Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Berpijar dalam Keikhtiyaran


Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya

Siang ini matahari enggan menampakkan kebahagiaannya kepada manusia dibumi, sehingga mendung mempunyai kesempatan penuh untuk menampakkan diri. Sebagian orang merasa bahagia karena hari ini tak akan merasakan panas yang menyengat kulit. Namun, ada beberapa juga yang merasa sedih karena tak bisa menjalankan aktifitas diluar ruangan. Keadaan ini tak membuatku harus menyesali apa yang terjadi. Bukan alasan karena aku menyukai hujan atau  kesempatan mengingat seseorang yang banyak meninggalkan kenangan yang dapat dikenang pada setiap tetesan air yang turun. Menurutku mempermasalahkan sesuatu yang telah terjadi adalah hal yang sia-sia bahkan hanya bisa membuang waktu saja.
___________________________________________________________________________
            Hujan mulai turun perlahan dan semakin deras. Aku memutuskan untuk berteduh didepan kedai yang kebetulan tutup. Ku buka layar handphone ku dan mencoba mencari bantuan seseorang untuk menjemputku. Naasnya sebelum sempat mencari bantuan layar handphone ku mati, mungkin karena semalaman aku lupa untuk mengisi daya nya. Dengan terpaksa aku hanya bisa melamun dan menikmati derasnya hujan. Entah mengapa hujan kali ini terasa berbeda, meski begitu deras namun turun begitu lirih dan lembut. Sehingga membuatku tak mengeluh jika harus terjebak selama berjam-jam.
Tiba-tiba secara sekejap bunyi yang begitu memekakkan telinga membuyarkan lamunanku. Setelah aku mencari-cari asal suara, ternyata penampakan di seberang jalan perempatan mengejutkan mata sinisku. Keadaan ini terus menarik perhatian bahkan tak bisa berpaling sedikitpun dari mataku. Seorang laki-laki tua berdiri ditengah derasnya hujan dengan hanya memakai topi tanpa memakai pelindung hujan sedikitpun. Tampak begitu bersemangat mengatur lalu lintas dengan intruksi tangan lemahnya dan peluit kecil di mulutnya.
Selama ini aku sudah biasa menjumpainya di pertigaan, perempatan dan tempat-tempat yang berpotensi mengalami kemacetan. Mereka biasa disebut dengan polisi cepek (seseorang random yang mengatur lalu lintas dengan imbalan uang seikhlasnya). Tapi kali ini yang membuatku tercengang adalah usia si laki-laki yang begitu tua namun tak terlihat lemah sedikitpun. Pasti ada alasan atau motivasi terbesar sehingga harus membuatnya berjuang begitu keras. Rasa penasaranku terus menyerang sehingga ada keinginan untuk sedikit mengetahui latar belakang hidupnya.
Hujan mulai mereda, kudapatinya sedang menepi dan duduk di bawah pohon besar dengan meneguk sebotol air. Dan aku menganggap ini kesempatanku untuk bertanya apa yang menjadi rasa penasaranku. Aku berlari ke arahnya dan meminta izin untuk berbincang sedikit. Dengan spontan ia tersenyum ramah (terlihat hambar akibat lelah yang ia rasakan ) dan mempersilahkanku dengan tulus. Berbagai pertanyaan aku tanyakan tanpa terlewat satupun.
“Dulu ini saya bekerja sebagai tukang semir sepatu mbak, sudah sekitar 10 tahun saya bertahan. Zaman semakin maju sampai orang-orang sudah bisa nyemir sepatu nya sendiri kapanpun dan dimanapun. Dan akhirnya saya sepi pelanggan, sedangkan saya punya tanggungan keluarga yang harus terus dinafkahi” ujarnya.
Menjadi polisi cepek tentu bukan keinginannya. Ia sendiri punya cita-cita sebagai guru, selayak orang-orang lainnya. Namun terbatas pendidikan terakhirnya yang hanya lulusan sekolah dasar. Perjalanannya bekerja sebagai polisi cepek ini tidaklah mulus. Mulai dari disemprot pengendara, dan pengendara lain yang menganggap keberadaannya malah membuat jalan semakin macet, di serempet mobil atau kendaraan lainnya juga makanan sehari-hari. Bahkan, sampai ditangkap polisi karena melanggar peraturan hukum hingga akhirnya kini sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian yang mulai kewalahan dalam mengatur kemacetan.
“Sehari gak nentu dapet berapa nya mbak, kadang ya 50 ribu kadang kurang. Tergantung rame apa nggaknya yang lewat. Saya sih gak minta berapa, terserah yang ngasih mau ngasihnya berapa”.
Mendapat lembaran adalah kebahagiaannya dan membuatnya bersyukur tanpa henti. Berbagai jenis uang yang ia terima dari pengendara. Bahkan hanya seulas senyum pengendara pertanda ucapan terimakasih yang ia dapatkan. Namun itu dijadikannya sebagai ladang ikhtiyarnya dalam menjalani kehidupan.
Sebelum aku bertanya lebih banyak, si bapak meminta maaf karena tak bisa berlama-lama beristirahat karena hari ini ia harus menghasilkan uang yang lebih banyak untuk membayar biaya anaknya yang akan mengikuti ujian sekolah. Seketika hatiku bagai terkena tamparan yang begitu keras. Mengingatkanku sudah bersyukur kah hari ini. Mempunyai hidup yang lebih layak dibandingkan orang-orang diluar sana.

  
            







Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar