Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sudahkah kita mencintainya?




(Istafti qolbak!)

Nur Ma’rifatul Jannah

Sudah seringkali kita membicarakan tentang Beliau.  Kisah tentangnya sudah masyhur di seluruh dunia, dari zaman ke zaman. Teladannya sudah seringkali di siarkan di segala penjuru Masjid. Lantas siapa yang tidak mengenalnya? Bahkan non muslim pun setidaknya pernah mendengar namanya. Iya, beliaulah Nabi kita, Rosulullah, nabi Muhammad SAW. Dan kita pasti sudah mengenal beliau bukan? Tapi, sudahkah kita mencintainya?       
Nah, level cinta itu ada beberapa...
Pertama, Diucapkan dengan lisan
Misalnya, mengucapkan “saya cinta Rosul”. Anak kecilpun bisa melakukannya hanya dengan jika kita memberi contoh dan langsung ditirukan olehnya, mudah saja jika mengucapkan, meskipun tak mengerti maksudnya. Atau dengan meyakini yakni misalkan dengan mengucapkan syahadat. Asyhadu anna muhammadar Rosulullah.  
أشهد أن لااله الاالله وأشهد أن محمد الرسول الله.
Semua orang khususnya muslim pasti bisa mengucapkan kalimat itu. Dari anak kecil sampai orang tua pun bisa saja  mengucapkan itu dengan lisan.
Kedua, Dilakukan dengan perbuatan
Misalnya dengan  membaca sholawat atas nabi, melakukan sunnah-sunnahnya, mengikuti ajaran-ajaran beliau. Itulah beberapa wujud cinta dengan perbuatan. Teringat kisah seorang sahabat Abu Ubaidillah suatu ketika ia pernah bertanya pada Rosulullah, Ya Rosulullah beliau menanyakan kepada nabi perihal berapa banyak, Rosul ingin disebut dalam bagian dari do’a Ubai. Dengan menawarkan ¼ kemudian ½ dan seterusnya dari doa Ubai. Nabi pun menjawab, alaa maa syi’ta, faidza zidta fahuwa khoir (terserah kau, jika kau tambah itu akan lebih baik). Hingga sampai akhirnya sahabat Ubai mengatakan, ia akan memperbanyak sholawat dalam do’anya. Seluruh bagian dari do’anya akan selalu ia isi dengan bersholawat untuk Nabi. Demikianlah wujud betapa cintanya sahabat Ubai terhadap Rosulullah. Maka kita? Setidaknya kita mau berusaha untuk berupaya membuktikan cinta kita pada beliau.
Ketiga, Dirasakan dengan hati
Mencintai dengan mensyukuri, merasa bangga dengan segala teladan Rosul. Tapi tidak hanya itu, tapi bagaimana kita mampu merasakan pula bagaimana penderitaannya. Perjuangannya, merasakan bagaimana sedihnya, sakitnya.
Teringat kisah seorang sahabat yang bernama Muadz bin jabal. Tentang betapa cintanya ia kepada Rosulullah. Begitupun Rosul, sangat mencintainya. Suatu ketika Rosul memerintahkan Muadz untuk mengajarkan ilmu Pengetahuan di Yaman, beliau berwasiat kepada Muadz dengan berkata: “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini, malah mungkin juga selepas ini kamu akan melalui masjid dan kuburku.” Seketika itu Muadz pun menangis terlalu sedih jika harus berpisah dengan Rosul. Dan setelah itu, benar Muadz sudah tidak bisa bertemu lagi dengan Rosul. Beberapa hari sebelum terdengar kabar meninggalnya Rosul, Muadz sering bermimpi yang ketika terbangun membuat ia sampai merasakan tubuhnya bergetar dan ketakutan. Kemudian ia membuka kitab Al Qur’an dan membacanya. Dan ayat yang ia baca selalu berhubungan dengan kematian. Ia merasa sangat gelisah, dan mengingat Rosulullah dalam mimpinya. Lantas ia pun melakukan perjalanan ke Madinah untuk memastikan keadaan Rosul. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang yang mengabarkan bahwa Rosul telah meninggal. Seketika itu Muadz pun terjatuh tak sadarkan diri. Kepergian Rosul dan tidak bisa berada di sisi Rosul ketika detik terakhirnya, membuat Muadz sangat terguncang batinnya.
Ingatkah kita tentang bagaimana detik-detik wafatnya Rosul. Allah mengutus malaikat jibril untuk menjemput Rosul bersama dengan malaikat Izrail. Akan tetapi Allah berpesan, andaikan Rosul belum berkenan, sudahlah jangan bawa ia. Lantas ketika malaikat Izrail ditemani malaikat Jibril datang ke rumah Rosul dan mengatakan maksud dari kedatangannya, Rosul pun bersedia. Akan tetapi hal apa yang ditanyakan Rosul, justru beliau menanyakan bagaimana Ummatnya nanti sepeninggal dirinya?
Bahkan ketika di sisi menantunya, Ali bin Abi Tholib beliau pun menyebut-nyebut ummati...ummati...ummati...!!!
MasyaAllah, di detik-detik akhirnya pun masih saja yang diingat beliau adalah ummatnya. Tidakkah kita merasa, betapa Rosulullah sangat mencintai kita sebagai ummatnya.
Lantas kita? pernahkah kita menyadari akan hal itu? sudahkah kita menyadari akan kecintaannya pada kita? Sudahkah kita mencintainya? Kedalaman isi hati setiap orang siapa yang tahu?
Istafti qolbak! Tanyakan pada hatimu!
Semoga kita termasuk golongan orang yang dicintai beliau, dan mencintai beliau pula.
اللهم صلي على سيدنا محمد...

110418
Cahaya_Ma'rifaht
 








Sumber:
https://kissanak.wordpress.com/2011/04/23/kecintaan-muadz-bin-jabal-ra-pada-rasulullah-saw/
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar