Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Merantau adalah pilihanku, Mengabdi adalah kewajibanku


oleh : Kamila Maryam Kotta

Pada waktu itu Perantauan adalah hal yang sangat asing bagiku, tak mampu untuk kudeskripsikan apalagi untuk dijalankan. Padahal ambisiku adalah untuk bisa istiqomah selalu berada didekat orang tua, keluarga serta kampung halaman. Perdebatan hebat antara hati dan fikiran ini, apa yang harus kulakukan?
Namun perlahan semua ambisi itu hilang seperti hal nya gula yang diberi air, perlahan-lahan mulai menyatu dengannya, begitu juga dengan ambisiku yang mulai berdamai dengan kenyataan. Merantau, kau adalah pilihan terakhirku untuk melanjutkan pendidikan ini, dan mengabdi, kau adalah hal nyata yang akan kuhadapi. Namun apakah perjuangan ku untuk mengemban ilmu hanya sebatas perantauan? Aku malu untuk bertanya pada diriku sendiri. Lalu megapa mengabdi adalah kewajibanku?
Di akhir tahun 2016 saya beserta teman-teman ditugaskan oleh pihak pondok untuk mengabdi dibumi reflesia yakni bengkulu selama dua minggu. perasaan kaget dan senanglah yang lebih dominan aku rasakan saat itu. Kaget karna sampai disanakah aku akan mengabdi dan senang karna aku akan melihat bunga terbesar didunia secara langsung. namun semuanya berbanding terbalik dengan titik nyatanya. Bahkan aku sendiri pun masih belum menyangka bahwa semua itu sudah kulalui... bagaimana tidak? Di mulai dengan perjalanan enam hari pulang pergi  menggunakan bis, lokasi  yang sangat terpencil bahkan tidak terlacak keberadannya di beberapa peta, membuatku tak yakin untuk bisa sampai disana. Namun dengan izin Allah SWT kami pun sampai di desa tersebut.
Rasa lega pun muncul ketika bis berhenti di sebuah lesehan, namun semua kesenangan itu hilang mendadak ketika diinfokan bahwasanya nanti kami akan dijemput oleh kepala desa masing-masing untuk menuju lokasi pengabdian sesungguhnya yang kira-kira satu jam dari lokasi tibanya bis. Masya Allah this is so far...! ketika sampai dan melihat keadaan yang ada pada desa tersebut tak berbeda jauh  dengan apa yang ada dalam fikiranku selama perjalanan pergi. Rumah lama yang tak berpenghuni, aliran listrik yang tak menentu, ketersediaan air bersih yang lumayan minim, sarana transportasi yang tidak mendukung, serta jauhnya kantor desa serta masjid dari rumah kami, yang nantinya tempat itu akan kami gunakan untuk berkumpul dengan warga sekitar. Sedih, menangis dan rasa ingin pulang pun mulai bermunculan dalam benakku. Namun aku pun mulai berfikir jika hanya dengan sedih, tangisan dan angan-angan untuk kembali, tidak akan ada hasilnya. Sama halnya dengan pohon yang tumbuh tanpa ada buahnya.
Hari demi hari aku mulai menata niat yang awalnya hanya untuk bersenang-senang, menata hati untuk lebih sabar dan ikhlas.  Aku mencoba melalui semuanya dengan sabar, kenapa harus bersabar? Karna semua ini tidak akan mampu aku lalui kecuali dengan rasa sabar, ikhlas pun kujadikan landasan dari pengabdianku ini.
Dan pada akhirnya tibalah minggu terkahir dari masa pengabdian kami. Tak terasa dua minggu telah kami lewati, banyak hal-hal kecil yang mengajarkan kami untuk bisa lebih bersyukur lagi dengan keadaan yang ada. Banyak momen-momen yang mengajarkan kami untuk lebih bersabar lagi dalam menghadapi segala hal. Semua kerikil-kerikil yang kami lalui di awal masa pengabdian, tak terasa karena senyuman serta semangat antusias warga sekitar.  Ketika kami mulai melangkah keluar dari rumah, ada adik-adik yang sudah siap dengan baju koko sambil membawa iqro dan buku pelajarannya, belum lagi nanti di sore hari ada ibu-ibu yang minta kita datang menghadiri pengajian di rumahnya, dan malam hari kita diminta remaja aktivis masjid untuk  mengisi kegiatan ba’da maghrib serta masih banyak hal hal lain yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Hal yang lebih membuat ku terharu lagi ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang adik-adik bacakan sudah mulai fasih, serta pemahaman mereka akan beberapa ilmu pengetahuan yang sudah mulai bertambah.  
Dari pengabdian ini aku belajar memahami banyak hal, bahwa tidak semua yang diawali dengan kesulitan akan berkahir juga dengan kesulitan, jika kita mau menerimanya dengan ikhlas dan menjalaninya dengan sabar. Serta ketika melihat kemajuan yang ada pda adik-adik dan warga sekitar merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku.
                                                                                                                  
                           




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar