Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dakwah dan rasa khidmatnya nabi Ibrahim


Oleh:
Nur Sholikhah


Sejatinya kita semua adalah seorang dai yang wajib berdakwah. Kok bisa gitu? Karna kita harus mengajak orang lain untuk senantiasa berbuat baik dan berada di jalan yang benar. Ketika kita sangat mencintai Allah, maka ajaklah orang lain untuk mencintai-Nya juga, ajaklah ia untuk merasakan ketenangan dan kenikmatan saat kita menjalankan perintah-perintah-Nya. Berdakwah berarti mengajak, tanpa paksaan. Karna sejatinya kita hanyalah sebagai perantara, bukan pemberi hidayah. Yang berhak membukakan pintu hidayah hanyalah Allah, sang muara kasih.

            Proses dalam berdakwah memiliki tahapan-tahapan, tidak secara instan. Ada kalanya tahapan itu mengecewakan, menyedihkan, memuaskan juga menggembirakan. Itulah warna dalam berdakwah. Kita bisa berkaca pada kisah 25 nabi dan rosul yang sudah sering kita dengar. Setiap nabi memiliki tantangan tersendiri ketika berdakwah, banyak umat yang menentang saat itu, bahkan ada yang mengancam akan membunuhnya. Kita juga bisa melihat betapa para wali songo harus berjuang dalam berdakwah menyebarkan islam di nusantara, tahapan demi tahapan dilalui, rintangan demi rintangan dilewati. Semua tidak instan bukan?

            Dalam berdakwah pastinya tidak menggunakan cara yang asal-asalan, yang penting mengajak tanpa mengindahkan etika dan norma. Semua ada metodenya. Yang terpenting, kita harus memiliki modal awal sebelum berdakwah yaitu kejujuran. Karena sesuatu yang dimulai dengan kejujuran, maka selanjutnya kebaikan akan mengikutinya. 

            Nabi Ibrahim adalah sosok nabi yang sangat pemberani dan mencintai kebenaran. Hal ini disebutkan dalam surat maryam ayat 41 yang artinya:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (quran), sesungguhnya dia seorang yang mencintai kebenaran dan seorang nabi.”

Allah memerintahkan nabi Muhammad untuk menceritakan kisah dan dialog yang berlangsung antara nabi Ibrahim dengan ayahnya ketika nabi Ibrahim melarangnya menyembah berhala. Dalam dialog ini kita dapat mengambil teladan dari sosok nabi Ibrahim. Dalam ayat 42-47 surat maryam yang artinya:

“Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak menolongmu sedikitpun?”
 
“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”

“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada tuhan yang maha pengasih.”

“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari tuhan yang maha pengasih. Sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”

Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

Dia (Ibrahim) berkata, Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

Nabi Ibrahim mengajak ayahnya dimulai dengan cara yang halus, dia menggunakan panggilan “wahai ayahku” yang menunjukkan betapa nabi Ibrahim sangat menghormati dan mencintainya. Tanpa mengabaikan rasa khidmatnya, beliau mengajak sang ayah untuk menyembah Allah. Dan sang ayahpun menolak bahkan mengancam untuk merajamnya, mengusirnya untuk pergi ke tempat yang jauh dalam waktu yang lama. Namun apa balasan nabi Ibrahim? Beliau tidak marah atau membalas dengan kata-kata kasar. Namun beliau malah mendoakannya dan memohonkan ampunan bagi sang ayah. Sungguh sebuah teladan yang luar biasa, bagaimana pentingnya tetap menjaga kesopanan saat orang lain menolak ajakan baik kita dan juga sebagai anak yang meskipun memiliki tujuan yang berbeda dengan orang tua, kita tidak dianjurkan untuk mengurangi rasa khidmat kepada beliau.

Semoga kita senantiasa dapat meneladani sifat-sifat nabi Ibrahim, selamat berdakwah!




Malang, 16 Muharram 1440 H
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar