Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

B E R I W A Y A T

Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya


Dadapan, 2009

            Hari itu begitu cerah, meski sebenarnya suasana hati malah sebaliknya. Bagaimana tidak, tepat 30 menit mendatang kami para murid kelas 6 akan mengikuti Ujian Nasional yang serentak diselenggarakan Pemerintah. Merupakan hari penentuan dimana kami akan bersekolah di jenjang sekolah menengah pertama nantinya. Akankah sekolah-sekolah favorit menyambut kami, atau malah hanya akan menjadi sebuah impian belaka saja. Detik, menit dan jam terlewati. Serangkaian ujian terlewati dengan sempurna. Hanya tinggal menunggu hasil dari apa yang dikerjakan selama 60 menit waktu pengerjaan.
            Hari-hari, minggu dan bulan pun berlalu. Hingga akhirnya tiba masa pengumuman hasil dari ujian yang sudah kami hadapi. Perasaan senang, sedih dan gelisah bercampur aduk menjadi satu. Sebelumnya, bapak Kepala Sekolah meminta kami untuk berbaris rapi di lapangan belakang sekolah. Kami-pun berkumpul lebih cepat dari kegiatan upacara biasanya. Sambutan demi sambutan telah disampaikan, hingga akhirnya kami menerima sebuah amplop satu persatu, tepatnya selembar kertas yang berisi nilai hasil ujian yang sudah kami tunggu-tunggu sekian lamanya. Kami begitu antusias membukanya tanpa menghiraukan apa yang terjadi disekitar. Ada yang meloncat kegirangan (bagi yang menerima nilai sesuai yang diharapkan), ada yang menekuk muka dan mulai berkaca-kaca (bagi yang harus menerima nasib akan sekolah disekolah yang tidak diharapkan). Namun yang kurasakan bukanlah dari kedua nya.
            “Heyy za..kok ngelamun???” seketika lamunanku terbuyar oleh panggilan temanku.
            “Oh iya ada apa.” Aku menjawab dengan sedikit terbata.
            “Ayo kita ke kantor pak kepsek, buat daftar ke sekolah negeri. Keburu nanti kuotanya habis loh” ajak temanku begitu antusias.
            “Kalian duluan aja, aku masih perlu minta persetujuan orang tuaku dulu” jawabku dengan sedikit tersenyum kaku.
            “Oh yasudah, kalo gitu kita duluan yah” jawab mereka dengan begitu girang.
Aku hanya bisa bersedih melihat semua temanku begitu antusias mendaftarkan setiap namanya untuk bersekolah disekolah favorit yang disarankan oleh pihak sekolah. Akhirnya mood ku mulai tak menentu hingga aku putuskan untuk segera pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, aku berganti baju dan mengambil remote tv untuk mencari channel yang bisa sedikit menghiburku sekaligus menunggu orang tuaku yang masih mengajar disekolah. Nafsu makanpun hilang meski aku belum makan apapun sedari pagi. Aku terus memikirkan apa yang menjadi kegalauanku untuk melanjutkan sekolah menengah pertamaku di kota orang. Akankah anak kecil seusiaku bisa beradaptasi dengan mudah dan cepat. Akankah aku akan merasa nyaman dengan lingkungan, tempat bahkan semua hal yang baru. Akankah aku bisa hidup dengan mandiri tanpa bantuan dan berpisah dengan orang tua ku. Memikirkannya membuatku begitu frustasi dan akhirnya tertidur.
“Nduk, bangun..bangun” suara ibu membuatku seketika bangun dan mendapati ibuku yang baru saja pulang dari sekolah.
“Pindah tidur di kamar sana” terangnya, sambil melangkah menuju dapur.
“Nilai ujianku sudah keluar” jawabku dengan sedikit berteriak.
“Gimana hasilnya?” tanya ibuku seraya berjalan menuju arahku.
“Aku gak mau mondok” sontak aku memeluknya dengan sedikit terisak.
“Sudah, sudah istirahat dulu dikamar ya, nanti kita bicarakan bersama lagi” jawab ibuku dengan sedikit menenangkanku.
“Aku pengen kayak teman-teman lainnya. Sekolah di SMP negeri bareng mereka semua” terangku dengan isakan yang semakin keras.
Ibuku hanya menenangkan tanpa mengatakan apapun lagi. Baginya aku hanya butuh waktu untuk mengerti semua nya. Akupun bergegas menuju kamar dan mencoba menenggelamkan semuanya dalam tidur.
“Nduk..bangun..bangun..sudah sore” terdengar suara lirih bapak membangunkanku. Tampak wajahnya yang begitu tenang dan tersenyum. Sekuat tenaga aku mencoba membuka mata yang sedikit bengkak akibat tangisan panjang.
Hari perpisahan sekolah telah tiba, semua murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tampak siswa siswi kelas 6 duduk rapi di barisan paling depan. Rangkaian acara penampilan setiap kelas terlewati dengan baik. Sambutan bapak dan ibu guru terdengar begitu sedih saat melepas kami. Tepat hari ini juga aku sudah bisa menerima ajakan orang tua untuk merantau ke kota orang. Aku berusaha ikhlas dan harus siap untuk berangkat minggu depan. Sesaat aku mengingat apa pesan bapakku semalam “mondok itu juga ada sekolahnya, sama kayak sekolah SMP pada umumnya, disana kamu bisa berteman dengan teman dari berbagai kota, toh disana kan juga ada masmu yang menemani. Gak perlu takut jauh-jauh sama bapak ibu, nanti setiap sebulan sekali kami akan menjengukmu” terang bapakku dengan begitu meyakinkanku.
Bagiku, bapak adalah sosok yang selalu berhasil membuatku menuruti setiap kata yang dikeluarkannya. Kesabarannya dalam menuruti setiap apa yang aku inginkan membuatku mengiyakan keputusannya tanpa pikir panjang. Kekhawatiranku berkurang, dan aku merasa lebih tenang dan siap menjawab pertanyaan teman dan guru mengenai sekolah yang aku pilih. Ada beberapa yang mendukung, juga ada beberapa yang tampak heran dengan keputusan yang kuperbuat.

Prenduan, 2009

            Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya kami bertiga tiba di tempat yang begitu asing dan sedikit ku anggap menakutkan. Bapak tidak bisa menemani karena pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Hanya ada ibu dan adik yang menemaniku. Gejolak kekhawatiran dalam hati mulai bermunculan. Langkah kakiku terasa semakin berat saat menyusuri tempat demi tempat yang ada. Ibu menggenggam tanganku semakin erat, seketika aku merasa hanya ingin menangis sekencang kencangnya. Aku berjalan dengan memeluk ibu untuk mencegah air mata agar tidak berjatuhan. Saat tiba ditempat pendaftaran, aku memerhatikan sekeliling. Tampak beberapa anak seusiaku yang menangis dan tak ingin mengisi formulir. Hal ini membuatku sedikit kaku dan gemetar saat harus mengisi formulir pendaftarannya.
            Semua persyaratan telah aku penuhi. Kamar, seragam dan keperluan lainnya sudah aku dapatkan. Dan haripun mulai gelap. Ibu terlihat tak tega hati ingin berpamitan untuk pulang meninggalkanku seorang diri. Terlihat jelas merah wajahnya menahan agar air matanya tak tumpah. “Ibu pulang besok pagi saja ya, sekarang kita menginap bersama dulu” sebuah pernyataan yang aku harapkan, tanpa aku meminta sebelumnya. Aku merasa sedikit lega karena akhirnya aku masih bisa berlama-lama dengan ibu meski hanya sampai besok saja. Ku manfaatkan detik-detik waktu bersama dengan baik. Keesokan harinya, dalam keadaan siap tak siap akhirnya aku berpisah dengan ibu dan adik. Mereka mencoba melepasku tanpa tangisan meski berat hati. 
            Sejak saat itu kehidupanku benar-benar dimulai dengan semua hal yang serba baru. Memahami setiap perbedaan lingkungan yang sangatlah berubah dari sebelumnya. Berteman dengan teman dari berbagai latar belakang dan budaya yang berbeda. Melakukan semua kegiatan dengan sendiri tanpa bantuan siapapun. Belajar tirakat dalam semua kegiatan. Berbagai pelajaran dan pembelajaran selama 7 tahun berhasil aku dapatkan. Membuatku tersadar apa tujuan orang tua memutuskan memilih hal ini. Berawal dari sebuah paksaan hingga akhirnya membuatku berkepuasan tinggi.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar