Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mengajar itu bukan hanya melibatkan pikiran, tapi juga perasaan




Oleh : Nur Ma’rifatul Jannah
 
مَنْ لَمْ يَفِدْ بِالْعِلْمِ مَالًا كَسَبَ بِه جَمَالًا
Barangsiapa yang dengan ilmunya tidak mendapatkan manfaat berupa harta, maka dengan ilmunya itu, ia akan mendapatkan keindahan.

Membahas tentang khidmat, aku jadi teringat masa-masa PKL dulu. Yang mana kita ditugaskan untuk berkhidmat atau mengabdi di sebuah pondok pesantren yang ada di Blitar. Mambaus Sholihin namanya.  Di sana sebenarnya kami hanya bertugas untuk mengajar di sekolah SMP/SMA, mata pelajaran Bahasa Arab saja. Akan tetapi tinggal di sebuah pesantren membuat kita menjadi seperti mondok lagi. Tidak hanya sekedar mengajar di kelas yang sudah ditentukan, tapi juga mengikuti dan turut membantu kegiatan yang ada di pesantren. Kami juga dimintai untuk mengisi kelas bahasa setiap ba’da sholat shubuh dan ba’da ashar. Selain itu juga mengajar di kelas Diniyah sore hari. Semua itu sebenarnya di luar tugas kami sebagai mahasiswa PKL. Kesibukan macam itu seringkali membuat kami jenuh dan mengeluh lelah. Bagaimana tidak? Di sekolah pun kita tidak hanya mengajar sesuai kelas saja, tapi seringkali jika ada guru mata pelajaran lain yang tidak bisa hadir, mereka meminta kami untuk mengisi kelas kosong tersebut. Jadi tak jarang pula, aku mengajar mata pelajaran sains, matematika dan mapel-mapel lainnya. Bagiku, meskipun itu cukup melelahkan awal-awalnya akan tetapi juga cukup menyenangkan lama-lama. Dengan begitu, aku jauh mempunyai waktu yang lebih intens untuk bertemu dengan mereka. Adik-adikku yang menggemaskan. Wajah mereka yang lugu, lucu, usil, tengil dan ulah mereka yang ga bisa diam penuh celoteh jail, justru mampu mengubah rasa lelahku menjadi lillah. Setiap hari aku dibuatnya merindu untuk berjumpa lagi.  
Jadwalku yang sebelumnya hanya 2x pertemuan selama seminggu, berubah menjadi hampir setiap hari. But, its oke. Semakin sering aku bertemu mereka, semakin dekat hubungan kita. Tidak hanya sekedar mengajar tapi lebih dari itu. Mereka sudah membuat aku jatuh cinta. “Janganlah menjadi guru yang dihormati sebab ditakuti, tapi jadilah guru yang dihormati sebab  dicintai” (Ma’rifaht). Yah, dari mereka aku banyak belajar tentang bagaimana menjadi sosok guru yang dihormati sebab cinta, bukan karena hanya takut semata. Takut nilainya jelek, takut dihukum atau semacamnya. Karena suatu ketika mereka pun pernah curhat, bahwa ada guru yang memang galak, suka menghukum. Ya mungkin karena mereka juga nakal atau bandel. Wajar sih! Padahal menurutku, pada dasarnya mereka adalah anak-anak yang baik. Mereka cukup dijinakkan dengan cinta dan kasih sayang dari gurunya.
Waktu pun bergulir begitu cepat tanpa terasa. Hari demi hari aku lalui dengan berbagai pegalaman. Berjumpa dengan mereka membuat hati ini bahagia. Justru hari-hariku kian menjadi berwarna. Ah cintaaa… aku mencintai kalian semua. Hingga tiba waktu perpisahan.  Sedih? Iya. Pertemuan terakhir kita, aku mengisinya dengan game bahasa dan sudah kusiapkan reward untuk mereka semua. Ah, suasana kelas begitu seru dan ramai teriakan-teriakan kompak mereka. Hati ini merasa teramat bahagia mendengar tawa mereka saling bersautan. Seusai game, aku pun berpamitan pada mereka bahwasanya ini adalah pertemuan terakhir kita di kelas. Berbagai respon celoteh mereka menanggapi. Lantas, aku meminta mereka untuk menuliskan surat berisi kesan dan pesan mereka selama belajar bersamaku. Memang aku akan membaca itu ketika sudah pulang dari kelas. Yah sesuai permintaan mereka juga. Tetapi berbagai kata yang mereka katakan bahwa tak ingin adanya perpisahan membuat aku cukup terharu. Mereka anak yang baik, cerdas, bukan anak nakal. Mereka adalah “GANAS” Generasi anak sholeh. Itulah nama kelas mereka. Airmataku tak terbendung bangga. Kami berfoto bersama, bergantian yang memotret. Hehe... Dan ketika aku yang memotret mereka, serempak mereka membentuk jari tangan mereka menyerupai lambang love. Argh, sungguh aku merasa terkesima dan terharu dibuatnya. Terima kasih kalian sudah memberikan warna cinta baru dalam kehidupan kak Rifa.  Kak Rifa mencintai kalian...
مَنْ لَمْ يَفِدْ بِالْعِلْمِ مَالًا كَسَبَ بِه جَمَالًا dari situlah, kutemukan manfaat ilmu yang bukan berupa harta, akan tetapi keindahan. yah keindahan cinta dan ketulusan dari mereka.
“Mengajar itu bukan hanya melibatkan pikiran saja, tapi juga melibatkan perasaan (Hati)” ~Ma’rifaht~
 


  Malang, 29 September 2018



Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar