu banyak yang hadir. Saya pribadi merasa sulit meminta izin pada hari senin. Menurut saya, materi-materi fiqih selalu memunculkan pertanyaan hingga tak ada rasa bosan untuk mempelajarinya. Apalagi guru yang mengajar pelajaran ini sangat bisa menguasai kondisi para santri. Hingga cara penyampaiannya membuat para santri marasa enjoy. Sosok guru ini sangat berwibawa. Meski kita di kelas suka bercanda menikmati materi, namun di luar area pondok kita sangat menghormati beliau. Bahkan para santri, baik putra maupun putri apabila melewati depan pagar rumahnya, harus pelan-pelan. Rumah beliau jaraknya selisih dua rumah dari pondok. Tidak lain beliau adalah putra kedua dari abah yai (pendiri dan pengasuh pondok pesantren).
            Seperempat jam sudah kita menunggu Gus Ghuril guru kami, namun tak kunjung datang. Biasanya gus ghuril ini tidak pernah terlambat. Bahkan beliau biasanya ikut lalaran nadhom bersama kita. kita sempat berfikir, “apa mungkin beliau sedang sakit?”. Karena tidak seperti biasanya beliau berhalangan hadir tanpa memberi tahu kita lebih awal dan tanpa memberi tugas. Para santri akan tidak masuk jika dari awal sudah diberi kabar bahwa kelasnya kosong dikarenakan ustadz berhalangan hadir, atau ustadz sedang bepergian. Jadi akan dibadali oleh guru yang lain. Hingga setengah jam sudah kita lalaran nadhom imrithy, ustadz tak kunjung datang. Akhirnya kita pulang tanpa pamitan kepada guru disebelah kelas kita. ketika itu saya masih berbincang  bersama salah satu santri beberapa menit.
Tak ku sangka, gus ghuril datang ketika kakiku melangkan ke arah pintu tuk pulang dan ku sangat terkejut. Diruangan itu sudah tidak ada siapapun kecuali kita berdua. Saya dan teman saya diam seribu kata, tak tahu harus berkata apa. Karena beliau terkenal gus yang paling disegani, saya jadi merinding ketika ditanya oleh beliau tentang keberadaan para santri. Dengan pelan kata saya menjawab bahwa teman-teman sudah pulang karena sudah setengah jam menunggu beliau yang tak kunjung datang. Setelah itu apa yang terjadi,Gus ghuril menampakkan raut muka yang kurang enak. Karena sebenarnya beliau sedang menguji kekuatan kita dalam menunggu muallim (guru). Beberapa info telah beliau terima bahwa jika muallim berhalangan hadir para santri langsung balik ke kamarnya tanpa mengulang materi sebelumnya, padahal muroja’ah (mengulang) materi itu sangat penting.
            Setelah kejadian tersebut, hari selasa para santri masuk seperti biasa. Seperti  hari sebelum kita memulai pelajaran kita lalaran nadhom terlebih dahulu. Namun diulangi kembali, kebetulan muallim pada hari selasa berhalangan hadir,para santri pulang ke kamar mereka masing-masing. Tetapi gus ghuril tidak membiarkan hal itu terulang kembali. Beliau memanggil ketua pondok putri untuk bertemu dengan santri yang telah kembali ke kamar. Dengan rasa ketakutan para santri dikumpulkan di aula dekat mushola. Semuanya dikumpulkan termasuk saya dan semuanya diam tanpa kata. “apa tujuan kalian mondok?” satu persatu harus menjawab. “apa artinya waktu, bagaimana cara menghargai waktu, bagaimana harapan orangtua kalian setelah lulus mondok nanti? bisa baca kitab, atau hafal Al-Quran, Imrithy, dan alfiyah?”. Harapan kami para guru, semua santri bisa tenang dan menunggu guru datang ke kelas, jika belum datang mestinya mengerti untuk belajar sendiri”. Seketika itu saya dan teman-teman tak berani menjawab sepatah kata pun, sebab kita sadar bahwa kita salah. Mestinya walaupun guru tidak datang ke kelas, kita sebagai santri tetap belajar, tetap lalaran karena hal tersebut melatih diri untuk bisa beristiqomah.
            Akhirnya setelah kejadian tersebut, para santri tidak berani keluar kelas apabila jam pelajaran belum selesai. Dapat kita simpulkan, bagaimana cara kita menghargai waktu dan guru. Tunggulah guru datang, jika berhalangan maka kesempatan kita untuk belajar sendiri. Walaupun sekarang banyak fenomena jika guru berhalangan hadir, kita sempat marasa kecewa karena terlanjur membatalkan janji pada seseorang? atau bahkan merasa senang karena libur dan tidak jadi mengumpulkan tugas? Hehe.
 
           
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar