Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tentang Tulisan Sampah

Pondok Pesantren Darun Nun Malang



Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya

                Menulis adalah pekerjaan yang berat, menurut sudut pandangku yang terkadang kurang jelas. Aku pribadi, sedikit pesimis saat harus menuangkan isi pikiran bahkan isi hati menjadi sebuah tulisan yang akan dibaca bahkan dikenang.  Beberapa hari ini aku sedikit berfikir, apa langkah (belajar menulis) yang aku ambil ini akan sia-sia???. Nyatanya saat mencoba menulis aku tak merasakan  bahwa apa yang aku tuliskan akan membawa kesan bagi para pembaca, malah lebih terkesan geje isinya. Akhirnya aku mencoba menulis apa yang sedang berputar di otak, sekuat tenaga aku korek apakah ada sesuatu yang menyangkut dan bisa dijadikan ide buat isi tulisanku. Satu jam, dua jam berlalu dan aku hanya berhasil menulis satu paragraf. Otakku kian memanas dan aku mulai putus asa. Sesaat aku mulai memutar beberapa lagu, berharap otak sedikit fresh dan bisa melanjutkan isi tulisanku. Bersamaan dengan jarum jam yang semakin berjalan, akhirnya apa yang aku tulis telah selesai. Terbesit kebanggan dalam diri sendiri bahkan aku mulai senyum-senyum menatapi layar note-book ku. Yah meskipun harus menghabiskan  waktu yang terbilang lama meskipun buat seorang pemula.
                Esoknya aku beranikan diri untuk mengirim hasil tulisanku ke salah satu teman terdekatku. Aku memintanya untuk memberi kritikan dan masukan tentang tulisanku ini. Dalam ekspetasiku  dia akan mengatakan beberapa patah kata pujian “wahhh bagus kok, akhirnya kamu bisa nulis juga” dan masih banyak kata pujian lagi dalam angan ekspetasiku. Realitanya dia malah mengatakan hal yang berbalik arah searah jarum jam yang berputar. Beberapa kata komentar mulai dia lontarkan, seketika aku mulai down dan depresi. Dan hatipun mulai ikut menggerutu ”aku nulis tiga paragraf aja udah dapet komentar kurang lebih separagraf, dan yang ngeritikpun  juga baru satu orang. Gimana kalo ditambah kritikan orang lain juga ya,,hemm mungkin bakal melebihi jumlah tulisannya ”. Sesaat terlintas pikiran untuk berbagi dengan teman ku yang lain, aku yakin setiap persepsi orang kan berbeda. Pastilah ada salah satu kata yang bisa menguatkan hati dan pikiran bahwa tulisan yang aku tulis dengan usaha keras pasti ada sisi menariknya. Aku mulai mengirimnya dengan setengah hati. Setelah beberapa kritikan mulai aku dapatkan, dari bahasa yang halus sampai ada perkataan yang menyatakan bahwa tulisanku adalah sampah (segi bahasa yang monoton, pembahasan yang kurang menarik dan masih banyak yang lainnya). Jika ada sebuah pujian dapat diyakini bahwa si komentator hanyalah mencoba menghibur dan dan tidak ingin menyakiti (dan hanya berkomentar dalam hati). Entah bisikan angin mana yang bisa mempengaruhi hatiku secara penuh dan mengalir pada pikiranku. Sampai-sampai dengan banyaknya komentar malah tak lagi membuatku sakit hati.
                Sejenak aku mulai menyadari bahwa seburuk-buruk nya sampah bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar, asal bisa mengolahnya dengan baik maka akan menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan. Begitu juga dengan tulisan, jika mau mencoba dan berusaha untuk memperbaikinya pasti akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Perlu disadari bahwa semua membutuhkan proses yang harus dilalui, mengenai jangka waktu yang ditempuh hanya diri sendirilah yang dapat menentukannya. Let’s try and do it well…



               
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar