Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dapatkan semua yang kamu mau dengan, Khidmat

Oleh
  Intani Sholihah Hafizatul Husna 

Beberapa tahun yang lalu, saya mengenalnya. saat itu ia adalah anak remaja yang baru lulus sekolah menengah atas (SMA) . Kehidupannya cukup sulit, baik dari segi finansial maupun psikologisnya. Bagaimana tidak, untuk makan pun sangat susah. Ayahnya seorang buruh yang kerjaannya tidak menentu, ia akan bekerja dan mendapatkan uang jika ada orang yang membutuhkan bantuannya. begitupun ibunya. Disamping itu orang tua nya harus mengurus beberapa anak dari keluarga nya yang ibu bapaknya telah bercerai dan ikut tinggal bersama mereka. Dirumah yang cukup kecil dan mungkin tidak layak untuk di tempati, rumah yang bangunannya hanya menggunakan bata mentah (belum dibakar). Perjuangan hidup mereka tidak berhenti disitu saja.

Waktu begitu cepat, dan tibalah saatnya ketika anak remaja 18 tahun ini berkeinginan untuk mondok di salah satu pondok pesantren ternama di jawa tengah, Yanbu'ul Kudus. Semua orang yang mendengarkannya saat itu hanya bisa tertawa. Mungkin bagi teman-temannya ataupun orang-orang yang berada di sekitar rumahnya adalah hal yang tidak mudah. Karena pasti biayanya tidaklah murah. Sekedar untuk makan aja sulit, apalagi mau mondok di pondok pesantren ternama, pasti akan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Dari tadi saya sampai belum sempat memberitahukan nama sosok anak remaja laki-laki ang mimpinya cukup tinggi ini. Hamdin, namanya. For u'r information, Hamdin ini adalah salah satu murid bapak saya.

Singkat cerita

Saat itu kebetulan bapak saya berkeinginan untuk pergi ke kudus karena beberapa bulan kedepan adik peremuan saya yang pertama akan lulus SMP. Nah, pada saat itu di kudus sedang ada pembukaan pendaftaran santri baru untuk yang masih bersekolah (melanjutkan sekolah smp/sma) ataupun yang hanya ingin mondok tahfiz al-qur'an saja. Karena bapak saya tahu bahwa hamdin, muridnya itu berkeinginan untuk mondok disana jadi saat itu bapak saya langsung menghubungi orang tua nya. Dan pada saat itu juga hamdin langsung datang kerumah beserta orangtuanya.

Mungkin, bagi orang yang memeliki duit yang banyak, pergi ke kudus itu adalah hal yang sangat mudah. Tapi tidak untuk keluarga satu ini. Saya merupakan orang yang tahu bagaimana mereka minjam uang sana sini, dan sampai akhirnya uang itu cukup untuk biaya pergi ke kudus. Dan akhirnya pergilah bapak saya bersama hamdin ke kudus. Entah bagaimana ceritanya, hamdin diterima di pondok pesantren yanbu'ul kudus.

Terlepas dari cerita saat-saat dikudus ternyata kurang dari setahun ia mampu menghapalkan al-qur'an 30 juz dengan sangat fasih, padahal menurut guru agama nya saat ia masih duduk di bangku sekolah, hamdin merupakan sosok murid yang sangat kurang dalam kebisaan membaca al-qur'an maupun dalam menerima pelajaran. Dan alhasil, sekarang ia adalah seorang hafidz al-qur'an. Ngga nyangka kan? sama .

Ternyata setelah beberapa bulan setelah ia wisuda tahfiz, salah satu ustad yang masih punya hubungan keluarga dengan Almarhum Mbaharwani kudus menceritakan hal yang terjadi selama hamdin menjadi santri di kudus. 
menurut salah satu ustad, hamdin adalah salah satu santri yang paling dipercaya oleh semua ustad maupun ustazah, ia kerap sekali membantu ustad/ustadzah dalam hal apapun, baik itu hal yang sangat sederhana sekalipun. ia juga sering sekali mencuci motor/ mobil yang sering di pakai ustadnya ke kajian. Tidak berhenti disana, hamdin merupakan santri yang mendapatkan mondok gratis dengan cuma-cuma. Ia sangat sopan terhadap gurunya. Bahkan, saya sampai tidak percaya sama sekali ketika bapak saya menceritaka hal itu. How great he is. --Waaageelaaaaseeeh

Tau ngga guys?  menurut tetangganya, hamdin ini merupakan anak yang sangat legowoo, mau diejek segimanapun sama teman-temannya, dia ngga bakalan bilang apapa. paling cuma senyum. Adab keorang tuanya juga subhanallah. Sangat penurut. Bahkan ketika ia bersalaman  dengan orang tuanya pun mungkin ia sangat berbeda. Mungkin kalau kita paling cuma salaman, selesai. Tapi tidak dengan dia. Ketika ia bersalaman dengan orang tuanya ia mencium punggung tangan, telapak tangan orang tuanya, setelah itu tangan orang tuanya di taruh ke kepalanya, dan yang terakhir kaki orang tua nya di cium. Itu setiap kali salaman. 

Kalau kita sudahkah berbuat seperti itu kepada orangtua dan guru-guru kita? Dan kira-kira sudah segemuk apa rekening khidmat kita?

jadi, ayo berkhidmat ! semangat :)

Kalian pasti penasaran kan seperti apa sosok hamdin? tenang, kali ini saya akan mencantumkan fotonya di tulisan ini.

NB : Itu foto hamdin dan bapak saya ketika sedang berada di kudus.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar