Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

P I L I H A N

oleh : Cintia Dwi Afifa
“Hidup itu penuh pilihan, pilih terus maju atau putus asa ?! berani mencoba atau tidak sama sekali ?! berhasil/gagal atau malah diam ditempat ?!”

Hari kamis, 22 Maret 2018, salah satu doa-ku akhirnya terkabulkan (bertemu dengan Ustad Abdul Somad). Ba’da magrib, beliau diundang untuk mengisi tausiyah di masjid Raden Fattah UB Malang. Namun, ada beberapa hal yang membuatku terlambat dan selesai mepet sekali dengan magrib, perjalanan dan cari tempat parkir memakan waktu yang lumayan banyak. Mau ndak mau, akhirnya tak bisa ikut shalat magrib berjamaah dengan beliau. Kami,  Ada di lantai 1, dengan layar dan LCD dan jamaahnya lumayan full. Dalam hati bergumam, kalau gini mah sama aja sama nonton di youtube. Akhirnya, dengan hati yang agak ragu aku dan temanku mencoba naik ke lantai 2. Akhirnya kita bisa wujud asli UAS hehe  , tapi dengan jarak yang sangat jauh dan tak ada tempat untuk duduk. Kami diarahkan oleh panitia untuk naik lagi ke lantai 3. Tapi sebelum itu, kami berusaha cari tempat kosong dilantai itu dan hasilnya nihil, sudah sangat penuh. Dengan langkah yang sempoyongan, dan pasrah akhirnya kami naik di lantai 3. Dan tebak apa yang terjadi ? di barisan yang paling depan ternyata kosong, yah meski sambil berdiri. Tapi tak masalah, dan jaraknya lebih dekat ketimbang kalau lihat dari lantai 2 karena terhalang oleh shaf cowok.  
Nasihat-nasihat yang biasanya, hanya bisa kudengar lewat youtube kini terdengar secara langsung. Ada gurauan beliau yang sangat pas : semisal ini tadi, dateng jauh-jauh ke Masjid ini, buru-buru... eh sampai sini shafnya sudah penuh, clinguk kanan kiri tetep aja nggak nemu, akhirnya pasrah sama Allah.. dan akhirnya diangkat sama Allah derajatnya, jadi dilantai atas.. wah tak disangka malah jadi bisa liat wajahnya UAS. (semua jemaah tertawa begitupun aku, hehe ndak lucu ya ? lucu kok, pas banget soalnya). Seperti biasa, disesi terakhir beliau memberi kesempatan untuk tanya jawab : ada satu pertanyaan yang sangat ku ingat, ustad, bagaimana jikalau saya sebenarnya sadar bahwa maksiat itu nggak boleh, tapi saya tetap saja melalukannya ? karena emang sudah nggak bisa ustad untuk dihindari. Beliau mejawab, (yang saya simpulkan, sbg berikut) hidup itu pilihan. Ada 2 macem pilihan, pertama pilihan yang bisa kita tentukan sama yang tidak. Yang tidak, contohnya adalah kita lahir sebagai suku apa ? kita tak bisa memilih. Atau kita mati dimana ? itu juga tak bisa memilih. Kalau maksiat atau tidak ? jelas, itu pilihan ada di tangan kita. Contohnya lagi, ke pengajian atau konser? Jelaskan.. kita bisa memilih.. kalau maksiat ? pilihannya, ya lakukan atau tinggalkan ? jelas saja, harus kita tinggalkan, pilihan yang tepat. Hanya saja, kita yang tak mau. Bukan tak bisa.
Hal itu, mengingatkanku pada nasihat lama. Hidup itu harus berubah terus. Berubah untuk terus menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi. Improvisasi harus ada. Logikanya gini,




                                                                                          
            Lagi-lagi soal pilihan. Artinya gini, kalau kita berani untuk maju/mencoba ada 2 kemungkinan berhasil dan gagal. Dan seandainya kita gagal, kita masih punya peluang untuk berhasil kedepannya. Karena kita punya pelajaran yang bisa dipelajari lagi dan lagi untuk mencapai keberhasilan.  Experience is the best teacher. Kalau kita nyerah, tak mau mencoba. Hanya ada 1, yaitu gagal. Tak ada yang berubah pada kita. Seperti halnya, cerita yang diatas, andai saja aku dan temenku kala itu, menyerah dan memutuskan untuk tetap dilantai satu. Dengan posisi yang nyaman depan layar proyektor pas, tapi tetap saja tak bisa melihat UAS secara langsung. Meski dengan keraguan, atau ancaman lainnya. Kami terus berusaha, akhirnya kami bisa melihatnya secara langsung dan lebih dekat, meskipun tak sesuai rencana awal yaitu lantai 2, tapi ternyata kita malah di lantai 3 dengan posisi yang lebih dekat. Terkadang, kita memang harus beranjak dari posisi aman dan nyaman, untuk bisa merasakan posisi yang lebih nyaman dan aman. Improve our self, as good as possible. Never stay stagnan.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar