Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SUDAHKAH JADI GURU YANG PANTAS DITIRU?


Oleh Dyah Ayu Fitriana

Seperti yang diceritakan ustad saya, suatu hari Syaikhona Kholil Bangkalan tiba-tiba berhenti dan terdiam ketika membacakan sebuah kitab. Santri-santri beliau dalam hati bertanya ada apa gerangan? namun tidak ada satu pun yang berani menanyakan. Pengajian terhenti lama untuk kemudian diakhiri oleh sang guru. Usai kejadian tersebut ada salah satu santri yang akhirnya berani bertanya tentang diamnya Syaikhona Kholil ketika mengajar. Beliau menjawab “Bab yang hendak kubaca tadi adalah sesuatu yang belum kulakukan. Maka aku tidak berani untuk mengajarkannya.” Begitu berhati-hati kyai dan guru sebagaimana dicontohkan oleh Syaikhona Kholil membuat tidak heran jika hampir semua muridnya menjadi ulama besar. Salah satunya tentu yang sangat kita kenal yakni KH. Hasyim Asy’ari.  
Sebagai seorang guru tak jarang kita menuntut untuk dihormati oleh murid, meminta diperhatikan agar ilmu bisa masuk, kesal ketika murid tak kunjung bisa dan banyak hal lain yang kita limpahkan pada murid. Kita meminta mereka menjadi murid yang baik, tapi apakah kita sudah menjadi pengajar yang baik? Tak banyak yang menyoal adab guru kepada murid, padahal jika dicermati maka banyak hal yang harus dipenuhi oleh guru agar muridnya bisa menjadi murid yang berkualitas. Ada beberapa hal yang dituliskan oleh KH. Hasyim Asyari sebagai bekal menjadi guru yang baik yang akan dibahas satu-satu di sini.
Pertama, mengawali dari dalam diri sendiri. Menjadi guru yang baik tentu diawali dari menjadi individu yang baik. Hal yang paling utama adalah senantiasa mengingat bahwa Allah melihat kita, Allah yang menyempurnakan dan memberi ilmu serta segala kelebihan pada kita. Mengapa harus demikian? Mengingat-Nya membuat kita selalu menjaga apa yang masuk ke dalam perut kita. Guru yang baik akan memastikan bahwa apa-apa yang dimakan adalah hal yang halal baik dari asli bendanya maupun cara mendapatkannya. Ketika yang masuk adalah hal-hal baik yang halal maka badn akan ringan untuk melakukan perintahnya. Mengingat bahwa Allah yang memberikan ilmu akan menjadikan senantiasa rendah hati, meyakini bahwa ketika murid menjadi cerdas adalah karena kuasa Allah, dan tak marah ketika murid tak bisa, karena itupun tak luput dari ijin Allah.
Menjadi guru yang berkepribadian baik juga berarti menjaga dirinya, menjaga untuk melakukan apa yang diucapkan dan diajarkan kepada muridnya. Menjaga diri berarti menghindarkan diri dari fitnah. Mengapa? Karena guru menjadi contoh dan role model bagi murid-muridnya. Sebisa mungkin apa yang dinasehatkan kepada murid adalah hal yang juga bisa dilakukan oleh guru, apa yang dilarang kepada murid guru juga senantiasa berusaha untuk tidak melakukannya. Mengajar dengan memberikan teladan adalah cara yang paling baik.
Kedua, yakni adab guru di dalam majlis atau kelas. Pesan pertama yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy Ari adalah menggunakan pakaian rapi suci dari hadas dan najis. Guru hendaknya memulai kelas dengan berdoa, selalu berkhusnudzon pada anak yang hadir maupun yang tidak dapat hadir. Selain itu hal yang sangat perlu guru perhatikan adalah bagaimana selalu menjaga adab ketika berbicara di depan umum serta tidak malu jika tidak tahu tentang suatu hal. Terkadang sebagai guru ada perasaan malu jika murid bertanya dalam forum dan kita tidak tahu, demi menutupi itu terkadang ada yang sampai mengarang jawaban seadanya, bahkan ada yang sampai salah memberikan jawaban. Jika suatu kesalahan keluar dari diri guru, maka murid akan tetap memegangnya sebagai kebenaran, hal ini yang menyebabkan kesesatan. Maka seperti banyak ulama dulu melakukannya, tidak malu menjawab pertanyaan dengan kalimat Anaa laa adrii (saya tidak tahu) Wallahu a’lam.
Ketiga, yakni adab guru kepada muridnya. Ini yang terkadang masih berlaku searah yakni dari murid ke guru dan guru kurang memperhatikannya. Padahal proses belajar dan mengajar adalah terjadi secara dua arah dan keduanya sama-sama menjaga perilaku demi turunnya keberkahan. Guru harus meniatkan mengajar karena Allah dan menghindari keinginan yang sebatas ingin mendapatkan harta dan hal-hal dunia menggelayuti hatinya. Tidak cukup di situ guru yang baik akan membawa nama murid-muridnya ke atas sajadah di setiap usai sholat dan munajat malam hari. Guru yang baik selain memberikan rasa kasih sayang kepada muridnya, memmberi nasihat dan contoh terkait akhlak yang baik kepadanya, juga mengusahakan sambungnya batin lewat doa.
Maka sangat penting mengikuti hal-hal diatas demi menjadi guru yang baik. Guru yang baik bagaikan lentera yang menyinari yang darinya akan hidup lentera-lentera yang lain. Mengajar, memberi contoh dan Berkarya menuliskan ilmunya demi keberlanjutan apa yang dibawanya. Menjadi guru yang patut ditiru adalah memperbaiki diri secara pribadi, menjaga apa yang masuk ke dalam perut dan timbul dalam hati. Membiarkan orang tahu kalau ada satu dua hal yang ia tidak tahu, dan meniatkan segalanya karena Allah maka darinya akan berserah diri mendoakan demi keberkahan yang akan datang pada murid-muridnya.  


 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar:

  1. Terus berjuang di dunia pendidikan smoga Allah senantiasa memberkahi kita

    BalasHapus