Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Wanita pencari cinta, dimanakah?


Oleh:
Nur Sholikhah



                Hidup dalam kepura-puraan menjadi gaya hidupku saat ini. Dan aku begitu menikmatinya, meski kutahu rasa ini bukanlah rasa yang sesungguhnya. Bahagia yang aku miliki bukan rasa yang tumbuh secara alami, semua hanya rekaan. Karna hidup di zaman yang serba salah butuh sebuah pencitraan.

                Aku seorang wanita yang hampir berkepala tiga, siapapun yang baru mengenalku pasti mengira bahwa aku sudah hidup berdampingan dengan seorang lelaki idaman, berteduh dalam satu atap, melangkah pada satu tujuan. Tapi tidak, aku belum pernah melakukannya meski usiaku tak lagi muda. Itu terjadi atas kehendak Tuhan, bukan mauku. Aku wanita normal yang pasti menginginkan sebuah pernikahan, hidup dalam sebuah ikatan suci dan janji-janji.

                “Suamimu dimana? Kerja apa dia?”

                “Sudah punya anak berapa?”

                Pertanyaan itu selalu menghantamku saat aku baru saja berbincang dengan seorang pelanggan. Jangan tanya apa pekerjaanku, karna tidak pantas bila aku jujur. Hidupku sudah terbiasa dengan kepura-puraan. Aku menekuni pekerjaan ini sudah hampir 5 tahun. Sejak rasa cintaku dibawa pergi olehnya, pergi jauh dan tak pernah kembali. Kala itu mungkin aku sedang frustasi, hidup di bawah garis kemiskinan, terlunta-lunta tak punya keluarga, ditinggal oleh dia yang telah merenggut masa depanku. Ah kau pasti bisa membayangkan betapa hancurnya perasaanku.

                Tak ada yang menolongku saat itu, manusia-manusia yang hidup sebagai tetanggaku sudah terlanjur mencibir dan memaki tanpa tahu bagaimana kondisi tubuh dan perasaanku. Padahal mereka adalah orang-orang yang kuanggap suci karena setiap hari memiliki kesempatan untuk pergi ke rumah-Nya, mengikuti ceramah-ceramah agama, membaca kitab-kitab suci yang aku tak pernah bisa membacanya. Kemana lagi aku harus melangkahkan kakiku? Seolah dimanapun aku berpijak, orang-orang dengan egonya mengusirku. rasa peri kemanusiaan benar-benar tak bisa lagi kuharapkan. 

                “Dasar wanita jalang, pergilah dari rumahku! Aku tak sudi punya calon istri macam kamu,” dia mendorong keras tubuhku, oh Tuhan ini seperti kejadian dalam adegan sinetron. Sandiwara macam apa ini? 

                Bibirku terasa keluh, tak mampu berucap sepatah katapun. Dasar lelaki buaya! Andai aku sudah tak punya rasa iba, pasti aku akan menyebar aib tentangmu. Katanya wakil rakyat, menghidupi dan mengayomi satu rakyat sepertiku pun tak bisa. Dunia terbalik, manusia bekerja di atas pencitraan. Itulah kau, lelaki buaya.

                Malam begitu suntuk, rasa kantuk mulai hinggap di pelupuk mata. Dimana harus kusandarkan tubuh ini? aku sudah tak punya atap untuk berteduh. Kos-kosan yang aku sewa telah habis masanya, semua barang-barangku telah dikeluarkan paksa oleh pemilik kos. Ide gila terlanjur menjadi sebuah tindakan, aku menjual semua barang-barang yang aku miliki. Dan uang hasil penjualan itu aku jadikan uang saku untuk mengunjungi lelaki buaya, wakil rakyat. Bodoh, aku memang bodoh. Harga diri serasa telah pergi, rasa malu semakin menjadi-jadi, apa yang harus kucari kini?

                Cinta? Kasih sayang? Belas kasih? Hidup baru? Sepi? Senyum?

Bersambung….


Malang, 10 Muharram 1440 H

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar