Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kewajiban Manusia Menutup Aib Kesedihan Seseorang


Oleh: Evin Isnaini
            Aib adalah suatu cela yang tidak baik tentang seseorang. Jika orang lain mengetahui akan menimbulkan rasa malu. Namun pada saat ini malah banyak didapari dalam keseharian dimana pembicaraan orang itu tidak asyik kalau tidak membicarakan aib ataupun kecacatan orang lain. Padahal pembicaraan itu adalah suatu dosa dalam pandangan Islam. Karena dalam ajaran Islam juga melarang keras untuk menceritakan aib orang lain. Bahkan Islam mengajarkan untuk menutupinya.
            Rasulullah SAW pun juga melarang seseorang untuk membuka aibnya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata : wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu - padahal Allah telah menutupnya – dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya” (HR. Bukhori Muslim). Sebaliknya, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka, dengan menutup aib mereka di dunia dan akhirat, seperti dalam hadits shohih: “Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).
Setiap diri seseorang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, salah dan khilaf pasti ada pada dirinya. Maka dari sebuah aib yang ada pada diri seseorang dapat diambil sebuah hikmah dan dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk lebih giat belajar dan memperbaiki diri agar tidak melakukan hal yang sama yang akan menimpa dirinya serta orang lain pula.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (H. R. Al-Bazzar dengan sanad Sanad Hasan). Apa maksud dari hadits ini? Hadits ini menerangkan bahwa menutup aib orang lain pula hukumnya adalah wajib, karena itu merupakan sebuah kebaikan dimana sesungguhnya manusia juga memiliki banyak keburukan dan keburukan itu ditutup oleh Allah. Coba saja bayangkan.. saat semua orang mengetahui apa yang ada dalam diri ini, apalagi hal-hal buruk, tentu saja tidak ada orang yang mau dekat dengan kita karena burukmya pengarai. Maka dari itu kita juga yang harus kita lakukan, yaitu menutupi kesalahan orang lain, sebab kita juga belum tentu juga lebih baik dari orang yang memiliki aib itu. Daripada membicarakan aib atau privasi orang lain, lebih baik kita memperbaiki diri kita sendiri. Karena ada sebuah hadits yang berbunyi “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya” (HR. Bukhari).
Sebagaimana syiir dari Mbah Dimyathi Banten:
الهي فاستر العيب ورينا أورث الريب #  ونور بالهدى القلب بنيل الفضل يا الله
Ya tuhanku tutuplah aib kesedihanku # dan sinarilah hati dengan petunjuk dengan karuniaMu ya Allah.
Beliau adalah KH. Abuya Dimyathi bin Amin (al-Maghfur Lah) seorang Ulama’ kharismatik, dan terkenal dengan ‘ubudiyah serta kezuhudannya yang mencintai shalawat Nabi disepanjang usianya. Berdasarkan kisah yang saya peroleh dari teman saya di perkuliahan yang ia peroleh dari gurunya KH. Imron Rosyadi Malik (Pengasuh asrama al-Muhajirin 3 PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang) menceritakan bahwa KH. Abuya Dimyathi tiada siang hari kecuali berpuasa dan tiada malam selain digunakan untuk beribadah bershalawat, khotmil qur’an, atau mengaji bersama santri-santrinya. Subhanallah sungguh mulia kehidupannya, semoga Allah merahmati beliau. Aamiin.

Sungguh indahnya ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib kita sendiri dan menjaga aib orang lain, dan terus berupaya memperbaiki diri.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar