Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

FENOMENA BUKA BAJU JONATAN DAN SIMBOL YANG MENGITARI

Halimi Zuhdy

Gebyar Asian Game, memberi banyak kejutan, dari hasil mas Indonesia yang melampaui target, pelukan Jokowi Prabowo, dan histeritas para wanita ketika Jojo buka baju. Bahkan gambar dan vedio buka baju terus diputar dilayar tv dan berkeliaran di youtube.

Beberapa hari ini, gambar itu banyak dijadikan status, dan diperbincangkan. Ada yang setuju dan yang tidak. Yang setuju, menganggap hal itu hanya luapan kegembiraan saja, tiada maksud apapun, spontanitas. Tapi, ada yang menganggap tidak etis dan tidak baik.

Bahkan pak Jokowi juga berkomentar, yang saya kutip dati Detik. com, "Jonatan menyabet medali emas Asian Games 2018. Ia merayakan kemenangannya dengan gaya yang khas: melepas kaus yang basah oleh keringat dan mengelilingi lapangan di bawah sorak-sorai kemenangan oleh puluhan ribu penonton!".

Menurut Jonatan, "Arti dari selebrasinya itu sebenarnya nggak ada ya, cuma kemarin kan emang suasananya lagi emosional banget dan di poin-poin kritis. Kemarin memang Kenta mainnya bagus banget dan saya di bawah perform. Saya benar-benar ketekan banget sama Kenta kemarin," ungkap Jojo, yang penulis kutip dari Tribun New.

Komentar yang terserak diberbagai tribun medsos dan layar kaca, berjibun kata setuju. Karena dianggap tidak ada pengaruhnya, hanya hal biasa saja. Tapi, menurut penulis, apapun yang telah dilakukan oleh seseorang,  dan itu berualang-ulang, bukan lagi spontan, tetapi ada unsur kesengajaan, dan unsur kesengajaan memiliki makna, dan makna itu yang mengental dan menjadi simbol dan misi.

Buka baju, bukan hanya dilakukan oleh Jonatan, tetapi banyak atlet yang melakukannya, seperti sepak bola ada; Moura Icardi, Iniesta, Samir Nasri, Mario Bolatelli, dan lainnya, yang kemudian mereka diganjar dengan kartu kuning. Berarti membuka baju, kalau sampai diberi kartu kuning, bukan hanya "sekedar", tapi ia memiliki maksud tertentu. Maka, membuka baju bukanlah "aksi spontan", ia antraksi dan aksi memiliki misi. Apa misinya? Silahkan dicari maknanya.

Selain buka baju dengan maknanya sendiri, ia juga memperlihatkan atau menampakkan simbol yang menjadi perhatian penulis, yaitu kalung Salib. Salib bukan hanya kalung biasa, dan kesenangan belaka, ia adalah keyakinan atas iman.

Apakah simbol itu bagian dari misi, boleh jadi. Karena dari simbol itulah ia "ada" dari keberadaan dirinya, dan darinya ia membuncahkan keyakinan dan semangatnya. Maka, simbol-simbol itu selalu ada diberbagai tempat dan waktu, dilakukan  oleh yang beragama dan tidak beragama, dan bahkan setiap orang memiliki simbol, karena simbol bagian dari keberadaan dirinya, kelompoknya dan keimanannya.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan perkataan, dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Ia 'bukan hanya" benda, tapi "bermisi, bermakna dan berkata".

Menurut Dorothy, "Simbol dapat mengantarkan seseorang ke dalam gagasan masa depan maupun masa lalu", ia adalah dari sebuah keinginan dan kenangan, harapan, penyesalan, sejarah dan keyakinan.

Setiap agama memiliki simbol sendiri-sendiri yang diyakini oleh pemeluknya, dan itu ada bagian dari kesucian, yang apabila simbol itu dilecehkan, dihina, direndahkan, maka bisa nyawa taruhannya. Karena, ia bagian dari sebuah iman bagi pemeluknya. Maka, tiada lagi istilah "hanya simbol saja", karena ia pesan luhur agama, syiar yang harus diagungkan, dan pesan menjadi dakwahnya.

Bagaimana dengan simbol Salib Jojo di atas?   Maka, ia bagian dari diri Jojo dan keyakinannya, tidak ada masalah, karena agama bagian dari diri seseorang dan menjadi misi dakwahnya. Sebagaimana orang lain (agama lain), bersujud bagi muslim ketika menang,  menggerakkan tangan tiga kali; ke kanan, ke kiri dan ke atas bagi Kresten, menyatukan telapak tangannya diletakkan di atas dahinya bagi Hindu, dan di bawah dagu bagi Budha, dan lainnya, ini bagian dari simbol gerak.

Simbol itu diwujudkan dalam banyak hal, ada yang berupa; bentuk, gerakan, gambar, atau benda yang mewakili ide atau gagasan.

Simbol-simbol itu tidak pernah bergerak sendiri, ia akan digerakkan oleh ruh yang bangkit; dari dirinya, orang lain atau kepercayaan iman, atau ia bagian dari gerak diri, kekuatan diri dan presentasi dari kedirian. 

Maka, memakai simbol orang lain, sama dengan mengakui kebenaran eksistensi simbol itu, menghargai simbol itu, seperti benderah merah putih yang dikibarkan oleh negara lain. Tapi, menginjaknya sebuah pelecehan atas negara, yang bermakna melecehkan rakyat dan pemerintah, bahkan dianggap melecehkan para pendiri negara.

Banyak kerusuhan karena simbol yang tidak dihargai, bahkan permusuhan yang berlangsung berabad-abad karena tidak memahami simbol yang ada, juga karena fanatisme simbol pula dan lupa subtansi banyak yang menghancurkan persaudaraan, membentuk permusuhan, dan membekukan kebenaran. Seakan-akan simbol adalah segalanya, dan lupa subtansinya.

Maka, bagaimana pun, simbol itu adalah gagasan yang masih menimbulkan banyak pemaknaan, maka memahaminya  butuh kesadaran. Dan tidak meniadakan subtansi hakikinya, yang banyak orang kadang terjebak pada simbol saja, tampa memahami subtansi darinya.

Jakarta, 31 Agustus 2018

*Pengajar Bahasa dan Sastra Arab Fak. Humaniora UIN Malang. Kolumnis beberapa media Nasional.


Share on Google Plus

About Halimi Zuhdy

Penulis puisi berbahasa Indonesia dan Arab (sudah 7 Antologi yang ditulis), Penulis buku Pembelajaran Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Arab, Lingkungan Bahasa, dan lain sebagainya. serta terpanggil untuk menjadi Da'i dan mengaji diberbagai pondok di Malang. sekarang menjadi Dosen Tetap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembina mata kuliah Sastra Arab Modern, Folklor Arab, Teori Sastra, dan Al-Arabiyah Li Aghrad Khassoh. serta mengajar Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab di Pascasarjana UIN Malang
menjadi Ketua Redaksi Jurnal LiNGUA Humaniora UIN Malang, dan menjadi Khodim Pondok Pesantren Darun Nun Malang.
Pernah belajar di King Saud University dan Menyelesaikan Doktoralnya di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menjadi Motivator Menulis, Pembelajaran Bahasa dan Sastra.

0 komentar:

Posting Komentar