Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Si Rakus yang Pandai Meloloskan Diri





Oleh:
Nur Sholikhah





                 Malam itu, ia berkeliaran tanpa sungkan. Keluar dari sarangnya yang bau dan gelap. Merayap di lorong-lorong pengap, kemudian lari pontang-panting saat melihatku memergokinya. Aishh, aku gemas dengan dia. Warnanya hitam pekat, berkumis, berekor, dan pandai sekali memanjat dan meloloskan diri dari sergapanku. Setiap hari, dia tak pernah malu menampakkan hidungnya, bahkan pada siang bolong. Heran, apakah dia tak pernah merasa kenyang?


                Kuakui dia punya beberapa kelebihan, indra penciumannya, pendengarannya, dan perasanya sangat tajam. Ia juga bisa meloloskan diri melewati lubang yang hanya selebar 12 mm. Hanya saja, penglihatannya lemah dan dia buta warna. Entah, mungkin kelebihan dan kekurangan tidak hanya ada pada setiap manusia, namun juga makhluk ciptaan Tuhan lainnya. 

                Aku benci sekali tabiatnya, sudah rakus tak sopan pula. Segala yang ada di depan matanya ia lahap. Tak peduli apakah aku masih membutuhkannya atau tidak. Ia merangkak ke dapur, mencari celah di antara barang-barang yang ada. Bahkan terkadang ia melempar benda-benda yang menghalangi langkahnya, seperti gelas, sendok, dan toples. Alhasil, suara gaduh terdengar bergema. Seketika aku berlari, ingin segera menangkapnya. Tangan ini membawa sapu, berharap aku dapat membersihkan otaknya, lalu memberikan beberapa pukulan untuk membuatnya jera. Tapi, lagi-lagi ia lolos. Begitu gesit dan lincah.

                Pernah suatu kali, aku mendapati  ia menyusup ke meja makan. Dengan indra penciumannya yang tajam, ia segera mengambil makanan kesukaanku, ayam goreng. Kami sempat saling pandang, aku melototinya. Ia gemetar, lalu berbalik arah. Ayam itu ia tinggalkan begitu saja. Aku tertawa, lalu membuang ayam itu ke wadah makan Peni, kucingku. Ia mungkin takut melihat otot mataku yang meregang. Akhirnya dia kabur, bersembunyi di celah-celah almari. Aku mengacuhkannya hingga hari berganti pagi.

                Suaranya terdengar kembali. Gaduh, ricuh. Aku menaruh curiga, jangan-jangan ia membawa temannya, saudaranya, atau keluarganya. Suara itu semakin berisik, hingga aku tak tahan mendengarnya. Mereka bersembunyi di bawah almari, sebuah kolong yang kotor dan berdebu. Dengan membawa senter aku menengok ke dalam celah kecil itu. Tapi astaga, mereka benar-benar sedang berpesta. Menggigit kaki-kaki almariku. Begitu ganas, rakus sekali mereka. Apa-apa yang dilewatinya selalu jadi korban, makanan, almari, pakaian, sandal. Gigitannya membekas, seperti sengaja untuk meninggalkan jejak. Aku geram. 

                “Bagaimana caranya agar mereka tidak lagi menggangguku? Aku sudah berusaha dengan berbagai macam cara. Membeli racun tikus, namun yang terkena malah kucing tetangga. Membeli lem perekat, namun korbannya adalah tokek cacat. Membeli alat perangkap, namun yang terjepit adalah kakiku sendiri. Cara apa lagi yang harus kucoba?” tanyaku pada Peni.

                “Aku akan memakannya setiap hari.”

                “Tidak mungkin, mereka begitu gesit. Kau saja tak bisa masuk ke lubang yang diameternya hanya 12 mm. Bagaimana kau bisa menangkapnya?”

                “Tenang saja. Aku punya perangkapnya.”

                “Apa itu?” tanyaku dengan dahi mengernyit.

                “Pelumas.” 

                Sontak aku langsung tertawa dan menjewer telinganya.
 





Malang, 9 Mei 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar