Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Andai Saja Pandai Besi Pakai Parfume

Siti Fathimatuz Zahro'


Apa yang anda cium setelah memakan buah durian?
Cukup anda menjawab sendiri dan disini saya tidak menjual buah durian.

Pernahkah anda mendengar ungkapan bahwa “Barang siapa bergaul dengan penjual parfume maka ia akan berbau wangi dan barang siapa yang bergaul dengan pandai besi maka ia akan berbau asap”.
Saya rasa sangat sering ungkapan tersebut diucapkan. Lantas bagaimana anda mengartikannya? Saya menggunakan topik pembahasan mengenai tingkah laku dan kepribadian. Saya mencoba menanyakan kepada beberapa orang mengenai makna tersebut dan sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa jika berteman dengan orang baik maka akan katut baik dan sebaliknya jika berteman dengan orang tidak baik maka akan ikut tidak baik. Nah disitu saya berpikir, semudah itukah mereka mengatakan? Lalu bagaimana dengan orang buruk yang berteman dengan orang buruk, sekiranya dari mana mereka mendapatkan pencerahan kebaikan? Kebaikan versi mereka, dengan kebaikan ‘orang baik’ bisa jadi akan berbeda. Dan bagaimana orang baik berteman dengan orang baik hingga memaknai sebuah keburukan. Ada ungkapan yang pernah saya dengar bahwa untuk melihat sebuah kecantikan maka perlu adanya untuk menjadi cantik terlebih dahulu.
Ada sebuah pengamatan yang telah dilakukan oleh seorang guru di Bululawang Kab. Malang tentang sekelompok anak punk yang masyarakat umum tahu hanyalah komunitas anak-anak yang berpakaian serba hitam, rambut mohawk, bahkan hingga mereka tidur diteras toko. Memang sering yang terlihat, mereka numpang kendaraan-kendaraan bak terbuka seperti truk, pick up, dll untuk menumpang perjalanan sehingga membuat masyarakat yang melihat menjadi terganggu. Tidak jarang pula ada beberapa perempuan yang berada dikomunitasnya lengkap dengan aksesoris yang melekat khas mereka. Make up yang identik dengan warna-warna gelap dan bold di area mata membuat mereka terkesan sangar. Jangan dikira mereka tidak memiliki keluarga. Mungkin saat itu meraka memerlukan ‘dunianya’ untuk menemukan jati diri. Namun siapa sangka dibalik itu semua ada jiwa sosial yang tinggi. Menurut pengamatannya mereka gemar melakukan galang dana sosial, menolong orang-orang yang kendaraanya mogok dijalan, serta membantu mengatur lalu lintas ketika lampu merah padam. Apakah sekiranya kebaikan-kebaikan seperti itu luput dari pandangan kita?
Seperti ungkapan hadist diatas, bagaimana menurut anda tentang komunitas ini? Apakah seolah-olah ‘jangan berteman dengan mereka?’ atau bahkal untuk mengenal pun kita membatasi? Menurut saya, jika anda enggan berteman atau sekedar mengenal saja tidak mau, silahkan. Itu hak anda. Namun sekiranya ubahlah sorot mata anda ketika melihat mereka. Anggaplah mereka sebagian dari masyarakat. Padahal dalam kaidah sosial, hukuman paling berat yang diterima oleh individu adalah dimana ia menerima pengasingan. Dimana ada dan tiadanya ia tidak memberikan pengaruh bahkan dianggap tidak ada. Lantas untuk apa dia ada?
Jika diera seperti ini kita menerapkannya secara tekstual, lantas siapa yang akan berteman dengan orang-orang yang memiliki track record buruk? Siapa yang akan mengajak mereka menuju kebaikan bahkan hingga mereka dikucilkan dalam lingkup masyarakat? Tugas ini bukan murni sebagai tugas Dinas Sosial atau Pusat Rehabilitas Anak. Semua lingkup masyarakat harus ikut berperan. Setidaknya menganggap mereka ‘tetap baik’. Dengan cara itu saja sudah membuat mereka merasa “ada” ditengah-tengah lingkungannya.

Mari saling mengulurkan tangan untuk mengetahui definisi “baik” menurut mereka dan “baik” menurut kita J

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar