Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CARA SIMPEL BISA MENULIS FEATURES HUMAN INTEREST

Oleh Dyah Ayu Fitriana



Seseorang baru bisa dikatakan benar-benar faham akan satu hal, ketika dapat menyampaikan pengetahuannya dengan sesimpel mungkin.

Ini ceritanya saya dan para santri pengen mulai nulis buku yang jenis tulisannya features. Kita saling mencari dan mencermati tulisan di google yang menjelaskan tentang features. Tapi dari semua artikel belum ada satupun yang memberi gambaran secara utuh features itu apa, gimana cara nulisnya, mana contohnya. Semua tulisan hanya memberi gambaran tipis yang akhirnya membuat kita tambah bingung karena beragamnya contoh yang diberikan dan bebasnya kreatifitas dapat digunakan.

Suatu hari tanpa sengaja saya menemukan buku di perpus yang berjudul "Feature: Tulisan Jurnalistik yang Kreatif", nama penulisnya Fanny Lesmana. Pertemuan dengan buku ini dan membacanya adalah sebuah titik balik yang akhirnya membukakan jalan yang gamblang pada feature. Ternyata memang karena tidak adanya pola baku yang menjadi kesepakatan oleh para ahli, maka wajar penulisan features menjadi sangat beragam. setelah ini akan saya tulis beberapa poin yang saya dapatkan dari buku Fanny Lesmana tersebut.


FEATURES
Ada banyak pendapat yang dituliskan dalam buku tersebut, tetapi garis besarnya saja saya dapat menyimpulkan bahwa features adalah Berita kreatif yang boleh subjektif. Features termasuk dalam tulisan jurnalistik karena memuat fakta, akan tetapi dalam menyajikannya bisa menggunakan bahasa yang lebih luwes. 
Cirikhas features :
1.      Tidak terikat pada peristiwa yang baru saja terjadi. Bisa memuat berita yang telah lama. Kejadian pembunuhan mirna akan menjadi basi apabila ditulis dalam bentuk berita, akan tetapi dalam bingkai features kita dapat menceritakan dengan mendalam siapakah sosok mirna, bagaimana perasaan yang ditanggung orang tuanya dan sebagainya. 
2.      Lebih menonjolkan nilai berita human interest. Ex : kisah para penduduk korban bencana bukan sekedar kapan kejadian berlangsung, berapa jumlah korban.
3.      Mengandung fakta bukan semata fiksi tapi bahasa boleh bersastra.
4.      Subjektifitas penulis terasa. Ex : bagi kami tidak munculnya lumba-lumba tidak mengurangi keindahan pulau papua. Kata "Bagi kami" itu sudah mewakili bahwa apa yang disampaikan setelahnya adalah pendapat subyektif penulis. 
5.      Lebih panjang dari berita, ceritanya lebih utuh. Karena tidak mendahulukan kesegaran berita tapi kedalaman cerita.  
6.      Kreatifitas penulis. Contohnya dengan mengambil cerita tentang orang tua yang mencuri karena kelaparan. Penulis juga bisa mencari informasi tidak hanya pada korban tapi juga keputusan polisi, kepiluan diruang sidang, kesedihan hakim yang harus memvonis dll.
 CARA MENULIS FEATURES
1.      Judul :
a.      Tidak perlu panjang maksimal 10 kata
b.      Judul harus menarik perhatian
c.       Intisari tulisan
d.      Tidak perlu bombastis sampai membohongi
e.      Hindari penulisan angka 

2.      Lead (kepala)
Seperti kaidah menulis kreatif, kita bisa membuka tulisan features dengan pengantar yang mengarah pada bagian apa yang paling mempengaruhi saya? Kisah apa yang ingin saya sampaikan? Apa yang membuat saya mengatakan ini adalah menarik? bisa membuka dengan quotes, kalimat keresahan, pertanyaan atau pengantar yang lain.
3.     Tubuh
Pilihlah akan menulis dengan kronologis atau tematis. Kronologis : diurutkan berdasarkan kejadian, tematis: disesuaikan dengan tema tidak semua data dipaparkan.
Penulisan tubuh features ini bisa dengan memaparkan kejadian ditambah dengan pendapat subyektif penulis. Penulis juga bisa menyampaian makna kejadian di sini. Mengenai data, jika jawaban hasil wawancara tidak lengkap atau tidak baik bisa diolah asal esensinya sama.
4.      Penutup
Buatlah penutup yang tidak biasa dan memberi kesan, memukul pembaca, membuat pembaca merenung. 

Dibawah ini akan saya berikan contoh yang saya ambil dari hipwee.com dalam kolom human interest.  


Mereka Sebenarnya Lebih Butuh Rejeki

Kita memang lebih sering lupa sebelum ditampar keras langsung di depan muka. Lucunya, semesta punya beragam cara untuk menyadarkan kita. Dari mempertemukan dengan orang tak terduga, sampai lewat posting yang jadi viral di sosial media.

Ini, jadi salah satu ceritanya.

Di tengah pertumbuhan startup penyedia ojek yang jadi oase kemacetan jalan yang makin menggila, ada cerita berbeda dari orang-orang yang berkurang rejekinya. Mereka yang tidak masuk dalam pusaran kemudahan pesan-antar lewat aplikasi di ponsel. Mereka yang memilih bertahan dalam sistem konvensional, bukan karena tidak ingin memanfaatkan kesempatan. Tapi memang karena keterbatasan. Sistem yang penuh terobosan dan terorganisir jelas memudahkan. Namun pernahkah nasib mereka kita pikirkan?

Pak Soleh cukup beruntung. Kisahnya yang ‘menyentuh’ tapi sebenarnya tak langka, akhirnya mendapatkan corongnya. Postingan Dewi Rachmayani di Facebook tentang keberadaan Pak Soleh, tukang ojek yang sudah berumur dan mulai kehilangan banyak pelanggan, jadi viral di berbagai platform sosial media. Khas orang Indonesia. Sesuatu yang menyentuh hati begini memang laku di mana-mana.


Pak Soleh beruntung bertemu Dewi yang cukup punya pengaruh besar di sosial media. Postingan Dewi di Facebook di share setidaknya 5 ribu orang sampai saat tulisan ini dilansir. Belum lagi screen capture tulisan Dewi yang menyebar ke berbagai plaform sosial media lain, membuat efek ‘tinggalkan pesan ojek modern- beralih ke Pak Soleh’ makin kuat.

Barangkali saat ini ponsel Pak Soleh tak berhenti berbunyi, tanda pesan masuk dari calon pelanggan baru yang tersentuh hati. Atau mungkin Beliau mulai mendapat bantuan dari sana-sini. Pak Soleh beruntung. Tapi di luar sana ada Pak Soleh – Pak Soleh lain yang nasibnya kian tergulung.

Kita-kita ini terlalu terbiasa dimanjakan dengan kemudahan di mana-mana. Lupa. Kadang Tuhan menitipkan rejekiNya di tangan kita. Seberapa sering kita mampir di warung sebelah rumah saat butuh teh atau kopi sachet? Seringkah kita memanggil abang-abang tukang bakso yang lewat di depan rumah saat lapar melanda? Atau lebih sering memesan via internet yang sudah pasti rasa dan kualitasnya?


Minimarket yang adem dan punya pilihan lengkap lebih sering jadi andalan. Restoran yang punya kerjasama dengan layanan pesan antar adalah penyelamat di tengah kelaparan. Ah, kita-kita ini memang kadang lebih sering lupa bahwa rejeki sering dititipkan Dia di mana-mana. Salah satu jalannya, termasuk melalui tangan kita.

Kadang ini bukan soal rasa atau kepastian waktu. Ini tentang bagaimana kita saling membantu. Sesederhana itu.

Setiap hendak berhenti di gerai yang besar – memanfaatkan aplikasi yang sedang banyak digunakan – relakah kita sedikit direpotkan? Demi rejeki mereka yang sebenarnya lebih membutuhkan


Toh kita tidak akan kekurangan apapun jika seminggu-dua minggu rehat memesan makanan dari layanan antar menggunakan motor yang sedang loyal membagi voucher referensi gratisan itu. Hidup juga tidak akan lebih merana karena hijrah membeli kebutuhan sehari-hari dari minimarket ke warung yang lebih sederhana. Perubahan kecil bagi kita — jika dilakukan oleh banyak orang — bisa membawa perubahan hidup yang bermakna bagi mereka.

Pak Soleh boleh sudah terbantu saat ini. Tapi PR kita sesungguhnya masih banyak sekali. Keberhasilan sebagai manusia adalah saat mereka yang sampai hari ini belum terangkat di sosial media, bisa tetap mendapat bantuan dari sesama. Rangkulan hangat dan optimisme tetap bisa dirasakan — bahkan oleh mereka yang tak bisa mengikuti kemajuan jaman.
Bukankah akhirnya tujuan hidup itu mengerucut jadi sederhana saja — jadi manusia yang bermanfaat bagi sesama?

 TIPS DALAM MENULIS FEATURES
·         Pakai alinea pendek dan kalimat aktif
·         Hindari kata-kata sama dalam paragraf
·         Gaya bahasa sederhana mudah difahami walau boleh bersastra, hindari bahasa asing atau artikan
·         Perhatikan data dan pendapat agar tidak salah dalam menulis 

Nah setelah tulisan ini semoga bisa menjadi pedoman untuk mulai menulis features. Melihat mendengar dengan lebih dalam akan membuat kita bisa menuliskan features yang menggugah hati para pembaca. Selamat menulis!

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar