Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pendidikan Non-Formal atau Informal?




Oleh Dyah Ayu Fitriana @fitriyesss

Sudahkah kita memahami apa bedanya pendidikan formal, nonformal dan informal? Barangkali ada yang bergumam sambil hendak menutup laman tulisan ini “Memang apa pentingnya tahu hal itu, kan hanya istilah saja toh? Yang terpenting kita dapat mempraktikkannya atau tidak.” Yup memang benar, akan tetapi pemahaman kita terhadap sesuatu akan merubah cara pandang dan respon kita terhadap hal tersebut. Baiklah bagi yang ingin belajar mari kita mulai.

Seperti yang sudah kita ketahui dan lalui selama bertahun-tahun lamanya, berlaku juga untuk adik, kakak dan anak kita, kita semua melewati jenjang pendidikan formal. Dulu saat saya masih kecil, pendidikan formal dimulai dari Taman Kanak-Kanak, masa awal perkembangan aspek kognitif, motoric, sosial emosional dan kesenian. Akan tetapi saat ini pendidikan formal yang paling awal sebelum TK yakni Pendidikan Anak Usia Dini yang nantinya akan menjadi pengantar anak untuk siap bersekolah. Setelah TK seperti yang sudah kita hafal bersama, ada Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi dengan berbagai stratanya.
Pendidikan formal ini diciptakan oleh pemerintah untuk melayani pembelajaran minimal sebagai bekal semua warga Negara. Sayangnya banyak orang yang mengukur kemampouan hanya lewat pendidikan formal, sedangkan pendidikan formal di Indonesia masih terbilang sangat general dan kognitis. Nilai masih terukur dari seberapa kecerdasan kognitif yang dikuasai oleh anak, meski beberapa sekolah sudah mulai memperhatikan telenta-talenta istimewa dari muridnya tetapi sekolah formal masih belum sanggup memberikan pelayanan yang maksimal. Sekolah formal masih belum bisa benar-benar menemukan bakat-bakat dari siswa, apalagi untuk mengembangkannya. Adanya ekstrakurikuler mungkin membantu tapi tentu porsinya hanya beberapa persen saja dan masih belum digarap betul untuk memaksimalkan kualitas capaiannya. Penyanyi, pelukis, pebisnis dan talenta yang dimiliki oleh seseorang masih sangat tergantung dari pengetahuan orang tua, kesiapan orang tua untuk membawanya ke tempat kursus atau dengan cara keberuntungan seperti yang saat ini banyak kita temui lahirnya orang orang hebat dari ajang pencarian bakat maupun viral dari internet.
            Teman saya gus Ainur pernah bertanya, apakah bersekolah berkuliah sudah otomatis dinamakan belajar? Ternyat belum tentu. Banyak mahasiswa yang datang sekedarnya saja ke dalam kelas, menghabiskan waktu untuk alih-alih memerhatikan dengan seksama penjelasan dosen, malah sibuk scrooling media sosial di HP nya. Apakah kegiatan tersebut masih dapat dikategorikan dengan belajar yang dalam terminologinya diartikan sebagai ‘Usaha Sadar’ untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Jika proses memasuki kelas itu tidak ada “usaha sadar” apakah bisa kita sebut belajar? Maka dari itu pendidikan formal bukan satu-satunya jalan untuk belajar.   
Kemudian pendidikan informal, apakah itu? Pendidikan informal ini termasuk hidden education, pembelajaran tanpa ruang kelas dan kurikulum yang terstruktur. Pendidikan informal dimulai dari rumah, orang tua sebagai pendidiknya tentu saja. Saat anak mengalami masa perkembangan dari bayi kemudian balita lalu remaja dan seterusnya, saat itu pendidikan yang ia dapat di rumah memiliki peranan yang tidak kalah penting. Rata-rata kesiapan anak untuk sekolah, bagaimana sikapnya terhadap dirinya sendiri atau orang lain, sangat dipengaruhi oleh kondisinya di rumah. Katakanlah anak TK yang tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain, bisajadi karena di rumah orang tuanya tidak sering mengajaknya berkomunikasi, tidak mengenalkan pada orang lain selain di rumah. Anak yang mau menang sendiri ketika sekolah, bisajadi karena di rumah semua keinginannya selalu dituruti tanpa memberikan pengertian bahwa tidak semua hal bisa menjadi miliknya sendriri, berbagi itu penting.
            Pendidikan informal ini yang masih sangat terabaikan. Orang tua terutama yang menikah muda, masih belum memahami apa yang harus ditanamkan sebagai awal mula kepada anak yang nantinya akan menjadi karakternya ketika dewasa. Untuk itu penting kiranya bagi orang tua untuk selalu mau belajar terutama tentang pendidikan parenting demi masa depan sang anak. Tidak hanya pendidikan dalam rumah, dalam perkembangannya pendidikan yang ia dapat saat berorganisasi, bermasyarakat juga merupakan bentuk dari pendidikan informal. Maka kesuksesan anak di pendidikan formal biasanya bukan semata hasil jerih payah guru dan sekolah, akan tetapi akumulasi dari perjuangan orang tua maupun kondisi lingkungan yang mendukung. Sebaliknya, hal-hal buruk yang tertanam pada anak tidak serta merta dilimpahkan kepada guru sebagai pendidik, orang tua dan masyarakat tetap menjadi kunci utama.
            Ketiga, pendidikan Non-formal. Pendidikan ini adalah yang masih menggunakan ruang-ruang kelas baik itu secara langsung maupun virtual. Meliputi hal ini seperti kursus, pendidikan pesantren, pelatihan, sertifikasi, pembelajaran online yang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan formal. Di dunia kerja saat ini tidak hanya penguasaan dan pencapaian dari pendidikan formal saja yang menjadi pertimbangan, penguasaan skill, kecakapan attitude juga akan menjadi hal yang dipertimbangkan. Pendidikan non formal dengan segala bentuknya menjadi pelengkap dari pendidikan formal tanpa harus meninggalkannya. Seperti pendidikan pesantren yang hadir dengan pembelajaran agama dan pembentukan karakter yang baik “akhlakul karimah”, sertifikasi-sertifikasi yang menawarkan pembelajaran bergelar yang tidak ada di bangku formal, selain itu kursus, maupun pembelajaran online yang saat ini sudah menjamur dan dapat diikuti oleh semua orang di penjuru dunia merupakan inovasi pendidikan nonformal yang perlu disambut dengan suka cita dan tentu dengan cara memanfaatkannya untuk diikuti.
                Ketiga jenis pendidikan tersebut merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Sebagai orang tua alangkah baiknya mau untuk belajar demi memaksimalkan peran pendidikan informal anak di rumah. Sebagai pendidik memaksimalkan peran pendidikan formal dan tentunya kita terus berperan sebagai pembelajar yang harus terus mengupgrade pengetahuan

Selamat menyelam ke dalam lautan ilmu. .  

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar