Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Elusifitas dalam Berkhidmat




Thibbiatul Mirza Amalya

            Hidup adalah serangkaian peristiwa yang terjadi tanpa kehendak atau keinginan pribadi, kecondongan pada hal yang seringkali membuat seseorang mengeluh tanpa henti, tetapi menjadi suatu keharusan yang harus dijalani. Berharap setiap masalah enggan datang malah berlalu lalang, berharap selalu bahagia malah menderita dan berharap mempunyai cerita bak Cinderella, yang terjadi malah sebaliknya. Yah begitulah hidup,,,semakin banyak masalah semakin berwarna lah kehidupan yang dilalui. Sayangnya teori tak semudah kenyataan yang dijalani. Peran yang diberikan-Nya seringkali tak sesuai dengan kehendak hati, kerap membutuhkan ekstra energi.

            Saat itu matahari sedang tak ingin diajak bersahabat, sehingga membuat beberapa penggemarnya mencari penawar untuk menghilangkan akibat yang disebabkannya. Semangkuk es durian di sudut jalan menjadi pilihan. Sekian orang menepi untuk menikmati kesegaran dari buah yang lagi musim saat itu. Ukuran tempat dengan pengunjung yang datang tidak bersimbiosis, namun hal tersebut tak menghalangi setiap kaki yang telah berpijak. Setelah mengantri beberapa menit akhirnya aku bisa menikmati apa yang telah dinikmati orang-orang yang telah beranjak, jika sebelumnya hanya dapat melihat mereka meneguk dengan kepuasan akan rasa yang disuguhkan.

            Disaat menikmati tegukan terakhir, pemandangan ditrotoar seberang mampu mengalihkan perhatianku seketika. Seorang anak kecil berpenampilan lusuh dengan pakaiannya yang sedikit compang-camping tampak menangis tanpa ada seorangpun yang perduli. Suara hatiku mampu menggerakkan langkah kakiku menuju anak kecil tersebut. Selembar tisu aku gunakan untuk menghapus air matanya yang mengalir tanpa henti. Aku mulai menghibur dengan menggunakan senjata yang biasa anak kecil sukai (permen). Beberapa saat akhirnya dia mulai tenang dan sedikit menyunggingkan seulas senyum yang menurutku sedikit hambar. Aku mulai melontarkan beberapa pertanyaan seputar apa yang dia lakukan, apa penyebab dia menangis sampai apa yang ia inginkan.

            Beberapa saat kemudian ada laki-laki tua yang sangat lemah dan terlihat sedikit pucat menuju arah kami, yang ternyata merupakan ayah dari anak kecil tersebut. Ia menatapku asing seolah bertanya-tanya apa yang aku lakukan disitu, terlihat jelas dari raut wajahnya . Sebelum aku sempat menjelaskan alasan kenapa aku bisa  disini, tiba-tiba saja anak kecil tersebut kembali menangis dengan keras melebihi sebelumnya. Dia tampak memegangi perutnya dan mengeluh jika ia sangat lapar. Si ayah mencoba menenangkan dan berusaha menjelaskan jika mereka saat ini tidak punya sesuatu yang bisa dimakan, namun tak berhasil. Aku bergegas menuju toko yang berada tepat 50 meter dari arah kami, dan membeli beberapa makanan yang dibutuhkan. Saat aku kembali ketempat tersebut, hp ku berdering dan tampak suara ibuku yang sedikit emosi karena telah menungguku begitu lama. Seketika itu aku memberikan bungkusan tersebut dan meminta maaf jika harus terburu-buru pergi. Ucapan terima kasih terus ia ucapkan seolah membuatku ingin berlama-lama dan enggan untuk beranjak. Akhirnya aku hanya bisa mendoakan sesuatu yang baik untuk kehidupan mereka.

            Sesampainya diseberang jalan ada 2 pria  yang tampak heran padaku dan mengatakan untuk apa aku membantu laki-laki dan anaknya tersebut “ngapain mbak repot-repot bantu mereka, toh mereka itu cuma akting buat menarik simpati orang-orang sekitar, semua orang juga udah tau mbak”. Seolah tak mau kalah si pria satunya menambahkan”orang kayak gitu gak pantes dikasihani mbak, andaikan mau bekerja pasti masih kuat. Jangan mau ketipu mbak”. Aku hanya menanggapi nya dengan senyuman dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan aku sedikit ragu dan bertanya-tanya dalam hati”apa mungkin mereka hanya bersandiwara dengan memanfaatkan keadaan yang mereka alami, masak sih,,kok tega ya”. Aku coba menepis pikiranku dan berfikir positif tentang kejadian tersebut, namun tetap saja kata-kata kedua pria tadi begitu mengganggu.

            Setibanya dirumah aku menceritakan pada ibu apa yang menjadi kegalauanku. Beliau hanya menanggapi dengan senyuman ringan dan mengatakan “apa perlu alasan, untuk sekedar membantu orang yang membutuhkan bantuan???”. Pada saat itu aku menyadari bahwa tak perlu alasan untuk membantu seseorang. Mengenai perihal jujur atau tidaknya itu adalah urusan setiap individu dengan pencipta-Nya secara langsung.  Dan bukan merupakan tugasku dalam memberi penilaian secara satu pihak saja. Toh, kehidupan yang sedang dijalani belum tentu sesuai dengan apa yang diinginkan. Hal ini mengingatkanku pada arti kata khidmat (suatu bentuk keadaan yang tidak mengabaikan sesuatu,memperhatikan dengan seksama, menghormatinya serta focus terhadap hal tersebut), yang tanpa disadari aku telah sedikit mempraktekkan arti kata tersebut.

        

Pondok Pesantren Darun Nun Malang (28-09-2018)










Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar