Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Panggung Sandiwara

Oleh : Cintia Dwi Afifa
Beberapa hari yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan acara TV Mata Najwa yang bertema Pura-pura Penjara. Sungguh, bahkan di dalam penjarapun mereka masih bisa bersandiwara. Menurut saya, yang paling membekas ialah Senyum Pak Set**v yang khaspun kembali mengembang. Senyumnya yang manis itu kembali memainkan logika bahkan hati para penikmatnya. Dalam penjara kemarin, barang-barang mewah dan ukurannyapun besar bisa masuk dengan mudahnya, dan jika dipikir dengan logika Ah... sudahlah, mereka bukan mereka. Mereka hanya menjalankan perannya, sesuai perintah nominal. Ada yang bilang jangan sembarang mengkritik, jika kamu yang ada diposisinya tidak barang mesti kamu tidak melakukan apa yang mereka lakukan. Hmmm okee, bukankah hidup adalah hanya seputar pilihan. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang demikian.
sumber gambar : google search

Peristiwa itu mengingatkan saya sepatah kata mantan ketua KPK  RI , tiga tahun lalu beliau berpesan Wahai Mahasiswa, sampai hari ini hukum masih tertidur dipangkuan para penguasa. Yang berduit yang berkuasa. Nah.. kalian-kalianlah yang saya yakin bisa membangunkannya. Saat ini,  segalanya akan terasa mudah dengan uang. Tradisi suap-menyuap dari skala kecil hingga besarpunn sering terjadi dalam kehidupan kita. Sungguh, sangat sulit membedakan mana yang tulus memberi atau mana yang memberi dengan maksud tertentu.
Hari ini, saya dikejutkan dengan sebuah kesepakatan yang katanya sih hal yang biasa, sudah menjadi rahasia umum, bahwa kesepakatan demikian sah sah aja, tapi menurut saya sangat tidak patut. Tadi pagi, saya girang banget di ajak seorang teman untuk mengikuti seminar tesis di sebuah universitas. Ah, kebetulan saya sangat rindu suasana kelas dan penasaran dengan universitas tersebut yang kata kebanyakan orang bisa dibilang, mahasiswanya lebih berkualitas. Hal itu yang sempat dibantah oleh seorang guru saya, beliau bilang untuk melihat kualitas seseorang tidak ditentukan dengan dimana dia belajar, dimana dia bekerja, tapi pribadi masing-masing.  Bukan yang bergelar tinggi, bukan yang belajar di sekolah/univ. Ternama, bukan yang bekerja di perusahaan besar, tapi mereka yang berani berlaku jujur dalam hidupnyalah yang berkualitas. Yah.. ini hanya perihal pendapat dan juga prinsip. Boleh setuju boleh tidak. Oh iya... kesepakatan apa yang saya maksud ? bukan itu yang pingin saya bahas kali ini.
Intinya, jujur itu mahal. Semoga kita tidak tergiur dengan hal-hal yang duniawi hingga melupakan ada akhirat nantinya. Pura-pura penjara, pura-pura pintar, pura-pura doktor, pura-pura berIQ tinggi, pura-pura sholeh/sholehah, dan apalah yang pura-pura didunia ini mungkin tidak mungkin bisa kita lakukan. Tapi, bagaimana dengan di akhirat ? bisakah kita membeli sebuah kebenaran dengan uang, orang dalam, dan lain-lain ? bukan berarti saya lepas dan bersih dari ketidak jujuran. Marilah kita sama-sama berusaha untuk terus memperbaiki diri. Dunia hanyalah sementara, begitupun dengan sandiwara, enaknya hanya sementara. Teringat pesan, yang saya dengar di Ramadhan kurang lebih 5 tahun lalu. Beliau menyuruh semua santrinya tidak hanya mendengar tapi juga menulis nasihatnya, Jangan sampai kamu mengejar mati-matian sesuatu yang tidak kamu bawa mati.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar