Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

#kedirilagi

Siti Fathimatuz Zahro'


Langkah gontai mengiringi setiap aktivitas ku. Setidaknya sudah 7 minggu ini semua hanya mengalir terhambat. Ada mengaji yang ikut saja, shalat jamaah ikut saja daripada harus berhadapan dengan devisi ubudiyah, belajar, piket harian, jalani saja. Terlalu banyak rencana akhir pekan ini mau main-main. Mau kemana ya?. Bingung. Banyak banget rencana-rencana melepas penat, tapi pasti ada saja hal-hal eksternal yang membuat ku membatalkan agenda-agenda itu. Itulah yang terkadang membuat aku jengkel. Entah, aku sering berfikir kalau akhir pekan ku banyak diambil oleh lingkungan ku. Sehingga berimbas ketika sekalinya ada waktu kosong, benar-benar aku gunakan untuk tenggelam dalam selimut.

"Mbak aku mau ke Kediri".
Satu pesan whatsapp dari santri pondok sebelah.
"Kediri?? Jauh juga sih" pikir ku. Buat ku sih jauh. Karena aku memang tidak mudah untuk mendapat izin keluar kota dengan teman-teman. Penculikan lah, jalan gelap, ban bocor. Banyak kekhawatiran yang terbayangkan oleh keluarga ku.

Gumul Simpang Lima, Gunung Kelud, Wisata Alam Sumber Ubalan, tahu takwa, Goa Selomangleng..... Imajinasi ku semakin liar menderet tempat-tempat yang akan aku tuju. Ya Allah ridhoi akhir pekan ku ini menyenangkan.

"Oke. Aku ikut".
Pesan terkirim. Centang biru.
"Kita berangkat hari Jumat sore. Nunggu setelah aku selesai kuliah".

Setiap Jumat aku selalu ada pengumpulan tugas review materi mingguan. Bergegas membuka laptop dan ku tuntaskan tugas. Jumat pagi tinggal mengumpulkan kemudian bersiap meninggalkan Malang.

Sebelum aku mengumpulkan tugas, aku sowan kepada ummah dan abi. Beliau orang tua kami di pondok pesantren. Aku berkata jujur kepada beliau tentang ingin ku ini.
"Kulo badhe izin. Badhe ke Kediri ummah".
Kediri bukan kota ku. Sudah pasti beliau bertanya-tanya, ada apa gerangan aku kesana.

"Lhoo, ada acara apa kak?".
Naah benar apa yang ku kira. Bismillah saya niat jujur. Saya ingin melepas penat Ya Allah.
Badhe main ummah. Kalih teman dari Pondok Gasek".
 Aku tinggal di desa Gasek. Desa yang tidak jauh dari kampus ku.

"Sampai kapan kak?".
Sudah kupastikan aku tidak akan terlambat kembali ke pondok. Bermain boleh saja namun aturan pondok tetap berlaku.
"Sampai hari Minggu ummah. Minggu sampun di Malang".
Tidak boleh terlambat demi kepercayaan.
Nggih hati-hati nggih kak. Jalan ke Kediri itu rame.

Yess. Bravoo. Kediri Im Coming.

Kulo badhe dolen".
Sembari memasuki rumah, ku katakan pada ayah ku. Tidak terlalu berani aku duduk bersanding dan meminta izin. Takut ditolak. Hihihiihi....
Tapi ayah diam saja. Tidak merespon tapi sudah pasti beliau mendengar. Aku memasuki kamar, mencari tas, memilah baju dan rok, tak akan tertinggal perlengkapan fotografi. Ku lihat dompet ku.

"Alhamdulillah masih ada sisa uang. Cukuplah untuk sangu. Toh aku disana juga tidak bermukim di penginapan".

Seusai sholat dhuhur, kembali ku utarakan niat ku. Kali ini ketika ayah, ibu, dan emak ada di dapur. Bismillah.
Kulo badhe dolen. Wangsul Minggu". Huhuyy. Bagaimana kalau tidak mendapat izin? Tas sudah penuh baju tinggal berangkat saja. Apa jadinya ini?
Arep dolen nandi? Karo sopo?. Hanya ayah yang menyahut.
Badhe ten Kediri.
Singkat. Namun pasti responnya panjang sekali.
Karo sopo nyang Kediri? Kediri iku adoh".
The power of moms. Tapi aku tidak boleh menyerah. Demi kecerahan akhir pekan dan keberlangsungan angan, aku harus mendapat izin orang tua.

"Lewat Pujon buk. Mboten lewat Tulung Agung". Pujon adalah suatu desa yang masih masuk kawasan Batu. Disana mayoritas penghasil sayur mayur. Jadi sudah bisa dipastikan, kalau jalanan Pujon akan memiliki hawa yang adem. Menurut beberapa orang yang aku kenal, perjalanan menuju Kediri akan lebih cepat jika melewati Pujon.

“Ibuk iki yowes pernah lewat Pujon. Dalan e muter-muter. Ibuk iki nganti mabuk liwat kono".
Huhuy. Masih ada skakmat dari ibu ku ini.

Nggih kersane pirso bu. Kan aku nggak pernah main ke kota orang".
Jujur aku mengatakan ini. Aku hanya menurut ketika zona main ku banyak dilarang. Namun kali ini, maaf. Aku tidak bisa menurut.
Namun pada akhirnya, aku mendapat izin dari kedua orang tua ku. Ku katakan, aku akan pulang pada hari Minggu.

Jalanan Pujon ternyata penuh kelokan tajam. Kendaraan segala macam tersedia. Besar atau pun kecil, semua jadi satu. Tidak ada yang berkecepatan rendah. Seakan semua diburu oleh waktu. Setelah area perbelanjaan Dewi Sri daya pacu ku semakin gila. Dan aku merasakan lelah ku seakan hilang. Sungguh. Aku merasakan itu. Hal-hal yang membuat ku penat serasa hilang bersama dengan liukan sepeda ku menerobos kanan kiri sisi mobil-mobil dan barisan truk serta bus antar kota. Sungguh jalan yang ramai. Jika aku mengukur, itu bukanlah jalanan besar seperti yang pada umumnya dilalui oleh transportasi umum antar kota. Bus berlalu lalang, truk mengangkut material pasir dan batu-batu besar juga ada disana. Belum lagi kendaraan pribadi arah Ngantang, Jombang, Kediri, begitu pun sebaliknya dengan kendaraan yang ingin menghabiskan akhir pekan di Kota Batu atau Malang.
Kediri..... Aku tiba pukul 21.30. Dusun Bawang Desa Centong Kota Kediri.

Jika Kau Lihat Aku Pergi jauh
Disanalah Aku Terpuruk
Jika Kau Lihat Aku Pergi Jauh
Tolong Ulurkan Tangan Mu
Jika Kau Lihat Aku Pergi Jauh
Dalam Diam Aku Berteriak

Perempuan Dititik Nol

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar