Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Polemik Kekuasaan yang Semakin Menjadi


Berbagai polemik kehidupan mulai absurd, perpecahan diantara satu kubu, perebutan kekuasaan, memamerkan aset kekayaan, dll. Beberapa tahun ini, sejak ramainya isu pergantian presiden semakin banyak keganjalan yang muncul. Tentu seharusnya seluruh warga tidak mempersalahkan masalah itu, karena jatah kepemimpinan presiden hanya lima tahun. Begitu ricuhnya antara kubu a dan b mempersalahkan keunggulan masing-masing calon. Tidak tentang itu, karena pada hakikatnya yang terpenting adalah masa setelah dibaiat dan hasil kerja yang telah diamanahkan.
            Kekuasaan tentu tidak selamanya abadi, ia juga berbentuk seperi roda yang selalu berputar, ada kalanya fase kemajuan dan kemunduran. Seperi dinasti yang sangat besar pada zamannya, Dinasti Abbasyiah dan Dinasti Umayyah yang begitu megah dan besarnya memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, harta berlimpah, memiliki panglima yang sangat kuat, para kabinet yang dapat diandalkan. Akhir dari cerita kedua dinasti tersebut adalah kemunduran dan muncul dinasti yang baru lagi.
            Sesuai firman Allah QS Ali Imron ayat 26 yang artinya :
            “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
            Asbabun Nuzul dari ayat ini, beberapa tafsir yang bersumber dari Ibn Abbas dan Anas bin Malik, ketika Raulullah SAW masuk ke Kota Mekkah setelah ditaklukan, beliau mengatakan bahwa ada saatnya imperium Romawi dan Persia akan ditaklukan oleh umat islam. Mendengar perkataan tersebut, orang-orang Quraisy tidak percaya dan menganggap remeh, mereka beralasan bahwa tidak cukupkah Mkkah dan Madinah sebagai kekuasaan umat islam pada masa itu. Lalu turunlah ayat ini sebagai peringatan dari Allah SWT.
            Dari ayat tersebut memaparkan bahwa Allah yang memiliki kekuasaan paling tinggi. Allah berhak memberikan kekuasaan pada siapapun yang dikehendaki. Adakalanya Allah memberikan kekuasaan sekaligus pangkat, ataupun satu dari padanya. Bagi Allah sangat mudah melepas dan memberikan sebuah kekuasaan yang menurutNya perkara yang sangat kecil.
            Allah jugalah yang memberikan kekuasaan kepada orang yang dikehendaki, juga menghinakan kekuasaan yang kepada siapa saja yang patut untuk dihinakan. Orang yang diberi kekuasaan adalah orang yang amanah, bertanggung jawab atas kepemimpinan yang dipimpin, penolong yang jiwanya menguasai hati orang-orang dengan sikap lemah lembutnya, memiliki keluasan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan orang yang diberi kehinaan ialah orang yang tidak bertanggung jawab terhadap amanah yang sedang dipikulnya, memiliki dua sisi wajah, tidak ada kemuliaan yang patut dibanggakan.
            Manusia adalah makhluk yang berbatas, karena pada hakikatnya seluruh makhluk digerakkan oleh Allah. Namun, mereka berhak memilih pilihan yang mereka ingingkan. Tentunya jalan yang diridhoi oleh Allah dan RasulNya, jalan yang membawa kepada kebaikan. Sehingga manusia dapat memposisikan dirinya di tempat terbaik menurut tatanan kehidupan, dan paham atas segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Tentulah diimbangi dengan do’a kepada Sang Maha Segala, agar segala sesuatu yang Allah pilihkan juga terbaik untuk kehidupan bersama.


Mutiara Rizqy Amalia
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: