Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sejuta Jalan Untuk Ilmu


picture from: dakwatuna.com
Oleh:
 Nur Sholikhah






“ Jika saat SMP kalian hanya sibuk untuk sekolah, maka aku punya kesibukan lain yang berbeda“

            Aku akan kembali menyelami masa lampau yang telah lama terkubur sejak aku memutuskan untuk mencari ilmu di kota orang. Jauh 6 tahun yang lalu, saat usiaku masih sekitar 12 tahun tepatnya saat aku duduk di bangku MTS/SMP. 

            Di desaku sudah menjadi hal biasa jika banyak anak yang sekolah sambil bekerja, meskipun itu masih tingkat SMP. Faktor ekonomi dan mahalnya biaya sekolah membuat para orang tua harus bekerja keras demi bisa menyekolahkan anak-anaknya. Jika anak yang dibiayai terlalu banyak, maka harus ada yang dikorbankan. Entah salah satunya harus putus sekolah atau sekolah sambil bekerja. Dan itulah hal yang aku alami sendiri.

            Sekolah bagiku adalah hal yang sangat penting karena di situlah aku bisa belajar berbagai macam ilmu. Namun untuk bisa sekolah butuh perjuangan yang tidak mudah karna saat itu biaya masih mahal menurutku. Sementara orang tuaku penghasilannya harus dibagi untuk keperluan ini itu. ya, aku memutuskan untuk sekolah sambil bekerja. Bekerja pada orang-orang baik yang mau menerimaku meski hanya kerja separuh waktu. 

            Aku pernah menjadi buruh di industri rumahan dan tugasku membungkus makanan ringan. Aku berangkat setelah pulang sekolah sampai pukul 5 sore. gajiku saat itu hanya 10 ribu. Kalau sekolah sedang libur, aku bisa bekerja sejak pukul 8 pagi. Karna aku menikmatinya, maka bagiku itu bukan sebuah masalah. Toh aku tidak sendirian, banyak dari teman-temanku melakukan hal yang sama denganku tapi di industri yang berbeda. 

            Dengan aku bekerja, aku bisa membantu bapak membiayai sekolahku. Ah, betapa senangnya saat itu, bisa tetap sekolah meski disambi kerja. Di sekolah nilaiku juga lumayan, jarang kena remedi kalau bukan mata pelajaran tertentu. 

            Dan saat pengambilan rapot di akhir semester, pastilah ibuku tidak pernah datang. Bukan karena ibuku tidak mau mengambilnya, melainkan ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa membawa pulang lembaran kertas itu. orang tua boleh mengambil rapot anaknya jika sudah tidak mempunyai tunggakan pembayaran alias harus sudah lunas semua. Sedangkan aku? Jangankan semester ini lunas, semester yang lalupun aku masih punya tunggakan. Ya meskipun sudah kusambi dengan bekerja, tapi tetep saja belum bisa mencukupi untuk membayar sekolah. Dan itu terjadi tidak hanya padaku saja, tapi beberapa temanku yang lain.

            Alhasil, aku yang harusnya fokus untuk belajar harus mencari cara untuk membantu melunasi tunggakan itu sebelum lulus nanti. Karna pastinya ijazahku akan ditahan sampai semua pembayaran benar-benar lunas. Ya mau tidak mau, aku harus bekerja setiap hari bahkan terkadang aku memilih lembur hingga pukul 7 malam. Sedangkan bapak berusaha mencari pinjaman uang dan ibu mengambil alih pekerjaan tetanggaku sebagai buruh cuci pakaian keluarga pak RT. 

            Entah, mungkin karna niatku sekolah adalah untuk mencari ilmu bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah atau karna hal lainnya. Maka tuhan memudahkan jalanku, semua pembayaran bisa terlunasi dan aku tetap bisa melanjutkan sekolahku ke tingkat yang lebih tinggi, MA/SMA bahkan kini bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Dan yang lebih menggembirakan lagi, aku bisa kuliah tanpa harus membayar sepeserpun sampai lulus nanti. Betapa indahnya rencana tuhan bukan?

            Dan sepotong kisah ini menjadi kisah indah perjalananku menuntut ilmu. Seorang guru pernah berkata padaku “nduk, kalau niatmu sekolah benar-benar untuk mencari ilmu. Allah itu pasti akan beri kamu jalan, yang mengatur rizki itu Allah. Kamu jangan takut maju hanya karna kamu nggak punya uang, serahkan semua sama Allah.” Kini perlahan-lahan semua terbukti satu persatu. Maka masih patutkah kau berprasangka buruk pada-Nya? Tanyaku dalam hati.



Malang, 25 Maret 2019
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar