Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LENTERA LITERASI DI DARUN NUN

Oleh : Ustaszah Nur Diana Arifah, M. Pd

Ukuran sedang yang tidak terlalu besar juga tidak kecil sebuah rumah diatas bukit cemara tidar yang teduh, bersih jauh dari keramaian.   Rumah kosong hampa makna seperti disulap menjadi Pondok Pesantren "Megah bercahaya", megah bukan karena bangunannya tentunya, dan bercahaya karena cat tembok yang _ngecling_ ya, he.. Terkesan megah karema ia dihuni oleh cendikia yang shalihat, mahasiswi terbaik dari berbagai kampus, mulai dari UIN MALIKI Malang, UM Malang, UNIBRAW Negeri Malang dan lainnya semua menyatu dengan sinergi dipondok ini, didalamnya diramaikan dengan kegiatan literasi, kajian Al Quran dan tafsir, pembelajaran bahasa asing bahasa arab dan bahasa inggris lengkap dengan program wajib berkomunikasi dua bahasa asing tersebut yang dibekali dengan tazwidul mufradat (penambahan kosakata), muhadlarah (latihan berpidato), debat, insya' dan program penunjang lainnya.

 
Masih ranah kognitif, sedangkan untuk melatih afektif dan psikomotorik sekaligus mereka membiasakan shalat berjamaah, mempelajari fiqih wanita untuk memperdalam agama, membuka les belajar bagi masyarakat sekitar, dan menyelenggarakan kegiatan bakti sosial dengan menyantuni fakir miskin dan anak yatim, semua terkemas rapi mulai dari program kegiatan harian mingguan bulanan dan tahunan yang intensif nan istiqomah.
walhasil, melalui penggemblengan dipondok ini, gerak mahasantri menjadikan pesantren ini megah bercahaya, mereka mengepak sayapnya dengan menjadi pemateri dan Presentasi diberbagai forum nasional, menulis di jurnal-jurnal, juara lomba puisi nasional, dan segudang prestasi menakjubkan lainnya dapat diraih oleh mereka tanpa sedikitpun terlihat jumawa, mereka sosok yang penulis menyebutnya as shalihat karena kesantunan dan keramahan mereka yang luar biasa, seakan tak ada mahkota dan bergerak indah mengikuti gemulai kehidupan islami.
_"buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"_, pepatah ini mengindikasikan bahwa pondok pesantren keren ini jelas tidak dikelola oleh orang biasa, segudang prestasi mahasantri hanyalah cermin kecil dari sejuta talenta yang dimiliki perintis sekaligus mudir ma'had yang menyebut dirinya sebagai khadim ma'had Darun nun. Beliau Dr. H. Halimi Zuhdi dan ustadzah Sayyidah Hafsoh M. Pd, kedua insan mulia ini seakan sedang menuai buah manis dari hasil koneksinya yang intensif sebagai _Ubbadul lail dan Fursanun nahar_, menghamba dengan bersujud dimalam hari dan berjuang sekokoh prajurit perang disiang hari.
ustadz halimi sapaan akrabnya adalah Kajur Bahasa dan Sastra bahasa Arab di UIN MALIKI Malang yang menulis lebih dari 25 buku sekaligus trainer bahasa arab diberbagai kampus skala nasional maupun internasional, namanyapun menggema dalam dunia sastra puisi berbahasa indonesia dan arab dan ratusan karyanya dapat dinikmati secara online maupun offline.
Santun, humoris dan karismatik, semua tersirat dalam satu hal yang cukup menarik yaitu kesederhanaan yang apa adanya, beliau bersama istrinya bunda hafsoh tampil tidak hanya sebagai pelangi sesaat namun seperti lentera surgawi yang siapapun di dekatnya akan bahagia, mulia dan terhormat. kiprah beliau berdua di ma'had Darun Nun adalah hasil dari upaya membedakan antara pekerjaan dan pengabdian, antara dunia dan kepentingan akhirat, saat dikampus beliau menyebutnya bekerja dan saat beliau di pondok pesantren disebutnya dengan pengabdian. khidmah yang sarat ketundukan, tanpa pamrih dan pujian, meski ditengah kesibukan ekstra yang dijalankannya, beliau berdua tidak pernah mewakilkan kasih sayang pada buah hatinya dengan jasa pembantu rumah tangga. semua pebgabdian itu dijalankannya tanpa mengeluh seakan telah menyatu dengan deru nafas beliau.
pengabdian yang berat sesungguhnya, anda tau mengapa? karena TIDAK SEPESERPUN uang mahasantri diambilnya, atau bisa disebut dengan _Pesantren Gratis!_.
khidmah yang indah ditengah masa yang mengkultuskan materi saat ini, keuntungan finansial menjadi _buruan_ yang diperebutkan, seakan harta menjanjikan keabadian di dunia, maka disinilah titik kalbu yang merdeka melahirkan mujahid yang mukhlisin memang menjadi perintah Allah SWT dalam surat Al Imran yang berbunyi: "Katakanlah (Muhammad), "jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Penyayang." (QS: Al Imran: 31).
Tentunya perintah ini menampilkan sosok sempurna nabi besar Muhammad saw dengan kata perintah : فاتبعوني yang bermakna "ikutilah aku", ikutilah jejakku, jejak dakwah nabi Muhammad saw yang tidak mengambil imbalan apapun dari dakwahnya. hal ini di pertegas dalam surat Yasin yakni:
"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS: Yasin: 21).
Semoga selalu diberi kesehatan dan kemudahan dan keberkahan dalam mengabdi dengan tulus kepada ALLAH SWT dan menjadi perantara maghfirah dan syafaatNya kelak dihari tiada guna harta dan anak kecuali yang datang pada Allah SWT dengan hati yang selamat iman dan taqwa. Amin Ya Rabbal 'alamin..
Salam ta'dzim Penulis
Nurdiana Arifah
Dosen IAIN Madura
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar