Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pesantren bukan kadar teroris


Oleh : Intani Sholihah Hafizatul Husna

Pondok pesantren merupakan wadah atau tempat untuk membangun karakter dan jiwa agamis terhadap santri-santri atau anak didik. Bahkan karakter otentik pesantren dari zaman awal berdiri sesungguhnya menampilkan wajahnya yang toleran dan penuh kedamaian. Pondok pesantren sebagai wadah keagamaan sebenarnya tidak didirikan untuk melahirkan pemahaman-pemahan yang melenceng dan radikalisme. Adanya pesantren bertujuan untuk mencetak kader-kader ulama yang memiliki pengetahuan luas (tafaqquh fi al-din). Karena itu, pesantren mengajarkan semua hal yang ada di dalam agama, dari tauhid, syariat, hingga akhlak. 

Namun, seiring berkembangnya zaman banyak opini-opini publik yang sering menjatuhkan pesantren ataupun dengan membawa islam. Sama halnya dengan ketika adanya bom disurabaya, agama islamlah yang dijatuhkan. sampai pada akhirmya masyarakat memandang orang yang memakai sarung, berkopiah atau bahakan perempuan yang menggunakan jilbab syar'i dan bercadar sampai di periksa dengan tidak wajar atau bahkan menggunakan kekerasan.

Radikalisme di Indonesia selalu dikaitkan dengan pola pendidikan keagamaan di pesantren, yakni pengajaran agama yang eksklusif dan dogmatik telah melahirkan sikap permusuhan dengan kelompok di luarnya. Istilah “zionis-kafir” seakan menjelma menjadi kesadaran keagamaan untuk melawannya dalam bentuk apa pun.

Menurut penafsiran Ayub Mursalin dan Ibnu Katsir tentang Penafsiran Tekstual dan Model Pendidikan Keagamaan (Kontekstualita vol.2 no.2 2010) yaitu Aksi Aksi radikal yang terjadi di dalam Islam banyak disebabkan oleh interpretasi umat Islam terhadap kitab suci dan Sunnah Nabi yang tekstual, skriptural, dan kaku. Alquran dan Sunnah tidak ditafsirkan secara kontekstual yang melibatkan historisitas teks dan dimensi kontekstualnya. Ayat-ayat yang cenderung mengarah pada aksi kekerasan, seperti kafir/kufur, syirik, dan jihad, sering ditafsirkan apa adanya, tanpa melihat konteks sosiologis dan historisnya. Apa yang mungkin tersirat di balik “penampilan-penampilan tekstualnya”-nya hampir-hampir terabaikan, jika bukan terlupakan maknanya. Dalam contohnya yang ekstrem, kecenderungan seperti ini telah menghalangi sementara kaum Muslim untuk dapat secara jernih memahami pesan-pesan Alquran sebagai instrumen ilahiah yang memberikan panduan nilai-nilai moral dan etis yang benar bagi kehidupan manusia. 

Adapun menurut pandangan William Liddle, kelompok skripturalis tidak memandang diri mereka terlibat terutama dalam kegiatan intelektual yang mencoba mengadaptasikan pesan-pesan Muhammad dan makna Islam ke dalam kondisi-kondisi sosial sekarang. Menurut mereka, pesan-pesan dan makna itu sebagian besar sudah jelas termaktub di dalam Alquran dan Hadis dan hanya perlu diterapkan dalam kehidupan.

Sikap santri terhadap radikalisme yaitu suatu pemahaman yang dimiliki seseorang akan memicu untuk bersikap atau bereaksi terhadap fenomena sosial keagamaan yang dia hadapi. Ketika seseorang berpaham radikal, bisa diindikasikan bahwa orang tersebut akan protektif terhadap pihak-pihak atau perilaku yang bertentangan dengan doktrin pemahaman keagamaan yang dia yakini (tidak toleran). Sebaliknya, bila tidak berpaham radikal atau inklusif, cenderung terbuka terhadap pihak-pihak luar yang tidak sepaham (toleran).

Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan sejak dahulu memainkan peranan yang strategis dalam memengaruhi pola pikir, pengetahuan, pemahaman, dan perilaku keagamaan masyarakat Muslim di Indonesia. Karena pesantren telah mengembangkan pendidikan keagamaan secara komprehensif agar siswa/santri memiliki kualifikasi tafaqquh fid al-din (menguasai ilmu-ilmu agama). Di dalam konteks masyarakat modern yang semakin modern dan serbasekuler yang berimplikasi pada perilaku masyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai keagamaan, pesantren dihadapkan pada persoalan membangun masyarakat religius yang memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Sayangnya masyarakat masih banyak yang berperilaku jauh dari nilai-nilai agama. Tak berlebihan jika pesantren yang memiliki fungsi untuk membangun kerangka pikir dan perilaku masyarakat yang religius melakukan upaya revitalisasi ajaran agama dalam masyarakat modern. Di sini kurikulum menjadi modal utama dalam membangun kerangka pikir dan perilaku masyarakat, terutama siswa/santri yang akan terjun ke tengah masyarakat. Kurikulum yang ada di pesantren pada dasarnya menunjukkan kecenderungan pada proteksi terhadap nilai-nilai sekuler, terutama yang bertumpu pada mata pelajaran akidah/tauhid, fiqh, dan tafsir. Tiga mata pelajaran ini yang menyediakan parangkat pengetahuan untuk merespons kondisi sosial masyarakat. Lebih-lebih jika sumber dari tiga mata pelajaran itu berasal dari paham salafi. Namun demikian, mata pelajaran fiqh, tafsir, dan akidah/tauhid menyediakan konstruksi pemahaman keagamaan yang berpotensi pada kecenderungan pemahaman radikal, terutama dalam membahas persoalan jihad, kafir, dan hukum Islam. Jika konsepkonsep itu dipahami secara dogmatis dan radikal, akan memiliki potensi radikalisme. Namun bila dipahami secara kontekstual atau moderat, bisa meminimalisasi potensi radikalisme di Indonesia.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar