Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TENTANG SELF ACCEPTENCE : SEBERAPA KAU MENERIMA DIRIMU PART 1

Dyah Ayu Fitriana

Kita sering berkata pada diri sendiri untuk menerima pasangan atau sahabat kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tapi sebelum semua itu kita lakukan, sudahkah kita menerima diri sendiri dengan segala keterbatasannya?


Dulu ketika  keluar dari SMA kesedihan yang paling besar adalah semua teman-teman bisa masuk ke perguruan tinggi favorit, sedangkan aku malah terpental ke jurusan yang tidak sesuai dengan latar belakang IPA. Hal itu berlanjut sampai teman-teman pada kerja, pada punya prestasi sendiri-sendiri, sering terlontar pertanyaan "Ini beneran aku gini-gini aja?" padahal aslinya saat itu pun sedang ngga "gini-gini aja" banget.

Di dunia yang sudah kebanyakan maya ini, kita bahkan bisa setiap hari dilanda ketidakpuasan pada diri sendiri. Lewat apa? medsos. Barangkali tiap semenit sekali kita memeriksa medsos, entah itu whatsapp, instagram atau yang lain (jujur, emang iya, kan?). "Ah Mbak aku kan lagi cari info beasiswa, lomba nulis atau konten-konten yang berfaedah lainnya". Oke hiiya aku paham kalau memang beberapa orang menggunakannya untuk keperluan demikian. Tapi sebagai pengguna medsos yang awam kita pasti dibanjiri banyak foto-foto lain. Ada teman yang sedang kuliah di luar negeri, ada yang sudah punya suami smart soleh tinggi, ada yang lagi foto di hotel mewah nan megah. Setelah berkata "Wah keren temenku" sulit untuk tidak melanjutkan dengan "Aku kok buruk banget sih, nggak guna banget. Coba tengok kalau hal itu terjangkit pada dirimu berarti self acceptencemu masih perlu digali lagi.   

Self Acceptence barangkali bisa diartikan sebagai cara pandang positif pada diri sendiri, entah kelebihannya bahkan kekurangannya sekalipun. banyak orang yang nggak bisa menumbuhkan hal itu dalam dirinya, padahalsiapa sih yang mau hidup dengan terus-terusan memandang rendah diri sendiri, kecewa sampai akhirnya jatuh depresi. Menerima diri sendiri adalah hal yang mendamaikan, karena dengan yakin ngga ada orang yang hidup tanpa kekurangan, kita jadi bisa memaafkan kekurangan atau kesalahan yang ada pada diri kita.

Dulu sering banget punya perasaan mangkel sama diri sendiri kalau ngelakuin kesalahan. Nyeselnya bisa berbulan-bulan "ngapain sih ngelakuin hal bodoh kayak gt". Ya bener aja nyesek sendiri akhirnya nggak bisa beraktifitas dengan tenang. Sampai suatu hari aku sadar bahwa nggak semua yang kita kerjakan bisa sempurna, nggak semua respon orang lain sesuai dengan ekspektasi kita. Selama kita sudah berusaha dengan yang terbaik "dengan segala keterbatasan kita", its okay. Its okay jika kita pernah salah, its okay jika ada orang yang membenci tindakan kita, toh kita nggak akan bisa menyenangkan semua orang. Dari situ akhirnya mencoba berdamai dengan diri sendiri, kalau pas berkendara sendirian, terus ingat kesalahan dan nyesek, pertama aku coba bayangkan kalau semua gambaran kesalahan yang telah terjadi bisa dihapus sebagaimana kita menghapus di buku gambar. Apa gunanya diingat-ingat toh semua sudah terlanjur. Lalu aku coba fokus sambil membisiki diri sendiri "udah, nggakpapa aku maafkan kamu (baca:diriku) yang memang bisa salah, coba kita lihat apa yang bisa kita ambil agar nanti nggak mengulang kesalahan lagi." Simpel tapi coba deh, dengan memaafkan dan memaklumi diri sendiri kita bisa lebih tenang dan bahagia.


Selamat belajar berdamai dengan diri sendiri.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang












Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar